Peran Militer dalam menghadapi dimensi ideologi ancaman non militer

Kontemplasi Menyambut hari lahir TNI

Peran militer dalam menghadapi dimensi ideologi ancaman non militer 

Sampe L. Purba

Ancaman non militer terdapat dalam berbagai dimensi seperti  ideologi (menentang ideologi Pancasila), politik (seperti advokasi pembangkangan umum atas nama Hak Asasi Manusia), ekonomi (sabotase sarana prasarana ekonomi), sosial budaya (meniupkan isu SARA), teknologi informasi (perang cyber) dan keselamatan umum (penetrasi narkoba).

Ketahanan nasional adalah kondisi dinamis suatu bangsa, meliputi seluruh aspek kehidupan nasional yang terintegrasi, berisi keuletan, dan ketangguhan serta mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi segala tantangan, ancaman, hambatan, serta gangguan dari luar maupun dari dalam, langsung maupun tidak langsung membahayakan integrasi, identitas, kelangsungan hidup bangsa dan negara , serta perjuangan mengejar tujuan nasionalnya.

Prajurit TNI mulai dari Tamtama hingga Perwira Tinggi, dalam sumpah prajurit, butir pertama berikrar “Bahwa saya akan setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.” Dan dalam Sapta Marga, menegaskan Kami Patriot Indonesia, pendukung serta pembela Ideologi Negara yang bertanggung jawab dan tidak mengenal menyerah.”

Ancaman ideologi adalah salah satu ancaman non militer di Indonesia yang kasat mata. Hal tersebut dapat mengguncang, memperlemah dan meruntuhkan integrasi bangsa. Ancaman ideologi mengambil bentuk dalam banyak hal, seperti masuknya nilai-nilai baru, liberalisme, anarkisme, ideologi berbasis agama dan lain-lain.

Penyebaran ancaman ideologi di Indonesia, berlangsung secara konsepsional  dalam penggalangan dan pematangannya. Hal tersebut dilakukan mulai dari cara-cara yang cerdas, halus, sistematis hingga yang keras dan kasar. Cara-cara halus dan cerdas itu antara lain dengan pembentukan opini, penciptaan gaya hidup ekstrim yang menolak modernisme Pancasila, penyebaran buku-buku yang memuji keunggulan ideologi lain, serta mendegradasi muatan nilai ideologi Pancasila. Termasuk dalam cara-cara yang cerdas, adalah perjuangan pada jalur regulasi. Hal ini dimulai dengan tidak diterimanya Pancasila sebagai asas tunggal dalam berbangsa dan bernegara yang diawali dengan TAP MPR No. XVIII/MPR/1998. Pancasila telah terdegradasi perannya dari asas dan ideologi, menjadi hanya semacam common platform. Pancasila telah dipertandingkan, dipersaingkan, dipinggirkan dan ditolak oleh sebagian ormas untuk jadi asasnya.

            Cara cerdas lainnya dalam memasung Pancasila oleh beberapa Ormas dan Organisasi Politik adalah dengan pembentukan opini untuk menyetujui Pancasila sebagai asas bernegara, tetapi menolaknya sebagai asas berbangsa dan bermasyarakat. Ini seperti menempatkan Pancasila pada ruang isolasi hampa, sementara nilai-nilai praksisnya tidak teraplikasi.

Cara-cara sistematis antara lain adalah dengan indoktrinasi melalui sekolah-sekolah tertentu yang tidak mendidik toleransi. Melalui infotainment dibawa ke ruang publik testimoni penonjolan dan pengagungan tokoh publik atau selebriti yang berpindah agama.  Puritanisme praktek keagamaan termasuk dalam hal ini. Sedangkan yang terkait dengan ideologi liberalisme, adalah kebebasan berpendapat tanpa perlu mempertanggungjawabkan pendapat tersebut, mempertontonkan gaya hidup hedonisme, pemujaan terhadap sukses instan, dan lain-lain. Media televisi merupakan sarana efektif yang masuk ke ruang-ruang keluarga, menyemai bibit-bibit ideologi non Pancasila.

Adapun cara-cara yang keras dan kasar adalah dengan pengerahan massa, lengkap dengan atribut, identitas dan orasi  yang menentang dan menantang Pancasila. Dalam kampanye-kampanye politik, baik untuk mendapatkan dukungan simpati maupun untuk mendiskreditkan pesaingnya menggunakan isu SARA yang bertentangan dengan Pancasila.  Dan mendapatkan liputan media !. Media telah berperan efektif menjadi penebar, penyebar dan penyubur  ideologi non Pancasila, atas nama kebebasan informasi dan rating maupun oplah.

Pelemahan sistematis terhadap ideologi Negara Pancasila, telah dan akan tetap berlangsung di depan para Prajurit Sapta Marga, patriot pembela ideologi Negara, tanpa mampu berbuat apa-apa. Hal ini bukan karena Tentara kita tidak cinta atau tidak mampu membela Pancasila. Dalam strategi militer yang efektif, musuh harus dihancurkan sebelum menjadi ancaman. Dan itu bukan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Tetapi kita telah mengebiri peran mereka. Ancaman ideologi digolongkan berkategori ancaman non militer. Sesuai dengan Undang-undang Pertahanan negara no. 3 tahun 2002 Tentang Pertahanan Negara, dalam menghadapi ancaman non militer, yang menjadi leading sector adalah lembaga pemerintah di luar  bidang pertahanan. Dalam hal ini adalah Kementerian Dalam Negeri melalui Dit.jen Kesatuan Bangsa dan Politik. Itupun kewenangannya sangat limitatif dan bersifat koordinatif terhadap Pemerintah Daerah yang memiliki kewenangan pembinaan sesuai dengan Undang-undang 32 tahun  2004 tentang Pemerintahan Daerah.

Sejalan dengan derap globalisasi, pada tahun 2015 akan ada pasar tunggal ASEAN yang terintegrasi ( ASEAN Economic Community), yang selanjutnya disusul dengan integrasi pasar Asia – Pasific (APEC) pada tahun 2020. Indonesia yang mengalami split personality dan kegamangan  ideologis, akan mudah kehilangan jati dirinya, mana kala aliran, isme, dan gaya hidup baru masuk bebas ke relung-relung dan sendi-sendi masyarakat .  

Pelemahan ideologi bangsa, adalah pelemahan salah satu sendi terkuat dalam menghadapi nilai nilai baru dalam persaingan bebas. Apakah kita sadar bahwa berbagai perangkat Undang-undang seperti Undang-undang Pertahanan Negara, Undang-undang Otonomi Daerah dan Undang-undang tentang HAM, dalam beberapa hal telah mengurangi efektivitas lembaga-lembaga Negara termasuk TNI dalam mempertahankan kedaulatan, keutuhan dan keberlangsungan NKRI dari ancaman  ideologi ?. Kita perlu segera berbenah, sebelum terlambat !

 

Jakarta, 4 Oktober 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s