hubungan antara bahasa tutur dengan konteks

“Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung”

Hubungan antara bahasa tutur dengan konteks

Sampe L. Purba

Pengantar

Tujuan utama dalam  berkomunikasi adalah agar maksud dari penyampai (komunikator) kepada penerima komunikasi (komunikan) dapat dipahami dgn benar, baik dari sisi konteks maupun substansi, yang dapat disampaikan secara tertulis, lisan atau isyarat. Bahasa  adalah salah satu instrumen dalam berkomunikasi.   Bahasa adalah  suatu sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat untuk berinteraksi serta mengidentifikasikan diri (Abdul Chaer, 1994). Sebagai penada, dalam ilmu kebahasaan dibedakan ke bidang semantik, sintaksis dan pragmatik.

Levinson (1983:21-24). Menjelaskan pragmatik dalam dua hal, yaitu pertama,  “Pragmatics is the study of the relation between language and context that are basic to an account of language understanding”. Ini mengaitkan pemahaman suatu maksud dgn asumsi bhw pendengarnya telah telah memahami secara umum maksud dan konteks dari pembicaraan. Kedua, “Pragmatics is the study of the ability of language users to pair sentences with the contexts in which they would be appropriate”. Pengertian ini lebih ditekankan kepada kaitan dari bahasa tutur yang disampaikan dengan konteksnya.

Aspek pragmatik dalam bahasa tutur

Bertititik tolak dari pemahaman di atas, maka agar maksud penyampaian maksud tidak bias makna, adalah penting untuk lebih memfokuskan pada perspektif audiences/ komunikannya dibandingkan dengan komunikatornya. Suatu ungkapan tidak bebas nilai dalam penafsirannya. Dapat bermakna positif, negatif atau netral. Peri bahasa di atas dapat digunakan sebagai contoh. Dalam masyarakat perantau, misalnya orang Minang atau orang Batak, pepatah tersebut akan diartikan secara positif sebagai sikap hidup, pandangan dan peri laku untuk menyesuaikan dengan kultur atau masyarakat setempat di mana kita sedang bernaung. Kita harus lebih menggali dan meng”absorb”, nilai-nilai lokal dan melakukan penyesuaian elastis terhadapnya untuk menjaga harmoni dan keseimbangan. Pepatah batak yang relevan dgn pepatah tsb adalah :” sidapot solup do na ro”.

Namun apabila pepatah tsb disampaikan ke masyarakat yang memegang nilai-nilai kesetiaan lokal dengan mobilitas vertikal rendah, spti masyarakat agraria di pedalaman., nilai ungkapan tsb dapat menjadi negatif atau peyoratif. Dia akan dapat dimaknai seperti kehilangan prinsip, jati diri dan kesetiaan yg segera dileburkan berdasarkan tuntutan sosial setempat.

Di kalangan profesional, makna itu menjadi netral. Sebagai contoh, seorang pemain sepak bola idola satu klub, yang apabila berpindah kepada klub saingan bebuyutannya, harus membela secara profesional klub baru tersebut, dan akan dipandang wajar, positif bahkan oleh pengidolanya. Cristiano Ronaldo, seorang icon-pahlawan-idola  di Manchester United, yang pindah ke klub Real Madrid, dalam laga di lapangan Manchester United baru-baru ini, mencetak gol ke bekas klub lama (MU) yang membesarkannya. Hal tersebut dapat diterima komunitas masyarakat MU sebagai bagian dari akuntabilitas dan integritas profesionalnya, sekalipun menyakitkan bagi klub kebanggaan kotanya.

Agar tidak bias, kearifan dan pemahaman budaya lokal harus dimiliki oleh komunikator. Filem Naga Bonar, yang dibintangi aktor cerdas Deddy Mizwar misalnya, mengambil setting peristiwa di daerah masyarakat Batak. Dialog, dialek, gaya tutur dan suasana yang dibangun adalah sarat dengan nuansa dan cerminan masyarakat Batak. (misalnya martandang dengan membawa gitar dsb). Namun filem tsb menjadi sedikit ‘hambar’ bagi masyarakat Batak, karena salah satu tokoh pentingnya dinamai ‘B*jang’, yang maaf … adalah suatu pantangan besar diucapkan di masyarakat, karena itu berarti alat kelamin wanita. Penggunaan kata tersebut, selain disalahpahami bahkan dapat menimbulkan gesekan dan konflik penistaan derajat bagi objek atau masyarakat komunikannya.

Penutup

                      Bahasa – dalam dimensi pragmatik bahasa tutur, agar dapat dimaknai secara substansial dan konseptual secara tepat, harus selalu memperhatikan konteks. Bahasa – seperti instrumen budaya lainnya – tidak bebas nilai. Pemilihan dan peletakan rangkaian kata, bunyi, kalimat, gesture dsb dalam bahasa tutur harus tetap memperhatikan kearifan lokal.

 

Jakarta, 23 April 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s