Proyek LNG dan Renegosiasi Harga

Proyek LNG dan Renegosiasi Harga
Oleh Sampe L. Purba
Belum lama ini Pemerintah mengumumkan keberhasilan merenegosiasi kembali harga LNG (gas alam cair – Liquid natural gas) dari Tangguh Papua ke pasar Fujian Tiongkok yang memberi kenaikan penerimaan signifikan kepada Pemerintah dan Produser Gas. Tidak mudah melakukan renegosiasi harga, mengingat kompleksitas value chain (rangkaian nilai ekonomi) yang terlibat. Pembeli LNG pada umumnya adalah pedagang (trader) yang berbeda dengan pengguna terakhir (end user) seperti industri kimia, kelistrikan atau rumah tangga. Kenaikan harga di sisi Produser tidak otomatis dapat diteruskan (pass through) oleh Pembeli kepada Konsumen akhirnya. Terdapat puluhan perjanjian (agreements) komersial pendukung maupun yang terkait dengan dan antar pihak-pihak yang berbeda.
Penjualan LNG pada umumnya adalah bersifat jangka panjang ( di atas 10 tahun), pada volume dan formulasi harga yang ditentukan sebelumnya. Tidak seperti komoditas umum, atau minyak mentah yang relatif dapat dengan mudah dipasarkan on spot, monetisasi LNG yang berbiaya sangat mahal (Harga satu train/ kilang dapat di atas $ 5 milyar) memerlukan kepastian terlebih dahulu sebelum suatu lapangan dikembangkan. Karena itu pengembangan suatu proyek LNG perlu berbagi resiko dan opportunity antar pihak pihak yang berkepentingan. Suatu proyek yang bersifat jangka panjang tidak selamanya mulus sehingga tidak dimungkiri adanya disputes/ perselisihan. Apabila setiap perselisihan diselesaikan dengan tuntut menuntut, dapat berakibat kontra produktif. Karena itu konsensus, win-win solution, pemahaman dan kepercayaan timbal balik (mutual understanding and trust) adalah penting. Inilah karakteristik bisnis yang membedakannya dari hukum publik keuangan negara.
Komponen pendukung yang diperlukan dalam proyek LNG sangat beragam. Struktur fiskal dan regulasi negara yang stabil dan kondusif di tempat berinvestasi menduduki peringkat pertama. Faktor penting lainnya adalah Produser gas yang kredibel, pembeli yang komit dan tangguh, Kontraktor pembangun kilang LNG maupun terminal regasifikasi yang profesional, Operator Kilang LNG yang handal, Pemodal/ sindikasi institusi finansial yang mampu menyediakan pinjaman masif berjangka panjang, akses jalur pipa redistribusi yang aman, ketersediaan kapal pengangkut LNG yang spesifik (dedicated), asuransi, akses dan fleksibilitas pasar, serta formulasi harga yang responsif.
Struktur harga LNG terbentuk oleh berbagai unsur seperti biaya menghasilkan gas alam (upstream cost), biaya pemrosesan gas alam menjadi LNG (plant operating cost), biaya pengapalan (transportation), dan biaya regasifikasi di terminal penerima. Pada setiap value chain, tentu akan termasuk perhitungan margin yang wajar bagi para pelaku bisnis. Namun demikian, mengingat bisnis LNG juga tidak terbebas dari hukum penawaran dan permintaan (supply and demand), harga LNG pada waktu deal negotiation juga ditentukan oleh kondisi, estimasi dan proyeksi pasar global, apakah sedang bullish atau bearish, ada kelangkaan atau over supply, penawaran Kompetitor LNG dari Negara lain, perbandingan dan paritas dengan energi substitusi atau alternatif dan hubungan historis antar Korporasi atau Pemerintah. Hal ini penting ditekankan, karena bisnis LNG tidak saja menyangkut aspek komersial, namun memiliki sisi politis dalam konteks geopolitik dan geoekonomis antar Negara.
Secara tradisional, formula LNG di belahan dunia ini bervariasi di benchmark/ dikaitkan dengan tiga hal. Harga LNG di kawasan Eropa dikaitkan dengan indeks NBP (National Balancing Point). NBP adalah adalah harga acuan kontrak berjangka gas alam pada delivery point virtual di pasar British. Harga LNG ke pasar Amerika Serikat, diindeks dengan Henry Hub, yakni harga kontrak berjangka di pasar perdagangan New York Mercantile Exchange (NYMEX) dan Intercontinental Exchange (ICE). Harga LNG di pasar tradisional Asia (Jepang, Korea, China), pada umumnya diindeks dengan harga minyak mentah di pasar Jepang (JCC = Japan Cocktail Crude). Dengan demikian, pergerakan harga minyak mentah, berpengaruh langsung terhadap harga LNG. Untuk menjaga keekonomian kedua belah pihak, baik dari kemungkinan harga minyak mentah yang jatuh yang akan memukul Produser, atau harga yang membubung tinggi yang akan merugikan pembeli dan konsumen, umumnya formulasi harga mengakomodir batas bawah (floor) dan batas atas (ceiling), dengan slope dan konstanta tertentu.
Dalam rentang perjalanan waktu yang panjang, cost dapat berubah atau menjadi naik karena biaya memproduksi yang semakin mahal. Semangat berbisnis dalam jangka panjang adalah kemitraan yang tidak boleh membiarkan satu pihak bleeding dan berdarah-darah. Karena itu, formula harga LNG sebagai bagian dari commercial terms, harus memberikan kesempatan yang adil baik bagi produser untuk melindungi investasinya, maupun bagi pembeli untuk melindungi kepentingan konsumennya. Klausul review harga (price review) adalah hal yang normal dalam kontrak jangka panjang. Klausul tersebut mengakomodasi secara seimbang kepentingan para pihak, apabila ada kondisi tertentu (hardship), atau perubahan signifikan dari asumsi keekonomian (major changes of circumstances). Bisnis LNG harus dijalankan secara rasional dan terhormat, serta jauh dari politisasi kebisingan yang tidak perlu. Diperlukan kecanggihan dan kepiawaian Tim Perunding kita, apabila masih akan merenegosiasi beberapa Kontrak LNG Jangka Panjang yang ada. Selamat dan sukses. Untuk Indonesia yang lebih baik.
Jakarta, Agustus 2014

Penulis – Praktisi Profesional Energi Global

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s