cost recovery itu, lho

Cost recovery di industri migas  itu lho Berikut ini wawancara imaginer Mat Amat, seorang anggota masyarakat yang mewakili kerisauan masyarakat serta  mentahbiskan  dirinya sendiri sebagai pengamat industri migas dengan MasPurwanto, seorang praktisi perminyakan tangguh yang telah kenyang dengan asam garam industri migas yang kadar integritas dan kapabilitasnya telah teruji dan lolos ujian kawah candradimuka, candradisamping, candradiblakang seputar industri migas, terutama dalam kaitannya dengan cost recovery yang belakangan ini gencar di perbincangkan.  Mat Amat (Tanya –T): MasPurwanto, sebagai seorang pengamat, saya mengamati betapa akhir akhir ini ramai mengemuka di koran-koran, dan diperbincangan berbagai kalangan bahwa cost recovery di industri pengeboran migas itu membubung tinggi, hingga Pemerintah terpaksa membayar cost recovery yang sangat besar ke para Kontraktor asing itu. Bukankah sebaiknya dana besar itu lebih baik digunakan untuk membantu masyarakat kalangan bawah yang belum lepas dari badai krisis multidimensi berkelanjutan ini? (Mat Amat memulai serangannya dengan gaya pengamat intelektual yang sangat prihatin dengan nasib masyarakat bawah) MasPurwanto (Jawab-J) : Mat Amat, sampeyan itu keliru. Pemerintah tidak pernah membayar cost recovery. Cost recovery itu hanyalah sebuah peristilahan yang khas di dunia migas yang menggunakan kontrak bagi hasil antara Pemerintah dengan para kontraktor di suatu wilayah kerja pertambangan migas. Cost recovery adalah tata cara pengembalian atas biaya operasi yang telah terlebih dahulu dikeluarkan Kontraktor, dimana pengembaliannya adalah dari hasil migas yang di dapat dari wilayah kerja pertambangan tersebut. Ini lebih kurang adalah adaptasi dari pola kerja sama antara pemilik lahan (Pemerintah) dengan pemilik modal (Kontraktor), seperti pada jaman majapahit tempo doeloe dimana pemilik lahan mengontrakkan lahannya untuk dikerjakan Kontraktor, dan biaya untuk penggarapan lahan dimaksud hanya akan diganti dengan hasil bumi yang diperoleh. Kemudian sebagai upah penggarap, dari hasil sisa setelah diperhitungkan biaya menggarap, oleh pemilik lahan diberikan sebagian kepada penggarapnya – lagi lagi dalam bentuk hasil bumi itu. Artinya apa ? Apabila terjadi gagal panen, maka seluruh tenaga, biaya dan waktu yang telah dikorbankan oleh petani penggarap akan sia-sia saja dan tidak ada kewajiban pemilik lahan untuk menggantinya. T : Nah, kalau duduk perkaranya demikian, kenapa harus diserahkan kepada para Kontraktor asing? Tidakkah lebih baik urusan garap menggarap itu diserahkan kepada masyarakat sekitar? Hitung-hitung membuka lapangan kerja. Pemerintah kan tinggal kasih modal saja J : Memang, idealnya demikian. Namun jangan lupa, industri migas itu adalah industri yang padat modal, menggunakan tehnologi tinggi serta menuntut dukungan keahlian profesional yang tinggi. Selain itu, industri migas adalah industri jangka panjang, yang memerlukan stamina permodalan yang besar, serta harus mampu dan mau menanggung resiko. Pemerintah berfikir adalah lebih baik lahan ini dikerjasamakan saja dengan pihak lain, sementara sumber daya dan dana yang terbatas dapat digunakan untuk sektor sektor lainnya.T : Bukannya membela pemberdayaan lokal, malah anda terkesan mengindoktrinasi kita atas nama kepentingan pemodal. Bukankah lebih baik kita berdikari? Berdiri di atas kaki sendiri. Piye tho iki Mas? ( Mat Amat semakin berapi-api)J: Ini sebuah pilihan rasional Mas.  Faktanya kita hidup di dunia dengan settting alam globalisasi saling ketergantungan.  Pemerintah  harus cermat mengalokasikan sumber daya yang ada untuk mendapatkan return optimal dari pilihan portofolio yang dipunyainya. Pemerintah perlu untuk memilah dan memilih sektor-sektor yang perlu dikerjasamakan dengan pihak lain untuk mengalihkan resiko investasi. Kita perlu mengundang investor, baik lokal maupun asing, untuk menanamkan modalnya disini. Kerja sama atau kemitraan dan sinergi positif perlu dibangun dengan mereka, seraya tetap mengawasi dan mengendalikan operasionalisasinya. Kata kuncinya di sini adalah kita yang mengundang investor. Mereka adalah tamu. Tuan rumah yang baik dan beradab akan menghormati tamunya. Investor itu juga adalah mitra kita. Mitra dalam hal pengoptimalan sumberdaya alam  untuk berbagi keuntungan dan manfaat. Kepercayaan atau trust adalah kata kunci dalam bermitra. Sedangkan di sisi lain, sebagai bagian dari tanggungjawab konstitusionalnya, Pemerintah melalui lembaga dan institusi yang dibentuknya perlu mengatur dan mengawasi para mitranya untuk memastikan bahwa mereka bekerja sesuai aturan Kontrak yang telah disepakati. Investor adalah tamu, yang juga merupakan mitra sekaligus pekerja kontrak di bumi kita. Kita harus perlakukan mereka secara proporsional.  Jadi siklusnya begini : Investor membawa investasi, investasi menghasilkan minyak dan gas. Pengeluaran investasi dan biaya operasi dikembalikan ke investornya – yang diistilahkan cost recovery -, dan hasil investasi tersebut kita nikmati bersama. Jadi cost recovery adalah cerminan atau indikator keberhasilan suatu investasi. Bahkan cost recovery itu sendiri, pada dasarnya adalah investasi,   T: Nah, bukankah ini semacam statement bersayap ?J: Sama sekali tidak kawan. Saya ingin tegaskan di sini, bahwa cost recovery pada dasarnya adalah investasi yang telah berhasil. Semakin berhasil kita mengundang investasi untuk kegiatan pertambangan ini, semakin besar peluang kita untuk mendapatkan penghasilan dari hasil tambang migas, dan tentu saja semakin besar biaya operasi yang dapat dikembalikan (cost recovery) dari hasil tambang migas itu. Kenaikan cost recovery bisa dipandang  ibarat dua sisi mata uang yang sama. Dari satu sisi kenaikan cost recovery merupakan sebuah indikator kepercayaan investor menanamkan modalnya di sini, namun di sisi lain dapat dipersepsikan sebagai beban yang akan mengurangi bagian bagi hasil migas Pemerintah dari hasil kegiatan usaha hulu tersebut. Untuk itulah Pemerintah menerapkan kaidah-kaidah dan aturan yang ketat, terstruktur dan firm dalam pengaturan industri yang penuh resiko ini. (MasPurwanto menjelaskannya secara gamblang dan tetap dengan intonasi terjaga).T: Memangnya seberapa beresiko sih industri migas itu ?J : Dari tata waktu saja, diperlukan antara 6 – 10 tahun masa eksplorasi untuk menentukan apakah suatu wilayah kerja dapat dilanjutkan ke tahapan komersial untuk pengembangan lapangan di wilayah kerja tersebut. Biaya yang dikeluarkan selama masa eksplorasi itu bisa mencapai ratusan juta dolar Pak. Apabila berdasarkan kajian teknis dan ekonomis tidak memungkinkan untuk melanjutkan ke tahapan pengembangan lapangan, maka investasi masa eksplorasi yang ratusan juta dolar tersebut akan terbuang dan hilang percuma.  Hanya apabila dimungkinkan untuk tahapan pengembangan komersial,  ada kesempatan bagi si Kontraktor untuk mendapatkan pengembalian (to recover) investasi awal tadi. Dari segi teknis, faktor alam, ketidakpastian prediksi kandungan hydrokarbon yang mungkin dapat dieksploitasi, serta updating teknologi yang teranyar merupakan tantangan tersendiri dalam pengusahaan lanjut suatu lapangan/ ladang migas. Satu sumur eksplorasi saja, biayanya bisa puluhan juta dolar, tergantung kondisi geologis, alam serta kedalaman yang diperlukan untuk mencapai target formasi migas. Itupun belum tentu berhasil menemukan cadangan migas. Bisa-bisa dari sekian sumur yang dibor, hanya beberapa saja yang dianggap potensial dapat dieksploitasi, untuk dilanjutkan ke sumur produktif.T: Ok lah kalau dari sisi itu, tetapi sekali menemukan cadangan migas, kan tinggal panen dan minyak mentah akan menguncur sendiri ke permukaan bumi. Apa masih perlu biaya besar ?J : Begini mas., kandungan reservoar di perut bumi sana jangan dibayangkan seperti telaga atau kolam lumpur yang mengandung minyak. Minyak bumi itu berada di antara pori-pori bebatuan, yang dengan  daya rembes (permeabilitas) tertentu, terjebak dan  terkonsentrasi pada suatu reservoar dalam wadah dinding bebatuan sedemikian tebal. Kemudian karena faktor tekanan (pressure) di kedalaman perut bumi sana, minyak bumi itu  bercampur dengan air formasi dan garam bisa dialirkan ke atas melalui pipa-pipa produksi (natural flow). Namun, lama-lama seiring dengan tersedotnya minyak ke permukaan bumi, tekanan atau daya dorong dari bawah melemah, sehingga diperlukan upaya lain seperti pemanasan reservoar, atau injeksi air atau injeksi campuran kimia tertentu untuk mengencerkan kandungan formasi dan memperbesar rekahan pori bebatuan. Ini biayanya sangat besar, puluhan juta dolar mas.  Selain itu, sumur-sumur produksi harus  juga dirawat, karat-karat yang menggerogoti pipa-pipa harus dicek, belum lagi fasilitas produksi, pemrosesan hingga pengangkutannya. Dan karena sifatnya yang mudah meledak dan terbakar, diperlukan peralatan yang  ekstra prima untuk mencegah adanya kecelakaan diri, fasilitas maupun lingkungan selama proses eksploitasi. Pertambangan migas kita sudah hampir seratusan tahun. Banyak diantaranya adalah lapangan-lapangan tua. Produktivitas lapangan-lapangan tua ini semakin hari semakin rendah. Itu adalah normal dan penurunan alamiah saja. Untuk memaintain atau setidak-tidaknya mengurangi laju penurunan produksi diperlukan biaya yang semakin besar. Di sini paradoksalnya. Di satu sisi hasil produksi semakin menurun, di sisi lain biaya mengeksploitasinya semakin besar. Mohon maaf, para pengamat akan teriak, koq kenapa cost recovery meningkat sementara hasil produksi migasnya menurun. Mereka lupa, ini ibarat mobil tua yang beranjak senja. Biaya perawatan semakin besar, namun kenikmatan berkendara semakin berkurangT: Baik, tetapi bukankah seiring dengan harga minyak yang tinggi seluruh faktor biaya tadi dapat tertutupi? J: Saya senang dengan angle berfikir Saudara sekarang. Bukan cost recovery yang semestinya kita kuatirkan. Tetapi adalah seberapa banyak yang kita bisa dapat  untuk setiap dolar yang kita investasikan. Ini yang disebut revenue to cost recovery ratio. Artinya perbandingan antara hasil yang diperoleh dengan biaya untuk mengeksploitasinya.  Seiring dengan naiknya harga minyak mentah di pasaran dunia, harga-harga alat-alat produksipun meningkat tajam. Lima tahun yang lalu, ketika harga minyak mentah masih dua puluh dolaran per barel, sewa peralatan menara bor (rig) masih berkisar tujuh puluh ribu dolaran per hari., dewasa ini, ketika harga minyak bertengger di enampuluh dolaran per barel, sewa rig sudah membubung hingga dua ratus ribu dolaran per hari.  Faktor faktor produksi lain, seperti chemical, bahan bakar, bahan baja semua membubung tinggi. Namun demikian, catatan statistik menunjukkan dalam periode empat tahun terakhir, revenue to cost recovery ratio kita bergerak naik, dari 3.6 kali menjadi 5.6 kali. Artinya apa? Sekalipun faktor produksi meningkat harganya, namun margin yang diperoleh dari industri migas ini justru semakin baik. T: Kalau begitu concern kita seyogianya dimana mas ?J:Saya telah jelaskan diatas, investasi puluhan juta dolar, tentu kalau sudah berhasil menemukan migas, akan dikembalikan/ dipotongkan secara bertahap dari hasil tambang migas yang diperoleh. Memang, kita tidak boleh terlena, untuk memastikan bahwa hanya biaya yang relevan dan terkait dengan usaha pertambangan migas itulah yang dapat dikembalikan (direcover). Untuk itulah pengawasan, pengendalian dan pembinaan di sektor ini dilakukan secara berlapis. Pemerintah melalui BPMIGAS mengontrol program kerja dan anggaran tahunan para Kontraktor, rencana pengembangan lapangan, dan otorisasi untuk pembelanjaan investasi Kontraktor. Kemudian, instansi Pemerintah yang berwenang juga melakukan audit atas pelaksanaan Kontrak itu.  Bandingkan misalnya dengan penanaman modal di sektor lain, sepenuhnya diserahkan kepada investor dan pengusahanya untuk merencanakan dan mengendalikan kegiatannya, kita hanya berkepentingan dengan pelaporan hasil usahanya dan pajak-pajak yang dihitungnya. Namun demikian, perlu diingatkan, janganlah juga kita terjebak dengan pikiran jangka pendek untuk menekan rasio pertumbuhan cost recovery semata dengan mengabaikan tujuan jangka panjang.T: Apalagi maksudnya itu?J: Kita tahu, minyak dan gas bumi adalah sumber daya tidak terbarukan. Artinya,  cadangan migas yang telah dieksploitasi tidak akan muncul kembali. Ibarat air yang disedot dari kolam, kalau air tersedot habis, ya kolamnya kering. Pemerintah harus dan tetap mendorong para kontraktor migas itu untuk melakukan upaya eksplorasi baru untuk menemukan cadangan migas baik di wilayah kerja yang sudah berproduksi maupun mengundang para Kontraktor lain  di wilayah wilayah kerja (blok) baru lainnya. Telah saya jelaskan di atas, upaya eksplorasi membutuhkan biaya besar.  Seperti siklus di atas, investasi yang ditanamkan dalam suatu blok akan diperoleh penggantiannya (direcover) dari hasil tambang migas dari wilayah kerja tersebut. Ini soal pilihan bijak. Ada pepatah mengatakan… bergurulah kepada semut, yang mengumpulkan makanan pada musim kering dan menyimpannya sebagai bekal pada musim hujan. Artinya, selagi harga minyak bagus, dan ada margin yang mencukupi, Pemerintah justru harus mendorong pada kontraktornya melakukan usaha eksplorasi dan inovasi baru untuk menemukan sebanyak mungkin cadangan migas untuk bekal kita dan generasi yang akan datang. Kuncinya adalah merubah paradigma berfikirT: Paradigma berfikir yang bagaimana, mas?J: Jangan memandang cost recovery itu sebagai beban. Cost recovery harus kita pandang sebagai sebuah investasi. Naiknya investasi di suatu Negara, merupakan sebuah indikator ekonomi yang baik. Ada banyak rentetan manfaat (trickle down effect)nya, seperti pembukaan lapangan kerja, alih teknologi, penggerakan sektor riel di industri pendukung migas, dan .. untuk memastikan penyediaan bekal bagi generasi yang akan datang !!! Yang penting, sepanjang aturan mainnya dalam koridor kontrak dan peraturan perundangan kita patuhi bersama,  kita sudah membantu menciptakan iklim yang kondusif di industri yang sarat modal, penuh resiko  namun menjanjikan ini. Kita menghimbau seluruh pihak untuk berhenti mengeluarkan statement statement yang merupakan negative campaign kepada investor kita yang justru kita perlukan kehadirannya. Serahkan semuanya kepada ahlinya dan perangkat perangkat yang sudah ditetapkan Pemerintah untuk membina, mengawasi dan mengendalikan industri migas ini. Mudah-mudahan kalau semua mengikuti aturan main, tata tentram kertoraharjo bisa tercapai masT: Wah, selain pencerahan yang sampeyan sampaikan, nampaknya terbesit ada keluhan dan curhat dalam statement PakPurwa yang terakhir ini. Memangnya, industri migas ini kurang kondusif iklimnya?. Bukankah industri migas dipandang sebagai komoditi strategis sehingga urusan pengelolaannyapun sepenuhnya berada di tangan Pemerintah Pusat sesuai semangat perudang-undangan dan aturan hubungan hukum Pusat-Daerah kita? Apa masih ada orang yang tidak taat hukum di jaman reformasi ini?J:Itulah pak. Sering orang, atas nama reformasi atau atas nama masyarakat sekitar justru membebani industri ini secara tidak proporsional. Banyak pihak mengklaim dirinya sebagai stakeholder, padahal faktanya hanya snakeholder !!!. Bayangkan mas, pernah hanya karena soal rebutan antar desa mengenai tenaga kerja lokal yang akan digunakan untuk membantu pengeboran, tega-teganya rig diblokir tidak boleh masuk lokasi. Anda tahu kerugiannya? Bisa jutaan dolar. Nah kalau operating cost meningkat karena ini, pihak yang memprovokasi pemblokiran jalan itu  tidak bertanggungjawab. Pada tataran yang lebih tinggi juga sering terjadi hal demikian. Ada suatu daerah – yang atas nama otonomi – mengaitkan pemberian ijin lokasi pengeboran dengan mewajibkan Kontraktor menyimpan satu milyard rupiah per titik pengeboran di suatu bank yang ditentukan kepala daerah yang bersangkutan. Bukankah ini sudah berlebihan? Dimana logikanya, kontraktor atau istilah saya di atas, seorang penggarap harus menyetor sejumlah uang untuk bisa menggarap lahan kita sendiri, sedangkan resiko ketidakberhasilan ditanggung penggarap itu sendiri?. Kemudian, secara legal dan peraturan perundang-undangan, lalu dimana perlindungan industri ini, kalau setiap aparat pemerintahan merasa berhak menafsirkan dan membuat peraturan yang akan membebani industri ini?. Saya tidak bisa bayangkan nanti kalau misalnya sebuah RT memperkenalkan peraturan atas nama masyarakat mewajibkan perusahaan Kontraktor untuk memberikan sejumlah kompensasi tunai atas nama kebisingan atau entah apalah, padahal industri ini sudah mengikuti kaidah-kaidah kesehatan dan keselamatan lingkungan serta amdal misalnya. Atau satu unsur Pemda tertentu  atas nama kreativitas tertentu melakukan pemajakan (untuk tidak menyebut pemalakan) tambahan atas setiap barel minyak yang dihasilkan, padahal dalam aturan Kontrak dengan Pemerintah Pusat telah jelas, komposisi pembagian hasil masing-masing pihak. Dimana kepastian usaha dan berusaha itu ? Anda tahu, dengan campaign negatif itu, bagaimana persepsi para investor dan calon investor sekarang?   T: Bagaimana itu?J: Indonesia cenderung menjadi negara yang xenophobic (serba alergi dan memusuhi yang asing), iklim usaha cenderung tidak business-friendly, ada pula yang menganggap bisnis itu identik dengan penipuan, dan lebih menonjolkan untuk memerah daripada membesarkan bisnis. Pada hal kita ini bersaing untuk mendapatkan investasi dengan negara lain. Vietnam, China, Malaysia adalah pesaing kita.  Dan modal itu akan hinggap pada aroma keharuman iklim investasi yang memberi kepastian berbisnis dan berusaha. Ini bukan kata klise Pak. Marilah seyogianya Pemerintah, masyarakat, pengamat termasuk pers dan para pelaku bisnis bergandengan tangan, bahu membahu dalam nuansa kemitraan positif demi kemaslahatan bersama.T: Saya jadi malu ini Mas. Ketika Pemerintah Pusat berusaha menampilkan etalase iklim berusaha yang sudah kondusif kepada para tamunya dari manca negara, koq malah aparat di bawahnya kurang mendukungJ: Marilah optimis. Anggaplah kita ini baru belajar berdemokrasi. Saya percaya, dengan penjelasan di atas, sampeyan itu, sebagai pengamat yang suaranya didengar masyarakat, dapat membantu dengan tulus dan ikhlas, untuk memberi pencerahan bahwa soal cost recovery itu adalah hal biasa saja, perangkat aturan mainnya sudah jelas. Jangan kita jadikan industri yang memberi harapan banyak, serta yang menyumbang signifikan ke APBN kita hanya dijadikan mainan genit statement kosong dan komoditi politik jangka pendek sesaat ya mas. Lidah yang tajam adalah ibarat pisau beracun yang penawarnya susah dan lama ditemukan. Jangan kita biarkan mereka mempermainkan emosi rakyat demi popularitas dan agenda sendiri.  Saya percaya kebajikan  dan integritas sampeyan itu lhoT&J: :. Semoga ya … (Keduanya berjabatan tangan dengan erat, sementara Mat Amat bathinnya bergelora  untuk segera meluruskan dan mengembalikan mereka-mereka yang penyesat, tersesat atau disesatkan  ke jalan yang benar  

Jakarta,         Desember 2006

Sampe L. Purba

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s