APEC : Proksi perang raksasa ekonomi global di kawasan Asia Pasifik

APEC : Proksi perang raksasa ekonomi global di kawasan Asia Pasifik

Sampe L. Purba

Menjelang pertemuan tingkat tinggi APEC (Asia-Pacific Economic Cooperation) di Bali selama seminggu di bulan Oktober ini, ada beberapa hal yang memerlukan refleksi. APEC adalah kerja sama ekonomi kawasan Pasifik yang diprakarsai tahun 1989 oleh Negara-negara maju di kawasan, seperti Amerika Serikat, Australia dan Jepang. Pada awal berdirinya APEC mendapat penentangan dari beberapa negara utama di kawasan ASEAN terutama oleh Malaysia di bawah komando PM Mahathir, yang memandang bahwa Negara-negara Asia Tenggara belum memiliki kesiapan infrastruktur dan fundamental ekonomi untuk bersaing dengan level playing field yang sama dengan negara-negara maju. Malaysia tidak ingin kawasan ini hanya menjadi pasar empuk bagi negara maju, semetara masyarakat dan pengusaha domestik hanya akan menjadi  penonton di negeri sendiri. Malaysia lebih menghendaki kaukus kerja sama ekonomi Asia Timur. Namun, ide Malaysia ditentang oleh Amerika Serikat dan Jepang, dengan meminjam tangan Pak Harto yang disegani di Asia Tenggara dengan sabdanya yang terkenal  “suka tidak suka, siap tidak siap, kita harus menghadapi globalisasi”.

Dalam deklarasi Bogor  tahun 1994 ditetapkan 11 butir tujuan yang disadari sangat ambisius (kata ambitious ini secara eksplisit ada dalam butir deklarasi nomor 10), yang tujuannya adalah untuk memperkuat sistem perdagangan multilateral yang terbuka, mendorong liberalisasi perdagangan dan investasi di Asia – Pasifik, dan mengintensifkan kerja sama pembangunan Asia Pasifik. Pada waktu itu ditetapkan, implementasinya di negara-negara maju mulai pada tahun 2010, sedangkan di negara-negara berkembang mulai tahun 2020.

Tujuan utama APEC  adalah untuk meningkatkan liberalisasi dan fasilitasi perdagangan, investasi di kawasan Asia Pasifik, melalui antara lain standardisasi produk maupun jasa, pengurangan subsidi, kemudahan perizinan dan lalu lintas barang maupun jasa, serta peningkatan keamanan yang kondusif seperti dari lalu lintas perdagangan ilegal, penyelundupan orang maupun barang, serta ancaman terorisme.

Sebagai sasaran antara dan sarana latihan pembelajaran menunggu membanjir membahananya liberalisasi Asia Pasifik 2020, Negara-negara ASEAN pada tahun 2015 telah menetapkan berlakunya Asean Economic Comunity (AEC), atau masyarakat ekonomi asean. AEC merupakan integrasi ekonomi regional sepenuhnya, dengan karakteristik utama, a). Basis produksi dan pasar tunggal terintegrasi, b.) kawasan ekonomi dengan kompetisi yang tinggi, c.) kawasan pengembangan ekonomi dengan perlakuan yang sama, dan d.) kawasan yang sepenuhnya diintegrasikan dengan perekonomian global.

Indonesia sebagai tuan rumah APEC 1994 di mana yang untuk pertama kalinya disepakati gagasan-gagasan liberalisasi perdagangan dan investasi di kawasan, tampaknya memiliki beban psikologis untuk memastikan komitmen tersebut berjalan dengan baik. Dalam forum-forum pertemuan regional, Indonesia tidak pernah menyatakan keberatan atau penentangannya atas skedul implementasi berlakunya perdagangan bebas, di tengah ketidaksiapan infrastruktur fisik maupun aturan hukum serta pelaku bisnis yang ada.

Saat ini anggota APEC terdiri dari 21 Negara (atau Pemerintahan entitas ekonomi berdaulat), yang merepresentasikan sekitar 40% penduduk dunia, 54% pendapatan domestik kotor, dan 44% nilai perdagangan global.

Kekuatan indikator ekonomi utama dan posisi daya saing Indonesia dibandingkan dengan Negara-negara yang menjadi saingan Indonesia di pasar APEC adalah sebagai berikut : (sumber http://www.heritage.org/index/country)

Negara Jumlah Penduduk (juta jiwa) Gross Domestic Bruto Pendapatan per Kapita Arus Investasi Langsung (FDI)
USA 311.9

$15.1 T

$ 48.387

$ 226.9 B

RRC 1.300

$ 11.3 T

$ 8.382

$ 124 B

Jepang 127.8

$ 4.4 T

$ 34.740

$ (1,758 M)

Korea Selatan 49

$ 1.6 T

$ 31.714

$ 4.7 B

Australia 22.7

$ 914.5 B

$ 40.234

$ 41.3 B

Indonesia 241

$ 1.1 T

$ 4.666

$ 18.9 B

Malaysia 28.7

$444.3 B

$ 15.568

$ 12 B

Vietnam 89.7

$300.0 B

$ 3.359

$ 7.4 B

Singapore 5.3

$314.9 B

$ 59.711

$ 64 B

Thailand 64.1

$ 602.1 B

$ 9.396

$ 9.6 B

Ikhtisar tabel di atas memberikan beberapa clue (petunjuk), sebagai berikut : Komposisi arus investasi langsung (foreign domestic investment) terhadap produk domestik bruto, di Negara-negara maju sangat kecil, tidak sampai satu persen., bahkan di Jepang angkanya negatif. Itu menunjukkan bahwa Negara-negara maju tidak terlalu berkepentingan dengan masuknya investasi asing di negaranya, sebaliknya menginginkan kemudahan berinvestasi di Negara lain. Sebaliknya, negara-negara berkembang seperti Indonesia, Malaysia, Vietnam, memiliki angka perbandingan relatif investasi langsung ke pendapatan domestik bruto di atas 20 kali lebih tinggi dibandingkan dengan negara maju. Hal ini menunjukkan bahwa Negara-negara berkembang sangat tergantung pada komponen investasi asing untuk mendongkrak perkembangan ekonominya.

Persaingan yang tinggi antar sesama negara berkembang untuk menarik investasi asing, akan membuat negara-negara tersebut berlomba-lomba untuk menarik investasi mulai dari yang sifatnya fundamental seperti penyiapan dan perbaikan infrastruktur dasar, peningkatan sarana dan prasarana ekonomi, perbaikan sistem hukum dan kepastian berusaha, peningkatan kemampuan sumber daya manusia lokal, hingga kepada kebijakan yang bersifat instan, jangka pendek, reaktif dan agak murahan, seperti mengobral kemudahan perizinan, pemberian insentif fiskal, perpajakan dan kepabeanan kepada modal asing, pembukaan keran impor seluas-luasnya kepada produk asing dan sebagainya. Dengan kata lain, tujuan liberalisasi perdagangan dan investasi tersebut terutama adalah untuk mengakomodir kepentingan negara-negara industri besar dan maju. Sementara negara-negara kecil yang juga ada terbersit manfaat seperti pembukaan lapangan kerja domestik padat karya, lebih merupakan negara sasaran atau negara umpan (bating countries) yang saling memakan.

Ditinjau dari sisi daya saing, berdasarkan Global Competitiveness Index tahun 2012, index daya saing Indonesia, hanya nomor 50, berada di bawah Thailand (38), Malaysia (25), Brunai (28), Singapore (2), Jepang (10), Korea Selatan (19), Cina (29), USA (5) . Global competitiveness index, yaitu Parameter daya saing yang dibuat oleh World Economic Forum, meliputi 12 pilar yaitu kelembagaan, infrastruktur, lingkungan makro ekonomi, kesehatan dan pendidikan dasar, pendidikan tinggi dan pelatihan, efisiensi pasar barang, efisiensi pasar tenaga kerja, pengembangan pasar uang, kesiapan teknologi, besar daya serap pasar, kecanggihan bisnis dan inovasi. Indonesia masih jauh di bawah negara-negara lain di kawasan, termasuk negara Asean sendiri. Dalam tahun 2013, Indonesia melompat ke posisi nomor 38. Hasil ini sangat fenomenal dan mendapat pujian dari lembaga-lembaga keuangan dunia. Semoga saja peningkatan tersebut adalah karena peningkatan yang sifatnya fundamental, dan bukan karena obral kebijakan yang menyediakan karpet merah untuk investasi asing di Indonesia yang mendesak dan meminggirkan daya saing pelaku bisnis lokal.

Amerika Serikat memandang kawasan Asia Pasifik adalah masa depan pertarungan strategisnya di abad 21. Pentagon menyampaikan bahwa pada tahun 2020 kekuatan armada militer strategis akan dipusatkan di Pasifik yang ditandai dengan penempatan kekuatan armada lautnya 60% di kawasan ini. Amerika Serikat khawatir dengan geliat raksasa ekonomi Cina yang mulai mendominasi dunia. Strategi penghempangan (containment strategy) Amerika Serikat dari sisi ekonomi adalah dengan mengajak negara lain di kawasan yang merupakan pesaing tradisional Cina seperti Jepang, Taiwan, membuka dialog dan kemungkinan dengan Negara lain yang sebenarnya di luar kawasan APEC seperti India untuk menjadi Negara potensial APEC ke depan. Selain itu adalah  mencoba mengajak Indonesia dan ASEAN serta beberapa Negara lain di kawasan Pasifik dalam satu forum organisasi regional minus Cina, yang dikenal dengan Trans Pacific Partnership (TPP). TPP  adalah merupakan organisasi regional yang putusannya belum bersifat binding, namun ke depan diharapkan akan seefektif APEC.

Negara-negara ASEAN berdasarkan kajian lingkungan strategis regional dan global memandang tidaklah efektif dan naif untuk mengisolasi Cina dari pertarungan di kawasan Pasifik. Atas hal tersebut, Negara-negara ASEAN secara cerdas mengimbangi usulan TPP, dalam format Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), yang terdiri dari ASEAN + 6 Negara besar di kawasan yaitu Cina, Jepang, India, Australia, New Zealand dan Korea Selatan. Dapat diduga bahwa kedua usulan kerja sama regional ini tidak akan dapat berjalan efektif, karena bersifat mutually exclusirve (tidak mengikutkan) Cina atau Amerika Serikat. Karena itulah medan pertarungan sesungguhnya adalah di APEC.

Indonesia, sebagai Negara besar di kawasan Asia Pasifik, bahkan yang terbesar dan terstrategis dari aspek geografinya, hendaknya dapat memanfaatkan posisi geostrategis ini untuk merumuskan dan memetakan kepentingan vital, nasional dan strategis Indonesia di forum APEC yang sebentar lagi akan berlangsung di Bali, dan tidak perlu terlalu sungkan untuk menyesuaikan kecepatan tahapan globalisasi dan integrasi pasar dengan kesiapan pelaku bisnis di Indonesia untuk menjadi tuan di Negeri sendiri,  tanpa harus menanggung beban psikologis deklarasi Bogor 1994.

 

 

Jakarta,   September 2013

http://www.bisnis.com/apec-proksi-perang-rakhttp://www.bisnis.com/apec-proksi

terbit di Harian Bisnis Indonesia, 25 September 2013

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s