Mandela dan Kita

 

Mandela dan kita

Oleh : Sampe L. Purba

Nelson R. Mandela,  yang baru saja mendahului kita, meninggalkan legacy (warisan) perseverance (kegigihan), humanity (kemanusiaan) dan Statemanship (kenegarawanan)  yang luar biasa.

Selepas dari penjara di Pulau Robben, Mandela mengunjungi sebuah makam tua abad ke-17. Beliau menyatakan bahwa penderitaannya 27 tahun di penjara belum ada apa-apanya dibanding orang di makam tersebut, yang terasing hingga akhir hayat dari negaranya. Pria itu ternyata adalah Pangeran Tjakraningrat IV dari Madura, yang diasingkan pemerintah kolonial Belanda. Pada zaman itu, Afrika Selatan, Suriname dan Indonesia berada di bawah imperium Kerajaan Belanda.

Politik apartheid adalah warisan kolonialis Belanda yang juga diterapkan di Indonesia. Pada zaman kolonial, sistem hukum dan praktek kehidupan sehari-hari dibedakan untuk orang Eropa, Timur Asing dan Pribumi. Masuk dalam golongan Timur asing adalah orang Arab, India, dan Cina. Demikian juga dengan hukum acara, dibedakan untuk penduduk Jawa, Madura, dan selainnya. Ada tempat-tempat tertentu seperti di kereta api, gedung pertunjukan, atau gerbang yang tidak boleh dilalui oleh orang pribumi.

Mandela – sebagai Ketua Africa National Congress (ANC), tahun 1993 berkunjung ke Indonesia untuk meminta dukungan politik dan dana. Presiden Suharto – yang juga sangat anti apartheid – yaitu politik berbasis SARA – menyambut Mandela layaknya tamu agung Kepala Negara. Upacara penyambutan yang sama juga pernah diberikan Pak Harto kepada Yasser Arafat dalam kunjungannya sebagai ketua PLO. Mandela terkesan dengan pakaian batik yang dihadiahkan Pak Harto. Sebagai catatan Pak Harto juga berhasil mempromosikan batik untuk digunakan para Kepala Negara Asia Pacific (APEC) dalam pertemuan Bogor di tahun yang sama.

Bung Karno dan Fidel Castro adalah idola Mandela. Persatuan perjuangan antara kaum Nasionalis dan Komunis, serta strategi perjuangan di level politik, pemogokan buruh dan sabotase fisik juga dijalankan Mandela. Kolaborasi ANC dan Partai Komunis Afrika Selatan menghantarkannya ke penjara tahun 1962.  

Seperti Bung Karno yang bangga dengan peci dan menggantungkannya di dinding istana Buckingham Inggeris, Mandela gandrung dan bangga berbusana batik.  Di Afrika Selatan –  batik dinamai Madiba, menurut nama anak pertama Mandela. Batik Madiba telah melekat dengan Mandela. Tidak ada warga Afrika Selatan yang berani memakai batik. Takut kualat katanya. Mirip seperti ketakutan orang Indonesia memakai gaun dan pakaian hijau di sekitar Pantai Pelabuhan Ratu.  Kita senang dengan promosi batik ini. Tetapi hati-hati. Telah ada satu Perusahaan di luar negeri  yang mengklaim madiba sebagai asli Afrika Selatan. Kalau ini diteruskannya  dengan mendaftarkan hak paten, maka sesuai TRIPS (Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights) di bawah WTO (World Trade Organization), klaim ini dapat  merugikan Indonesia.

Dalam masa jabatannya sebagai Presiden Afrika Selatan (1994 – 1999), Mandela mendapat giliran sebagai Ketua Gerakan Non Blok. Bulan April 2000 Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ke Afrika Selatan berusaha menemui Mandela sang idola untuk menimba ilmu  rekonsiliasi,  menentang rasisme yang melembaga, kemiskinan dan diskriminasi.  Gus Dur berhasil mengangkat kembali budaya Tionghoa dan istilah Papua.  Namun idenya tentang rekonsiliasi dan pengampunan massal untuk mengubur dendam politik lama, tidak mendapat sambutan dari para politisi pemegang saham reformasi yang berkuasa di Senayan.    

Mandela meletakkan periode transisi yang aman. Mantan Presiden rezim apartheid FW de Klerk didapuk jadi wakilnya dalam pemerintahan rekonsiliasi. Kebijakan afirmatif kepada kaum kulit hitam yang tertinggal dalam akses sumber daya ekonomi dan politik dijalankan tanpa menyulut sentimen rasialis.   Mandela hanya mau satu periode kepresidenan untuk menghindarkan pengkultus individuan serta memajukan kaderisasi. Thabo Mbeki sohib lama dan wakilnya di jaman perjuangan  ANC menggantikannya sebagai Presiden. Model ini ditiru oleh Xanana Gusmao pejuang Timor Leste yang menolak jabatan Presiden pada periode kedua.

Sementara Bung Karno, Pak Harto, Gus Dur dan Mandela menolak apartheid, SARA dan diskriminasi sebagai elan perjuangannya, dewasa ini justru kita sedang berada pada set back. Penggunaan istilah Jawa –  NON Jawa, agama X –  NON agama X, Putra Daerah –  NON Putra Daerah dan sebagainya, sesungguhnya telah mengingkari sesanti Bhinneka Tunggal Ika. Kosa kata sosial, politik dan praktek kenegaraan dalam pertimbangan  jabatan karier dan jabatan publik banyak berbau apartheid dan SARA, yang mengesampingkan merit system/ profesionalisme. Penolakan sekelompok massa terhadap penempatan Lurah di satu wilayah di ibu kota, atau pengusiran kelompok yang berbeda praktek keyakinan di satu daerah, hadir di ruang publik tanpa pembelaan dan perlindungan berarti.

Mandela – yang meninggal di usia 95 tahun pada 5 Desember 2013 lalu, akan dihantarkan ke peristirahatan terakhirnya dengan festival iringan musik, nyanyian dan  tarian suka cita oleh seluruh rakyatnya. Suatu tradisi pengucapan syukur disertai doa kiranya generasi yang ditinggalkan dianugerahi kebijakan yang sama.  [ Tradisi yang juga masih dapat ditemui di Tanah Batak atau Tanah Toraja manakala orang yang dituakan meninggal sempurna – saur matua bulung]. Ratusan pemimpin Negara juga akan menghadiri pemakamannya. Selamat jalan Mandela. Ompung/Mbah/Kakek yang  telah mengakhiri pertandingan yang baik, mencapai garis akhir, memelihara iman dan keyakinan akan nilai kemanusiaan yang hakiki.

Jakarta,  Desember 2013

Penulis – Penikmat sejarah nilai kemanusiaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s