Hasta brata  versus Cakra Pembangunan

Sampe L. Purba

Prolog – en Log log

Setiap rezim memerlukan mantra atau slogan. Mantra atau slogan ini diperlukan sebagai kompas penanda dan pembeda kebijakan politik, sekaligus pengokoh dan pembenar arah yang akan ditempuh penguasa jagat rezim politik tersebut. “Revolusi” adalah mantra sakti Rezim Bung Karno, adapun Suharto menggunakan mantra Pembangunan. Di masa Bung Karno, apapun dapat dilibas jika bertentangan dan dipandang sebagai musuh “Revolusi”. Dan revolusi tidak selesai-selesai. Setali tiga uang di masa Suharto. Sampeyan, dan tulang belulang leluhur panjenengan dapat saja digusur atau ditenggelamkan seperti waduk Kedung Ombo, atas nama Pembangunan. Sementara Habibie, seorang ikon “high tech”, berhubung hanya bertakhta pada rezim peralihan, belum sempat membuat jargon. Namun sentuhan high tech nya sangat kental dalam gaya kepemimpinannya. Lihatlah pada pidato pertanggungjawabannya di MPR. Beliau persis seperti di ruang kuliah, memberikan presentasi angka-angka statistik jumlah demonstrasi anak-anak mahasiswa yang ditanganinya selama peralihan reformasi, atau jumlah deretan Undang-undang yang diselesaikannya, lengkap dengan power point grafis yang dipantulkan melalui lensa in fokus.

Gus Dur, penguasa berikutnya, yang dipandang pengejawantahan civil society, juga belum sempat berkiprah banyak. Namun, bak Titisan Prabu Destaratha yang Agung dari Hastina Pura, beliau dengan mata tertutup berhasil membuka mata batin bangsa ini untuk menghargai pluralisme, demokrasi dan humanisme. “Gitu aja koq repot” adalah ujar-ujar dan sublimasi wejangan saktinya. Ketika terjadi geger reformasi, dimana beliau mau dilengserkan MPR, langsung didahuluinya dengan pre emptive strike membubarkan MPR. Namun ketika upaya itu tidak berhasil, dengan legowo, di depan seluruh bangsa, hanya dengan bercelana pendek, dari beranda Istana, yang merupakan salah satu simbol martabat negara, dia mengangkat tangan menyapa pendukungnya dan menyapa dunia sambil menyampaikan salam perpisahan. Ya, hanya dengan bercelana pendek!. Gitu aja koq repot. ,

Megawati, yang diasah, diasuh dan diasih Gus Dur dengan sepenuh hati, ibarat Prabu Yudisthira di bawah asuhan Destrarata, tidak membuat jargon. Sebagai anak biologis Bung Karno, Mega hanya meminjam salah satu salam sakti ideologis Bung Karno, yakni sebutan ‘Merdeka’! Dalam buku Sukarno penyambung lidah bangsa, sebutan Merdeka itu diciptakan Bung Karno adalah senapas sejiwa dengan kobaran api “Revolusi”. Itu adalah ucapan tegur sapa, untuk menggantikan ‘Selamat Pagi’, misalnya yang merupakan gabungan dari sapaan Arab “Assalam uAlaikum” dengan sapaan Barat “ Good Morning”. Jadilah dengan kreativitas bangsa menjadi “Assalam Morning”, atau “Selamat Pagi”.

Kalau Habibie, Gus Dur dan Mega belum sempat mencipta ideologi jargon baru, dapat dimaklumi, karena ketiganya total jenderal hanya berkuasa selama 6 tahun atau rata-rata 2 tahun per Kepala. Hal ini berbeda dengan Pengageng berikutnya Pak SBY. Pemimpin yang satu ini memang memesona baik dalam tutur kata, penampilan maupun  gaya hidupnya. Beliau tidak perlu disindir sebagai  Presiden Tebar Pesona, karena memang dari sono nya beliau menyimpan dan menyebarkan aura pesona dan prabawa bak titisan langsung turunan prabu Brawijaya yang menyihir urat eros dan emosi kaum hawa seperti  dalam sinetron telenovela latinos. Beliau mencerminkan pesona seorang pria sejati, yang mampu mengguncang, menggoyang dan mengukuhkan pucuk kalbu. Ibarat Arjuna yang mampu meluluhkan wanita pemberontak mandiri berkulit terang seperti Srikandi, atau wanita lemah lembut penurut penuh bakti tanpa tanya berkulit gelap bak dewi Sumbadra.  Beliau orang yang cermat dan tenang, santun dalam bersikap serta terjaga tutur kata maupun gesture tubuhnya. Beliau juga adalah seorang pendengar yang sabar serta cermat ibarat syech siti jenar yang menyimak suara bisik-bisik sunan bonang di tengah telaga arum.

Menjelang pemunculan beliau sebagai berkah dari kahayangan untuk bangsa nusantara ini, salam saktinya adalah “perubahan”. Change ! [Obama mengadaptasi slogan ini dengan ‘ change we can’]. Selanjutnya, pada periode kedua, salam perubahan berubah total menjadi anti perubahan, yaitu “Lanjutkan”. Dengan salam itu, beliau berhasil di periode ke dua. Mungkin diilhami oleh  jargon revolusi Perancis, “Liberte, Fraternite, Egalite”, beliau memberi misi kepada kabinetnya yang sekarang, dengan rumusan singkat padat tegas, “Prosperity, democracy and Justice”.

Suatu rezim, untuk dapat bertahan, tentu saja tidak cukup hanya dengan memproduksi slogan. Slogan dan kata-kata tidak mengenyangkan perut. Maka slogan harus diturunkan menjadi sebuah konsep, yang selanjutnya dijabarkan menjadi program dan plan action! Rezim Bung Karno, mengisi slogan Revolusi dengan “Berdikari”, yang didetilkan menjadi kedaulatan politik, kemandirian ekonomi dan ketahanan kebudayaan. Lebih lanjut, program tersebut dibungkus lagi dengan slogan lain seperti Manifesto Politik USDEK, JaRek, Vivere veri coloso atau JasMeRah.

Rezim Suharto, di sisi lain mencoba membuat slogan yang diusahakan dalam bahasa Indonesia asli (yang ternyata maksudnya adalah ke sanskret sanskret an – entah kapan pula kita pernah dijajah bangsa sanskriet). Misalnya, Kepribadian dan pola hidup Bangsa harus meneladani Eka PraSetya Panca Karsa. Sifat-sifat bangsa yang baik harus meniru hasta brata atau tujuh kebajikan dan sifat-sifat alam, yaitu : bumi, matahari, bulan dan bintang, serta angin, api, lautan dan sungai. Seluruh sifat tersebut dalam alam pikiran kosmis Jawa kuno, merupakan sifat yang harus dimiliki pemimpin, yang disummary sebagai berikut : “ Raja yang dikasihi para Dewa, diperhamba Bidadari, dekat dengan Pandhita [ulama/orang bijak], dan disegani sesama Raja. Raja yang menguasai pengetahuan luas namun tak merendahkan pengetahuan orang lain, memberi payung siapa yang kehujanan, memberi tongkat orang yang kelicinan, memberi pelita orang yang kegelapan’”.  Menariknya disini, ajaran hasta brata yang disosialisasikan Suharto, konon adalah berasal dari wejangan Sang Begawan Krisna raja Dwarawati kepada Arjuna Sasrabahu dalam lakon wahyu Mangkutharama. Itu lah laku hambening candra, dahana, kartika, kisma, samirana, samodra, surya en tirta.

Menariknya, kalau Suharto mengambil ajian yang sifatnya kodrati dan filosofis abstrak dari wahyu mangkutharama., Pak SBY lebih memilih simbol yang wujudnya kelihatan dan praktis, ya senjata Cakra itu. Kedua-duanya, baik wahyu mangkutharama maupun Cakra adalah senjata dari Begawan Krisna., hanya pemimpin yang satu mengambil sisi abstrak dan filosofis, sementara beliau yang sekarang lebih memaknai dari yang konkrit dan praktis.

Pak SBY memperkenalkan kepemimpinan dengan sifat Cakra, yang beliau mengenalkan istilah “Cakra Pembangunan”

Pilihan senjata ini memberi makna mendalam. Senjata cakra adalah senjata sakti mandraguna yang tidak tertahan apapun termasuk oleh sistem pertahanan balistik dan exocet. Cakra pernah digunakan secara lihai oleh Krisna untuk menunaikan dendam sang Arjuna. Konon kisahnya, ketika Abimanyu anak semata wayang Arjuna tewas di tangan Jayadrata seorang tokoh sakti dari pihak Kurawa, Arjuna meradang untuk membalas dan membunuh Jayadrata hari itu juga sebelum matahari tenggelam. Apabila tidak berhasil, Arjuna akan bunuh diri dengan membakar diri menyusul ananda tercintanya. Mendengar itu Jayadrata bersembunyi hingga di kegelapan malam. Jayadrata  keluar tendanya menyaksikan bagaimana Arjuna akan berharakiri di malam itu. Namun yang terjadi, secepat kilat, panah pasopati Arjuna yang presisinya lebih akurat dari peluru kendali pak Obama, segera menyambar memotong leher Jayadrata di beranda luar perkemahannya di kegelapan itu. Melanggar sumpah kah Arjuna?. Sesungguhnya tidak. Yang terjadi adalah Kresna melepas ke angkasa senjata cakra yang mampu menutupi sinar matahari seperti seolah olah gelap gulita di makan gerhana. Jayadrata dan mitra koalisinya dari Kurawa mengira hari sudah malam, dan Arjuna gagal membunuhnya. Pada hal itu belum jam 6 sore. Belum maghrib. Itu hanya berkat tipuan senjata cakra.

Maka dengan ini, kami himbau kepada lawan maupun kawan beliau dari mitra atau lawan koalisinya, jangan pernah remehkan SBY. Beliau punya cakra. Jangan anda kira beliau pernah kalah, paling jauh adalah mengalah,, yang pada waktunya dengan senjata cakranya serta paduan exocet anak panah pasopatinya, akan segera menghunjam memenggal siapa-siapa yang mengganggu harmoni jagat yang dipercayakan oleh rakyat melalui Pemilu dan legitimasi dewa kahyangan melalui wahyu cakraningrat Prabu Krisna.

Cakra adalah senjata andalan milik Krisna – manusia setengah dewa atau dewa setengah manusia. Cakra adalah seperti panah yang di ujungnya tergantung ‘piaw’ bergerigi.  Krisna adalah merupakan nama sandi Presiden SBY[Tempo, Okt.09]. Ada hal menarik mengenai tokoh Krisna ini. Dalam perang barata yudha dikisahkan bahwa Krisna adalah penasehat spritual sekaligus sais atau penarik kereta perang Arjuna Wiwaha di lapangan padang kurusethra. Dalam perang jaman dahulu, sais sangat berperan dan tidak hanya sekadar penarik kereta kuda. Srategi, stamina dan irama pertarungan lebih dominan ditentukan oleh sais, yang dalam konteks kontemporer dapat diibaratkan perannya seperti navigator sekaligus mekanis dalam balapan F1 di padang Sepang. Krisna sering juga dipandang sebagai dewa Wishnu, penata dan penjaga keseimbangan jagat. Dalam mitologi Jawa, seluruh raja-raja Jawa adalah turunan dan titisan dewa Wishnu, yang diberi amanat ilahi untuk menata dan menoto kehidupan kawula. Wishnu tidak memperoleh kekuasaannya dari rakyat atau manusia. Dalam konteks itulah maka dalam pikiran alam Jawa, seorang penguasa harus memperoleh wahyu cakraningrat untuk dapat menjadi penguasa. Krisna dapat dipandang sebagai sumur dan sumber kebajikan yang memberi dorongan, tuntunan dan penguatan hati yang tawar kepada kesatria Arjuna ketika menjadi ragu menjelang perang tanding dengan saudara seibunya Raden Adipati Karno. Sekalipun berpembawaan tenang, apabila marah, Krisna mampu bertiwikara dan menjelma menjadi mahluk maha raksasa yang dapat mengangkangi gunung mahameru atau segara kidul dalam seayunan langkah.

Di sisi lain, adalah Raden Adipati Karna dari pihak Kurawa yang menjadi lawan tanding sebanding dari Arjuna. Adipati Karna adalah satria sejati, yang mengabdi kepada Negara yang memberinya hidup. Dia adalah tokoh yang mengabdi tanpa reserve kepada Negaranya dan junjungan negara, terlepas bagaimanapun rakyat dan pimpinan negaranya itu. Falsafahnya adalah “dulce et decorum est pro patria mori”. Dia adalah panglima mandala perang kesayangan Prabu Dhuryudhono yang mempertaruhkan darah, keringat dan airmatanya dari ancaman Pandawa bersaudara. Dia tidak memiliki loyalitas ganda, ke negara atau ke ibu kandungnya misalnya. Atau dalam bahasa sekarang, loyalitasnya adalah kepada negara dan pemimpinnya dan bukan kepada partainya.  Kemampuan olah kanuragan dan ilmu panah Adipati Karna seimbang dengan Pesolek Arjuna, sekalipun ilmu perangnya hanya diperoleh berkat mengintip latihan perang-perangan para bangsawan Pendawa dibawah bimbingan guru Drona.

EPILOG

Menarik untuk dicermati, bahwa SBY dipandang atau mengasosiasikan dirinya sebagai Krisna yang satu blok dengan Arjuna. Di sisi lain, Presiden pertama kita Kusno, yang namanya diganti bapaknya mana kala beliau sakit sakitan waktu kecil menjadi  SuKarno, mengasosiasikan dirinya dengan Adipati Karno. Maka tidak lah mengherankan, ketika di abad kontemporer ini, perang tanding barata yudha tersebut terulang kembali dalam pertarungan PilPres antara Mega sebagai turunan Adipati Karno melawan SBY yang dari blok Arjuna. Sejarah Barata Yudha mencatat, gugurnya AdiPati Karno yang membela negara dan prinsip jalan lurus kebenarannya tanpa reserve, disertai dengan semilir keharuman semerbak wewangian surgawi. Para bidadari menyambut kehadirannya ketika moksa. Sebaliknya yang terjadi dengan Arjuna., sekalipun dia menang di perang tanding, tetapi di akhir hayatnya mengalami kesulitan besar untuk mencapai Nirwana. Akan halnya Krisna, dia pulang dengan sedih di akhir perang ke negaranya, karena selama perang, dia telah mengindoktrinasi kelompok Pendawa untuk melupakan persaudaraan tetapi lebih mementingkan pemenuhan panggilan jiwa sebagai kesatria atau samurai, yang memang adalah penumpah dan penghaus darah yang tidak mengenal kompromi. Bahkan dengan strategi lihainya, seorang Krisna mampu membuat tidur panjang  saudaranya Baladewa, seorang pemiliki hati nurani yang mengerti beyond politics, yang sesungguhnya merupakan lawan tanding seimbang dari Khrisna.

Jangan sampai anda-anda dibuat nanti tidur panjang, dan hanya dibangunkan ketika kahyangan telah tertata.

Jakarta, 29 Oktober 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s