“Republik Taliban” dan Gedung Putih – Politik Anggaran AS dan implikasinya

“Republik Taliban” dan Gedung Putih – Politik Anggaran Amerika Serikat dan implikasinya terhadap perekonomian global

 

Sampe L. Purba

 

Di Amerika Serikat terdapat satu gerakan politik kontemporer dalam bentuk kaukus longgar konservatif  bernama National Tea Party yang sangat progresif menyuarakan pengurangan hutang Pemerintah dan defisit anggaran federal melalui pengetatan di sisi pengeluaran Pemerintah dan pengurangan pajak. Mereka tidak setuju dengan kebijakan reformasi kesehatan dan jaminan sosial ala Presiden Obama, yang dianggap sebagai ekonomi sosialis yang merampok kekayaan mereka melalui pajak untuk mensubsidi orang-orang yang memberi kontribusi rendah kepada Negara.  Ide dan lobi gerakan ini berhasil mempengaruhi anggota Kongres Amerika Serikat, untuk memblok usulan APBN Pemerintah Federal 2014. Usulan spending sebesar $ 3,8 triliun dolar tersebut, didominasi pos kesehatan (medicare) 25%, Program jaminan sosial dan tenaga kerja 33%, dan anggaran militer 17%.  Krisis pembahasan anggaran bahkan sampai memaksa Presiden Barack Obama menunda kunjungannya ke berbagai negara termasuk Indonesia dalam rangka APEC baru-baru ini.

Penolakan pengesahan anggaran oleh  Kongres membawa implikasi yang berefek domino. Dalam urusan domestik, kantor pelayanan Pemerintahan terancam ditutup (shutdown). Pelayanan program perlindungan sosial seperti asuransi kesehatan masyarakat menengah, tunjangan veteran dan pensiunan, Puskesmas, taman hiburan umum, pegawai pemerintah outsourcing, langsung mengalami dampaknya. Sementara secara eksternal rating/ peringkat obligasi Pemerintah Amerika Serikat juga turun. Harga imbal hasil (yield) kupon Obligasi Pemerintah (T-Bond) mulai dari yang berjangka pendek hingga yang jangka panjang 30 tahun juga turun. Para investor juga dibayangi apakah Pemerintah Amerika Serikat akan mampu membayar bunga kupon maupun obligasi yang jatuh tempo dalam waktu dekat sebanyak 120 milyar dolar. Kredibilitas Pemerintah Amerika Serikat dipertaruhkan. Anggota Kongres Demokrat dari Florida Joe Garcia, dalam perdebatan resmi di DPR tanggal 1 Oktober 2013 yang lalu  menyebut anggota Kongres Partai Republik yang dapat dikendalikan oleh kekuatan ekstra parlementer dari luar termasuk para ekstrimis Tea Party adalah para Taliban yang tidak peduli akan implikasinya kepada kesejahteraan Amerika dan keamanan global. Untuk menghindari kebangkrutan (default), sementara Kongres dan Gedung Putih (kantor kepresidenan) hanya menyetujui anggaran darurat hingga pertengahan Januari 2014.

Dunia cemas dalam penantian. Seluruh perekonomian dunia tergantung kepada Amerika Serikat pada gradasi rentang antara 10 % – 90% baik untuk keseluruhan ekspor – impor, atau untuk sebagian seperti  investasi langsung, portofolio dan bentuk kerja sama lainnya.  Dalam jangka pendek, para investor akan mendiversifikasi portofolionya dengan di pasar uang di luar Amerika Serikat.  Di satu sisi hal ini dipandang baik, karena akan menggairahkan pasar uang di belahan dunia lainnya. Namun ini lebih merupakan “hot money”, yang patut diwaspadai. Pertama, melesunya permintaan pasar domestik Amerika, akan membuat kinerja perusahaan di belahan bumi lain yang tergantung padanya melemah. Jadi, kalaupun tersedia dana besar di pasar uang, tidak akan produktif dan terancam juga akan gagal bayar. Yang kedua, tidak tersedia peluang investasi domestik yang memungkinkan untuk menyerap over supply dana tersebut. Yang ketiga adalah investasi portofolio – tidak seperti investasi modal/ foreign direct investment – adalah bagaikan kumbang yang mudah berpindah dan hinggap ke tempat lain yang memberi yield lebih menarik. Ini mengganggu stabilitas fundamental struktur pendanaan perusahaan.

Ketergantungan yang tinggi kepada ekspor dan impor adalah rawan terhadap perekonomian kita. Dalam tahun 2012 misalnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan total nilai ekspor Indonesia  mencapai 190,04 miliar dolar AS, dan impor senilai 191,67 miliar dolar AS.  Kandungan nilai tambah ekspor kita rendah. Migas didominasi bahan mentah berupa minyak mentah, gas alam dan batu bara. Komoditas non migas didominasi hasil perkebunan seperti karet, komoditi, bijih, kerak dan abu logam. Lebih dari 50% tujuan ekspor Indonesia hanya ke lima negara saja yaitu Cina, Amerika Serikat, Jepang, India dan Singapura. Sebaliknya, komoditas impor didominasi barang jadi seperti produk bahan bakar minyak dan gas, peralatan mesin, modal, besi dan baja, produk elektronik,  kendaraan bermotor dan suku cadangnya. Lebih dari 50% impor juga berasal dari lima negara yaitu Cina, Jepang, Amerika Serikat, Thailand dan Singapura.

Indonesia harus belajar dari keadaan ini. Untuk mengurangi eksposur dan ketergantungan kepada perekonomian negara lain adalah dengan meningkatkan kemampuan domestik untuk mengabsorb/ mengkonsumsi produk yang dihasilkan di dalam negeri. Sehingga tercipta self-sustainability mechanism yang menciptakan pasar dan daya saing lokal. Untuk itu diperlukan upaya untuk meningkatkan daya beli masyarakat. Daya beli masyarakat akan meningkat apabila nilai tukar barang dan jasa yang dihasilkan masyarakat relatif lebih tinggi dari barang jasa yang dikonsumsi. Struktur perdagangan yang sehat adalah apabila komponen ekspor lebih banyak berupa barang setengah jadi atau barang jadi, dibandingkan dengan bahan mentah. Sebaliknya untuk komponen impor, diharapkan lebih banyak dalam bentuk bahan mentah. Untuk mencapai hal tersebut bukan hal yang mudah.  Diperlukan determinasi,  prioritas, kesamaan visi dan misi Pemerintahan dan masyarakat yang konsisten, terencana, terstruktur dan bersifat jangka panjang.  Dengan demikian secara lambat laun akan tercapai ekonomi yang berdikari dan bermartabat.

Jakarta,  Oktober 2013

Penulis – Profesional dan praktisi bisnis global

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s