Proyek Asahan dan Kontribusi Kawasan Danau Toba

Proyek Asahan dan Kontribusi Kawasan Danau Toba

Oleh : Sampe L. Purba

Proyek Asahan adalah Proyek yang mendayagunakan potensi air Sungai Asahan yang mengalir dari Danau Toba untuk pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan Pabrik Peleburan Aluminium (PPA) dengan tujuan memajukan ekonomi regional Sumatera Utara dan Nasional. Dasar pengembangannya adalah Master Agreement antara Pemerintah RI dengan Investor Jepang yang ditandatangani tanggal 7 Juni 1975. Potensi hidrolistrik Sungai Asahan diperkirakan lebih dari 1.000 MW. Saat ini yang telah dibangun dan dioperasikan oleh PT. Inalum adalah PLTA Asahan II (PLTA Siguragura dan PLTA Tangga) dengan kapasitas 604 MW yang digunakan untuk pasokan listrik ke PPA Kuala Tanjung dengan kapasitas produksi 225.000 ton aluminium per tahun.

Pasca berakhirnya kerja sama dengan Jepang per 31 Oktober 2013, Pemerintah Daerah Provinsi  Sumatera Utara melalui Gubernur Bp. Gatot Pujo Nugroho menyampaikan keinginan untuk turut mengelola INALUM bersama 10 Pemerintah Kabupaten Kota yang tergabung dalam Ekosistem Kawasan Danau Toba yang meliputi  Daerah Tangkapan Air Danau Toba dan Daerah Aliran Sungai Asahan.  Pemerintah Sumatera Utara telah mempersiapkan business plan termasuk diantaranya misalnya dengan menggandeng grup Toba Sejahtera yang dikomandani bp. Luhut Panjaitan – seorang Pengusaha  terkemuka Nasional berlatar belakang Militer dan Menteri, serta telah menunjukkan kepedulian dan mempunyai komitmen yang tinggi untuk pembangunan Sumatera Utara .

Atas keinginan Provinsi Sumatera Utara untuk memperoleh golden share – tidak perlu membayar – Menteri BUMN menolaknya dengan mengatakan, karena pengalihan saham Jepang adalah dengan membeli – maka apabila Pemerintah Daerah akan mendapatkan sejumlah porsi saham, harus membayarnya dengan mencicil melalui dividen misalnya.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, disampaikan beberapa pandangan sebagai berikut :

a.    Aspirasi masyarakat Sumatera Utara di bawah pimpinan Gubernur Gatot Pujo Nugroho  patut diapresiasi. Kepemilikan saham akan meningkatkan rasa kepemilikan (sense of belonging) proyek Asahan. Hidup matinya INALUM sangat tergantung pada ekosistem kawasan danau Toba. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara bersama Pemerintah Kabupaten Kota dan masyarakat sekitar memerlukan investasi, covenant dan pengorbanan besar untuk menjaga kelestarian kawasan ekosistem.  Pengorbanan itu  telah berjalan sejak mulainya Proyek di tahun 1975. Jadi tidak gratis !

b.   b. Hubungan Bisnis PLTA Sigura-gura, PLTA Tangga dan INALUM

Bagaimana hubungan hukum dan komersial antara ketiga unit usaha dalam Proyek Asahan. Apakah ada kontrak supply listrik jangka panjang untuk menyediakan sejumlah listrik ke INALUM pada harga tertentu. Diketahui bahwa 70% listrik dipasok ke INALUM pada harga US$ 1 sen/ KwH. Sementara harga listrik untuk industri di wilayah sekitar adalah $ 8 – 9 sen/KwH. Apakah pasokan listrik tersebut atas dasar apa adanya (as is),  harus diupayakan (best effort), atau wajib (compulsory). Apakah ada clause price review, dan bagaimana keberlakuan (effectiveness) kontrak supply listrik dalam kaitannya dengan perjanjian induk (master agreement). Hal ini penting sebagai variabel  fairnessnya harga saham konsorsium asing yang akan dibayar oleh Pemerintah RI.

c.    Sehubungan dengan defisit listrik di Sumatera Utara harus ada new deal untuk mendapatkan pasokan listrik tambahan dari PLTA Sigura-gura dan PLTA Tangga.  Kebutuhan Listrik saat ini di Sumatera Bagian Utara pada beban puncak mencapai 1.655 MW, sementara kemampuan pasok hanya sekitar 1.405 MW sehingga ada defisit 250 MW. Apabila ada kesulitan komersial dan legal, Pemerintah dapat meningkatkan kapasitas pembangkit Sungai Renun (yang juga sumber pasokan airnya dari Danau Toba). Tetapi kalau ini dilakukan, akan dapat mengancam jumlah pasokan air ke PLTA Sigura-gura dan PLTA Tangga.

d.    Secara geostrategis Sumatera Utara adalah sangat penting, karena berada di bibir kawasan Asia Pasifik, dimana sekitar 44% perdagangan dunia dan 54% produk domestik bruto beredar. Jumlah ini akan meningkat seiring dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Cina. Sumatera Utara telah berbenah antara lain dengan meningkatkan kapasitas bandara Kuala Namu. Namun infrastruktur gas untuk pasokan listrik belum memadai. Beberapa waktu yang lalu telah direncanakan untuk membangun fasilitas penerima gas terapung (FSRU) di Belawan, untuk dapat menerima pasokan gas dari sekitar jalur perdagangan selat Malaka seperti Qatar dan beberapa Negara Afrika. Namun, dengan pertimbangan tertentu, Menteri BUMN memindahkan lokasi FSRU tersebut ke Lampung.

e.    e. Rencana Bisnis jangka panjang

Pemerintah sebagai pemegang saham baru, harus membuat rencana bisnis (business plan) baru yang realistis, transparan dan memihak masyarakat dan pemerintah Indonesia sebagai negara berdaulat. Kontrak-kontrak penjualan produk aluminium/ ingot harus mencerminkan harga pasar yang wajar (arm-length price). Demikian juga  dengan alokasi dan harga pembelian listrik.  Transfer teknologi dan sumber daya manusia pada tataran managerial dan technical harus dikonkritkan. Pelestarian alam harus menjadi bagian yang integral untuk sustainabilitas lingkungan.   Pihak swasta yang berkomitmen perlu diajak dalam semangat private-public-partnership yang memberikan keuntungan win-win bagi Masyarakat, Pemerintah dan Pengusaha.

 

Jakarta,   November 2013

Penulis :  Praktisi dan Profesional Business Global,  Memperoleh Pendidikan Tinggi di Bidang Hukum  dan  Bidang Ekonomi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s