Nasionalisme dan Alergi Bahasa Asing

Sisi lain APEC – menyambut bulan Bahasa

Nasionalisme dan Alergi Bahasa Asing

Oleh : Sampe L. Purba

Internasionalisme tidak dapat hidup subur kalau tidak berakar di dalam buminya Nasionalisme. Nasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak hidup dalam taman sarinya internasionalisme.”  (Ir. Soekarno – Pidato Lahirnya Pancasila).

Bung Karno dalam menggali dan meletakkan dasar negara telah mengantisipasi  munculnya chauvinisme dan nasionalisme sempit, serta sentimen anti asing (xenophobia). Beliau merumuskan visi kosmopolitanisme secara gamblang, di mana harus ada pertautan antara dunia Nasional dengan masyarakat Internasional, ibarat tanaman dengan taman sarinya.

Bahasa yang merupakan sistem dan lambang bunyi adalah instrumen pergaulan dalam berkomunikasi, mengekspressikan diri serta alat integrasi dan adaptasi dengan lingkungan.  Para pendahulu bangsa telah sangat cerdas memilih Bahasa Indonesia – yang bukan bahasa tutur mayoritas di Nusantara, tetapi telah berfungsi sebagai bahasa pergaulan antar bangsa dan daerah – lingua franca. Sumpah Pemuda menggunakan frase “Menjunjung Bahasa Persatuan – bahasa Indonesia”, tidak menyatakan “berbahasa satu.”

Pada era globalisasi, menuju pasar tunggal ASEAN tahun 2015 yang disusul oleh kawasan Ekonomi Asia – Pasifik  APEC tahun 2020,  lalu lintas barang, jasa dan orang akan bergerak bebas antar negara hampir tanpa hambatan. Negara-negara yang tergabung dalam APEC meliputi 21 anggota entitas Ekonomi merepresentasikan 40% penduduk dunia, 55 % Produk domestik dunia, dan 44% nilai perdagangan global. APEC  sangat strategis bagi masa depan Indonesia. Dalam tahun 2012 misalnya, dari 153,1 Milyar dolar ekspor non migas, sebanyak 70,5 Milyar dolar (atau 45%), diekspor ke tujuh negara di kawasan APEC. Mayoritas penggunaan bahasa kawasan Asia Pasifik adalah Bahasa Inggris dan rumpun Bahasa Cina (Tiongkok, Korea dan Jepang). Dari sekitar 2.791 milyar penduduk kawasan,  sebanyak 56% adalah penutur bahasa rumpun Cina, dan 15% penutur aktif bahasa Inggeris.

Negara-negara eks jajahan Inggeris membentuk paguyuban budaya persemakmuran bersama (commonwealth) seperti pekan olah raga, pameran dagang bersama, kemudahan dan saling pengakuan untuk akses dan lalu lintas barang, jasa, orang dan sebagainya. Negara-negara tersebut menggunakan bahasa Inggeris sebagai bahasa Nasional kedua untuk kepentingan dagang, hukum dan pemerintahan, tanpa kehilangan jati dirinya sebagai bangsa. Nasionalisme dan Character Building dirancang secara rasional, tidak dengan patriotisme sempit yang mengobarkan kebencian dan saling curiga. Bangsa-bangsa itu pada umumnya saling mendukung di forum internasional.

Di Malaysia misalnya, anak-anak SD adalah pengguna dan pemakai aktif bahasa Inggeris, sebaik orang Indonesia berbahasa Indonesia. Mereka tidak kehilangan jati diri kemelayuannya dengan penguasaan bahasa Inggeris tersebut. Maka tidak mengherankan, kalau di pasar tenaga kerja Timur Tengah misalnya, warga Philippina, Bangladesh atau Sri Lanka lebih diapresiasi dibandingkan dengan orang Indonesia.

Pernah ada suatu masa di Indonesia dilarang menggunakan bahasa dan aksara Tionghoa, yang adalah salah satu bahasa utama di dunia. Pada hal Sumpah Pemuda diikrarkan di di rumah seorang Tionghoa yang bernama Sie Kong Liong, Jalan Kramat Raya 106 Jakarta Pusat.  Ironis.

Dalam Undang-undang Pendidikan ( UU no. 20 tahun 2003) dinyatakan bahwa sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global.  Karena itu  perlu dirancang prioritas muatan kurikulum yang relevan dan berguna. Pemerintah perlu menggalakkan dan membudayakan penggunaan bahasa asing kalau ingin maju. Bukan malah membuat peraturan yang membatasi penggunaan bahasa asing di forum-forum atau produk internasional.

Menjunjung bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, tidak perlu dengan mencari-cari padanan kata kata yang malah jadi aneh. Bahasa Indonesia, pada dasarnya bukan bahasa teknologi, atau bahasa hukum. Karena itu, tidak perlu alergi untuk mengadopsi kata-kata dan pengucapan asing ke dalam bahasa Indonesia.  Disk dan mouse sebagai produk modern teknologi komputer, tidak perlu harus diterjemahkan menjadi cakram dan tikus. Atau effective dan efficient menjadi sangkil dan mangkus. Kita harus mengakrabkan dan mengasosiasikan bahasa kita dengan bahasa yang hidup dan berkembang di dunia, bukan dengan bahasa kuno seperti bahasa sanskerta, yang di India saja sudah masuk museum.

Kekakuan dan ketakutan menggunakan bahasa asing adalah pertanda kegamangan dan ketidak percayaan diri. Marka jalan dan petunjuk informasi di Bandara Internasional Sukarno Hatta misalnya, banyak yang tidak  disertai dengan padanan bahasa Inggeris atau Cina, yang membingungkan para pengguna internasional. Bahkan airflag national Indonesia, Garuda, menggunakan nama hewan mitos dari peradaban purba. Bandingkan dengan negara lain, seperti Malaysia, Singapura, Inggris, Mesir, India. Pesawat Nasionalnya adalah Malaysia Air, British Air, Egypt air, dan sebagainya. Tidak menggunakan nama Mummi Air, atau Gajah Air. Itulah adaptasi modernisme kreatif dalam memperkenalkan kebanggaan bernegara.

Bung Karno berkata – dalam bahasa Belanda ”, Obor yang kunyalakan di malam yang gelap ini, kuserahkan kepada Angkatan yang kemudian”. Kitalah Angkatan itu, yang hidup dan harus unggul di era globalisasi. Termasuk dalam penguasaan bahasa.

Jakarta,  Oktober 2013

Sampe L. Purba – Profesional dan praktisi bisnis global – pengamat masalah sosial.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s