APEC – Pertarungan Hegemoni Keamanan Pasokan Energi

 

APEC –  Pertarungan Hegemoni Keamanan Pasokan Energi.

Oleh : Sampe L. Purba

Meletusnya perang dunia ke dua di palagan Pasifik, dipicu pertarungan penguasaan energi. Amerika Serikat yang cemas akan kemajuan ekspansi bala tentara Jepang yang sudah menguasai Manchuria,. meminta sekutunya Hindia Belanda (sekarang Indonesia), untuk mengembargo minyak ke Jepang. Hanya lima jam setelah Jepang yang frustrasi mengebom Pearl Harbour, GubernurJenderal Tjarda van Starkenborgh menyatakan perang kepada Jepang. Dengan cepat, Jepang fokus menyerang dan menguasai sumber minyak Indonesia, mulai dari  Tarakan, Dumai, Palembang, Cepu dan seterusnya.

Berdasarkan pertimbangan geostrategis, Biak dipilih sebagai salah satu pangkalan utama Amerika Serikat di Pasifik Selatan. Hegemoni kewilayahan hanya dapat dipertahankan apabila suatu negara memiliki ketahanan energi untuk kebutuhan mesin perang dalam jangka panjang. Dalam strategi militer Amerika Serikat, Papua adalah bagaikan kapal induk yang tidak mungkin tenggelam. Itu cerita 70 tahun yang lalu. ES

APEC  – organisasi Ekonomi Negara-negara Asia Pasifik sedang bersidang di Bali. Salah satu fokusnya, adalah masalah energi.   APEC, yang meliputi 21 Negara,  merepresentasikan 44%  perdagangan dunia, 54% produk domestic bruto global, serta menyerap 60% energi dunia. Berdasarkan  laporan APEC working energy group,  prediksi kebutuhan energi akan meningkat secara signifikan  pada tahun 2035. Sekitar 85% diantaranya adalah berupa energy fosil berbasis minyak, gas dan batu bara.  Mengingat kecenderungan minyak bumi yang semakin berkurang secara alamiah, dan adanya kesadaran pengurangan emisi CO2 dari batu bara,  akan didorong pengembangan gas bumi sebagai preferensi yang ramah lingkungan.

Untuk menciptakan jaringan dan pasar energi yang terkoneksi dari kawasan Asia Tenggara, hingga ke jantung Asia Tengah, India dan Asia Barat, berkembang opsi regional untuk mengembangkan Trans ASEAN Gas Pipeline (TAGP)  Di satu sisi ini adalah perkembangan dan prospek ekonomis strategis kerja sama regional untuk monetisasi dan fleksibilitas pasar dari negara penghasil gas seperti Indonesia. Cadangan gas yang melimpah di sekitar kepulauan Natuna, akan menemukan akses yang lebih mudah ke pasar global. Namun demikian, Indonesia perlu mempertimbangkan dan mencermati hal ini secara komprehensif, holistik dan integral.

Indonesia memiliki sumber daya alam gas yang sangat besar di kepulauan Natuna. Dalam salah satu struktur lapangan gas, terpendam sekitar 46 TCF cadangan gas (tiga kali lebih besar dari cadangan gas lapangan Tangguh Papua). Lapangan gas yang telah ditemukan oleh mitra Pertamina tahun 1973 tersebut, hingga saat ini belum dikembangkan, antara lain adalah karena faktor ketidak tersediaan infrastruktur pasar.

Sumber daya alam adalah modal gatra strategis statis (natural endowment) yang dapat dikonversi menjadi modal dinamis untuk pembangunan nasional. Untuk mendukung perekonomian nasional ke depan, Indonesia akan membutuhkan tambahan energi yang besar. Saat ini saja telah terjadi defisit energi di beberapa daerah, antara lain karena ada imbalances antara sumber pasokan dengan konsumen, baik untuk kebutuhan listrik, industri, rumah tangga dan petrokimia. Secara mikro, akan ada godaan untuk skenario pengembangan lapangan gas yang mengutamakan pasar ekspor, yang relatif lebih mudah, harga gas lebih mahal, dan waktu pengembangan yang  lebih cepat dibanding membangun jaringan infrastruktur baru domestik.  Diperlukan visi dan kesadaran bersama antar Kementerian dan Lembaga, untuk  konsep pengembangan energi yang lebih strategis, dan sinergis dengan pengembangan wilayah perbatasan Natuna, yang menunjang kemandirian energi nasional. Sarundajang (2011), menyatakan suatu kawasan yang  merupakan rute perdagangan, pusat sumber daya dan ada isu perbatasan teritorial memiliki nilai geopolitik yang sangat strategis. Kawasan Laut Cina Selatan, dan perbatasan Natuna memenuhi kriteria tersebut.

Sementara itu, di sisi lainTiongkok telah menegaskan klaim teritorial Laut Cina Selatan hingga tumpang tindih dengan negara-negara lain (dot nine), di mana sumber kekayaan alam sangat melimpah. Cina menyadari pentingnya penguasaan Laut Cina Selatan dari sisi geo politis untuk menjamin keamanan energi (energy security) domestik perekonomiannya yang maju pesat. Tumpang tindih klaim tersebut melibatkan enam negara di kawasan. Agak mengherankan Indonesia tidak masuk sebagai claimant states, sekalipun batas garis dot nine yang dibuat Cina meliputi juga sebagian area zona ekonomi ekslusif kepulauan Natuna yang mengandung cadangan energi tersebut.

Untuk pertama kalinya, dalam sejarahnya yang  sudah 45 tahun, para Menlu ASEAN dalam pertemuan regional tahun 2012 di Phnom Penh, Kamboja, gagal merumuskan dan mengeluarkan komunike akhir terkait sikap mengatasi ketegangan atas klaim Cina. Amerika Serikat yang memiliki visi Pasifik akan memindahkan 60% kekuatan armada perangnya ke kawasan ini pada tahun 2020,  memiliki kepentingan strategis di kawasan Pasifik termasuk Laut Cina Selatan.  Kepentingan Amerika Serikat adalah untuk menjaga dan menghempang hegemoni kekuatan raksasa ekonomi Cina, dan juga belajar dari sejarah perang dunia yang lalu.

Indonesia, sebagai tuan rumah pertemuan APEC tahun ini, diharapkan dapat menyikapi hal-hal tersebut di atas secara bijak, dengan mendorong kerja sama regional pengembangan energi di kawasan, dengan tetap mengutamakan kepentingan vital nasional strategis di atas kepentingan maupun harmoni regional.

 

Penulis – Profesional dan pemerhati bisnis global, alumni Lemhannas PPRA 49

Terbit pada Investor daily 2 Oktober 2013

http://www.investor.co.id/energy/apec-pertarungan-hegemoni-keamanan-pasokan-energi/69900

 

             

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s