Menyambut 2015 : Mantra Sakti – Size, Endurance, Velocity

Menyambut 2015 : Mantra Sakti – Size, Endurance, Velocity
Oleh Sampe L. Purba
The survival of the fittest adalah hukum besi kehidupan. Ini adalah deklarasi pertandingan persaingan di tengah persandingan bagi seluruh organisme mulai dari protozoa bersel satu tidak sempurna, raksasa lewiatan, binatang liar hingga manusia. Tidak terkecuali Negara, yang dalam teori Lebensreum dianggap suatu organisme yang memerlukan ruang hidup kalau perlu merebut teritori zona aman tetangga dengan kesopanan diplomasi yang menusuk elegan.
Size (ukuran), Endurance (daya tahan), Velocity (kecepatan) merupakan instrumen yang penggunaannya harus tepat agar menghasilkan resultan vektor yang optimal serta disesuaikan dan menyesuaikan dengan medan tempur, asesmen kemampuan internal, dan ancaman eksternal. Dalam proses pembuahan misalnya. Jutaan benih sperm yang tersemprot bersaing dengan kecepatan (velocity) 40 km/ jam untuk merebut satu sel telur. Namun begitu saingan telah terlewat, sang benih yang unggul memperlambat lajunya hingga 0,3 cm/ jam. Dalam 3 – 5 hari sang benih pedekate yang menuntut kesabaran (endurance) untuk menarik perhatian sang indung telur agar menempel dan menghasilkan pembuahan sempurna. Sementara bagi dua mahluk/ insan yang melakoninya jangan coba-coba gunakan ritual cepat. Size dan endurance organ pelaku utama do matters !
Harimau dengan rahang yang kuat dan tangguh, pastilah bukan saingan seimbang bagi kuda atau antelope kijang liar. Tapi keunggulan kompetitif kuda yang menggiring pemangsa sprint di padang liar atau manuver belokan tajam antelope mampu menyelamatkannya. Harimau harus pulang sarang menunduk menjadi PeHaPe bagi anak-anak manjanya yang keroncongan. Harimau tidak memiliki endurance bersaing dengan kuda atau kijang.
Dalam head-to-head fight, di mana dua pihak terjebak di palagan sempit, maka size ditambah strategi menjadi penting. Harimau atau singa, tidak akan mudah memangsa anak-anak banteng, selama anak anak itu solid dalam lingkaran, dan induk banteng dengan gagah mengoptimalkan intimidasi dengan tanduknya yang kokoh. Kita miris membaca berita bulan April yang lalu. Dua orang Pelaut – Petugas Resmi Penegak Kedaulatan Negara RI di laut, malah dimangsa dan dibunuh oleh nelayan asing yang maling di teritori kita yang sah ketika mengusir kapal asing tersebut di laut Natuna (http://www.thejakartapost.com/news/2014/04/05/indonesia-and-problem-illegal-fishing.html). Kita tidak berbuat banyak. Malah cenderung mendiamkan atau mencari solusi damai. Apakah ini karena doktrin zero enemy, atau karena menyadari kemampuan persenjataan kita yang jauh tertinggal di belakang maling garong kapal nelayan asing tersebut, Wallahu alam. Sakitnya tuh di sini Pak. Dimana dignity Dan harga diri kita sebagai bangsa ?.
Maka bersyukurlah kita, ketika Pak Jokowi memerintahkan Menteri Susi dengan dukungan angkatan laut untuk menenggelamkan para intruder itu. Selain shock therapy, itu adalah deklarasi yang memulihkan dan mensquare harga diri kita sebagai bangsa bahari. Ini dadaku !. Don’t mess with Indonesia. Ini juga adalah modal yang kuat untuk menyatakan kepada bangsa-bangsa tetangga yang akan menjadi saingan sempurna kita dalam konteks Masyarakat Ekonomi Asean (2015) maupun AFTA (2020). Tone tag messagenya jelas : Kami siap bersaing, bertanding dan bersanding dengan Saudara-saudara. Tapi mari kita lakukan dengan fair !.
Kalau dipikir-pikir, MEA maupun AFTA adalah kebijakan sangat pede yang mengundang persaingan yang ketat dari Negara tetangga sebagai efek campaign globalisasi. ASEAN meliputi wilayah 4.46 juta kilometer persegi, dimana wilayah lautnya tiga kali lebih luas dari daratan dengan populasi sekitar 600 juta, serta kombinasi Gross Domestic Product lebih dari 2,3 triliun US dolar. Sebagai satu kesatuan, ASEAN merupakan kekuatan ekonomi ketujuh terbesar di dunia, setelah Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, Jerman, Perancis dan Inggeris raya. Di ASEAN dari segi apapun, dalam ukuran (size) kita unggul. Tetapi apakah keunggulan ini dapat kita manfaatkan untuk keunggulan geopolitics dan geoeconomy berpulang kepada kita. Apakah kita akan mampu penetrasi ke pasar ASEAN, atau malah mereka yang menjadi saudara pemangsa yang ramah berevolusi sebagai penjajah ekonomi terbaru di halaman rumah, kitalah yang menjawabnya. Janganlah terulang pengalaman Tiongkok di penghujung abad 19 yang besar meraksasa tetapi hanya menjadi the sick man of Asia, makanan empuk negara negara Barat yang jauh lebih kecil. Ingatlah kata-kata Chairil Anwar – “ kaulah kandil kemerlap, menjadi pelita di dalam gelap. Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi “. Kita lah yang harus mempersiapkan software (regulasi, sumber daya manusia yang unggul, perilaku kedisiplinan dan mentalitas entrepreneurship) maupun hardware (infrastruktur, produk unggulan, sarana dan prasarana) yang tepat.
Kita harus optimis. Kita memiliki kemampuan untuk itu, dan itu telah teruji. Sebagai sebuah contoh, dalam majalah SWA baru-baru ini (http://swa.co.id/youngsterinc/tiga-sang-pemanah-logo) dilaporkan bagaimana satu keluarga pemegang merek fashion Logo berhasil eksis berekspansi di pasar pakaian jadi/ garmen pada segmen pasar yang pas. Sang ayah berhasil dalam proses mendidik dan mentransformasi anak-anak generasi penerusnya yang relatif masih muda pada usia 30 an dengan pendidikan, ketrampilan dan attitude yang terukur menjadi entrepreneur yang diperhitungkan peer pesaingnya di gerai gerai besar di seluruh Indonesia. Menghadapi persaingan dan tantangan terbuka yang akan datang mutlak diperlukan inovasi kreatif dan tim building yang kuat, untuk memetakan, merumuskan dan mengeksekusinya dalam surfing over the waves. Sektor garmen adalah front liner padang Kurusetra terbuka di belantara persaingan MEA dan AFTA yang akan datang. Kita berharap para entrepreneur muda ini dapat mengikuti tradisi raksasa-raksasa sebelumnya seperti Lippo, BCA atau Kalla grup yang tidak saja berhasil mewariskan tradisi ketangguhan pebisnisnya ke generasi berikut, tetapi mampu menembus dan penetrasi pasar luar negeri.
Untuk itu diiperlukan konsepsi kebijakan, strategi dan upaya yang komprehensif, integral dan holistik dari pemerintah yang harus mendapat dukungan seluruh pemangku kepentingan. Sudah tidak saatnya ber solo dancing. Mari bergandengan tangan – hand in hand across the meadows. Tidak boleh lagi ada sekat dan ego sektoral ibarat burung merak yang penuh fata morgana atau burung unta yang permisif. Bharatayuda di depan mata. Dalam perang bharatayuda salah satu key kemenangan memenangkan war (peperangan) yang menguras tenaga dan stamina, di tengah nyinyir darah kalah menang dalam babak-babak pertempuran (battleship) adalah penyesuaian jajar, gelar pasukan, senjata dan kesatrya yang diturunkan. Seluruh perlengkapan priyayi berupa wisma, wadhoya, turangga, kukila dan curigo digelar sebagai satu kesatuan komando keris tangguh.
Citius, Altius, Fortius. Lebih cepat, lebih tinggi, lebih kuat. Ibarat motto olimpiade. Kombinasi vektor yang optimal dari kebijakan yang diambil Pemerintah dan dukungan luas seluruh masyarakat adalah harapan kita menyambut pertandingan tahun 2015. Marilah kita songsong tahun yang baru dengan positif, penuh kegairahan dan kegembiraan. Ibarat di sepak bola, gol-gol cantik itu sering tercipta kalau tim bermain dengan gembira. Selamat Tahun Baru

Jakarta, Desember 2014

This entry was posted in ekonomi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s