Antrian Calon Pembantu (Presiden) : Integritas – Kapabilitas – Akseptabilitas

Antrian Calon Pembantu (Presiden) : Integritas – Kapabilitas – Akseptabilitas
Oleh : Sampe L. Purba
Mahkamah Konstitusi melalui Putusan No. 1/PHPU.PRES-XII/2014 tanggal 21 Agustus 2014 mengenai Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Presiden – Wakil Presiden 2014, menolak permohonan pemohon (pasangan Prabowo – Hatta) untuk seluruhnya. Dengan demikian, keputusan Komisi Pemilihan Umum No. 535/ Kpts/KPU/Tahun 2014 tentang Penetapan rekapitulasi hasil penghitungan perolehan suara dan hasil pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden tahun 2014, yang pada intinya dimenangkan oleh pasangan Jokowi – Jusuf Kalla, telah terkukuhkan terkonfirmasi dan berkekuatan hukum yang pasti (in kracht).
Presiden terpilih Jokowi – JK secara cerdas dan cerdik membentuk Kantor Transisi yang bermakna tiga hal. Yaitu pertama, menunjukkan independensi dan membebaskan diri dari perangkap dominan partai pengusung yang merasa memiliki andil dan saham utama. Kedua, memberi ruang dan memelihara (maintain) hubungan dengan relawan/ jejaring masyarakat madani maupun kelompok yang tidak memiliki afiliasi satu sama lain, tetapi terhubung dengan simpul Jokowi. Diprediksi, simpul ini akan bermetamorfosa ke depan menjadi supporting atau pressure group yang menjadi salah satu instrumen penyeimbang bagi Jokowi dalam hal berhadapan dengan partai dan suprastruktur formal. Ketiga, sebagai lembaga seleksi tidak langsung kepada orang-orang yang merasa mampu jadi pembantu presiden, baik dalam jabatan Menteri atau portofolio eksekutif lainnya.
Secara formal, Presiden terpilih Jokowi menyatakan bahwa Kantor Transisi tidak untuk menyaring calon Menteri. Namun tetap penting dan menentukan. Kantor ini mempersiapkan hal-hal strategis program kerja, penyiapan kelembagaan, implementasi visi misi sembilan program nyata Jokowi – JK nawacita, serta akselerasi program mendesak seperti Indonesia sehat dan Indonesia Pintar. Kantor Transisi adalah ibarat keris dengan warangka dalam alam fikiran mpu wesi tradisi Jawa. Sebaik apapun dhapur dan luk prabawa suatu keris, dia hanya pantas disandang dan digadhang apabila cocok serasi selaras dengan warangkanya. Kantor Transisi lah yang menyiapkan warangka tersebut.
Presiden terpilih Jokowi mempersyaratkan kompetensi untuk dapat menjadi Menteri/ Pembantu Presiden, yaitu Integritas (rekam jejak), Kapabilitas (kemampuan mengeksekusi program) dan Akseptabilitas (kemampuan untuk menjaga harmoni keseimbangan ekspektasi para stakeholders terhadap program Pemerintahannya).
Hal rekam jejak adalah sesuatu yang harus dilihat secara bijak. Bagi mereka yang belum pernah dalam jabatan publik, dan lebih banyak merupakan pengamat, pewacana dan pesohor media, hampir dapat dipastikan tidak memiliki catatan miring yang terkait dengan kontroversi pengambilan keputusan, atau hal-hal terkait hukum lainnya. Di sisi lain, mereka-mereka yang dalam pusaran pengambilan keputusan – terutama yang kurang populer – tetapi perlu sesuai dengan asesmen dan antisipasi pada saat keputusan diambil, dapat dipandang memiliki catatan rekam jejak yang kurang mulus. Cara pandang yang demikian adalah keliru. Kemampuan dalam mengambil keputusan secara komprehensif sekalipun agak kontroversial dan tidak populer adalah rekam jejak karakter yang sesungguhnya. Rekam jejak tidak sama dengan popularitas !
Kapabilitas dalam mengeksekusi suatu program dilihat dari kemampuan mengharmonikan seluruh faktor dan sumber daya yang tersedia untuk tercapainya tujuan secara terukur dalam dimensi waktu, target kuantitas dan kualitas suatu program. Ujian sesungguhnya kapabilitas adalah kemampuan survive dan unggul ketika situasi gelombang eksternal tidak mendukung atau bersahabat. Ini adalah ibarat pelaut tangguh yang tidak saja harus menaklukkan gelombang, namun berhasil mencapai pelabuhan dengan membawa hasil yang diharapkan (ride over the waves). Di depan mata, terpampang pekerjaan besar yang menumpuk. Postur APBN yang kurang sehat, dan heavy subsidi, persaingan regional dan global dalam rangka Masyarakat Ekonomi Asia (MEA), angka pertumbuhan penduduk yang tidak seimbang dengan daya dukung lingkungan maupun ekonomi, dan juga kemungkinan berbagai oposisi dari sayap Senayan dan watchdog kebijakan publik lainnya. Presiden Jokowi dan kabinetnya tampaknya tidak memiliki masa bulan madu lagi. Harus tancap gas – memenuhi harapan rakyat, merealisasikan janji-janji kampanye sambil melanjutkan program Pemerintahan saat ini, yang merupakan kesinambungan blue print Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (2005 -2025).
Akseptabilitas berkaitan kemampuan merekat untuk menerima dan diterima berbagai golongan yang menamakan dirinya stakeholders (pemegang saham) Republik Indonesia. Di tengah sistem ketata negaraan Indonesia yang saat ini seolah-olah terdiri dari beberapa pusat kekuasaan yang tidak dibawah satu komando, diperlukan modal sosial, modal politik dan patronase terukur untuk dapat berhasil. Presiden tidak berharap bahwa pembantunya menjadi liability (beban) ketika mempertanggungjawabkan kinerjanya kepada publik. Setidaknya terdapat delapan pusat kekuasaan saat ini di Negeri ini, yang mengklaim memiliki Undang-undang dan sistem kekebalan tersendiri. Kedelapan institusi pusat kekuasaan tersebut adalah Lembaga Kepresidenan/ Pemerintah Pusat, Parlemen, Pemerintah Daerah, Badan Pemeriksa Keuangan, Komisi Pemeriksaan Korupsi, Pers dan Masyarakat Madani/ Lembaga Sosial Masyarakat. Menarik, Presiden Jokowi tidak mengharapkan Pimpinan Partai menjadi anggota Kabinetnya. Ini karena beliau sadar betul, bahwa Partai hanyalah satu dari delapan pilar kekuasaan yang harus diperhatikan.
Wahai para kaum cerdik cendekia, bijak bestari anak Negeri negarawan sejati. Yang mampu atau merasa mampu dan terpilih untuk mengemban amanah menjadi Pembantu Presiden terpilih. Tunaikanlah tugas itu. Untuk Indonesia yang lebih baik

Jakarta, Agustus 2014

This entry was posted in Politik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s