Tantangan Masa Depan LNG Indonesia

Tantangan Masa Depan LNG Indonesia

Oleh : Sampe L. Purba

Dalam satu setengah tahun terakhir harga minyak mentah dunia telah turun hampir 400%, dari sebelumnya pada kisaran $ 110/ barrel ke level di bawah $ 30 an. Kontrak kontrak LNG jangka panjang Indonesia saat ini – yang formulanya mengikuti harga minyak mentah ke pasar tradisional Jepang akan berakhir di tahun 2020. Kontrak tersebut ditandatangani tahun 1973 dan 1981 yang lalu, ketika Indonesia memiliki posisi dominan di pasar LNG. Pemain utama saat ini di pasar tradisional regional (Jepang, Korea, Taiwan, China) adalah Australia, Qatar, Malaysia, Nigeria, Rusia bagian Timur dan Trinidad – Tobago. LNG Indonesia dari Tangguh, Masela, kawasan Kalimantan (ENI, Chevron dan Mahakam), akan mencoba masuk bersaing mengisi kekosongan tersebut.

Deregulasi kelistrikan di Jepang mengharuskan persaingan dan efisiensi. Termasuk di dalamnya memisahkan (unbundling) Pembangkit dari Transmisi. Ada juga komitmen bauran energi mengurangi LNG yang saat ini sekitar 46 % menjadi 27% di tahun 2030, untuk digantikan energi terbarukan. Perlambatan pertumbuhan ekonomi di Tiongkok, dan kecenderungan Negara tersebut menggunakan batu bara, serta membawa LNG equitynya dari perusahaannya di luar negeri, membuat pasarnya tidak prospektif. Beberapa kontrak LNG jangka panjangpun diindikasikan untuk dikurangi volumenya. Sedangkan di pasar Korea dan Taiwan, Indonesia belum banyak berpengalaman.

Perkembangan teknologi, ketersediaan kapal, storage serta terminal regasifikasi LNG yang meningkat, dan masuknya Amerika Serikat ke pasar ekspor mengakibatkan liquidnya pasar LNG dunia. Pasar LNG saat ini cenderung bersifat spot. Banyak pembeli LNG bukan pembeli akhir (end user), melainkan pedagang (trader) yang memanfaatkan mekanisme perbedaan harga, waktu delivery dan destinasi untuk mendapatkan keuntungan arbitrage. Pada hal untuk pengembangan lapangan gas agar investor mau FID (Financial Investment Decision), kepastian penyerapan pembelian jangka panjang merupakan keniscayaan.

LNG Indonesia yang baru berasal dari laut dalam, dengan biaya produksi yang lebih mahal, serta ada persaingan antara produser LNG. Ketatnya persaingan akan terefleksi dalam penawaran commercial terms. Utamanya adalah formula harga dengan slope/ koefisien yang lebih rendah, komitmen volume pengambilan, metode pengangkutan dan destinasi yang lebih fleksibel, serta price review clause yang lebih longgar. Kurangnya fleksibilitas komersial dapat membuat tidak kompetitifnya LNG Indonesia di pasar ekspor.

Bagaimana dengan peluang agar LNG Indonesia lebih banyak dioptimalkan di dalam negeri ?

Dalam tahun 2015 misalnya, pasar domestik hanya mampu menyerap sekitar 39 kargo atau 61% dari yang dialokasikan oleh Pemerintah, sehingga sisanya terpaksa diekspor di pasar spot. Selain karena perlambatan ekonomi nasional, mahalnya infrastruktur turut berkontribusi. Sebagai contoh, LNG Tangguh yang landed pricenya sekitar $ 6 – $ 7 di Arun Aceh masih terbebani sekitar $7 lagi untuk biaya terminal, biaya tol pipa transmisi, niaga, dan distribusi hingga tiba di kawasan industri Medan. Hal ini adalah karena infrastruktur terminal dan pipa transmisi yang dibangun afiliasi Pertamina, maupun biaya distribusi yang dibebankan oleh PT. PGN lebih didasarkan pada perhitungan pengembalian investasi dari pengguna eksisting. Bukan berdasarkan kemampuan teknis utilisasi dan kapasitas infrastruktur yang bersifat jangka panjang. Hal yang relatif sama terjadi untuk pemanfaatan di pulau Jawa, terutama yang melalui terminal regasifikasi FSRU Lampung. Adapun FSRU Muara Karang relatif lebih tinggi utilisasinya.

PT PLN yang memegang status monopoli kelistrikan, seyogianya mengemban konsekuensi dan tanggung jawab lebih dari sekedar mencari laba korporasi dengan memprioritaskan harga energi termurah yang bersifat jangka pendek. Sustainabilitas, pengembangan lapangan migas yang bersifat jangka panjang, dan keterpaduan dengan upaya menggeliatkan ekonomi nasional harus juga masuk dalam perhatian utama.

Untuk menciptakan monetisasi demand domestik lainnya diperlukan setidaknya dua hal, yaitu pertama keterpaduan pada lintas Kementerian untuk membangun infrastruktur dan mendorong industri hilir seperti pupuk, petrokimia dan turunannya seperti bahan aromatik, olefin dan plastik. Kedua, untuk kawasan Indonesia bagian Tengah dan Timur, agar diusahakan ada LNG hub yang dapat didarati kapal kecil atau dalam bentuk CNG (compacted Natural Gas). Sementara itu, untuk menyiasati pasar yang ketat, perlu kewenangan pemasaran LNG bersifat tunggal di bawah Pertamina agar produksi domestik tidak saling bersaing tetapi menjadi satu portofolio LNG Indonesia.

 

Jakarta, Januari 2016

Advertisements

Pengamat Menteri versus Menteri Pengamat

Pengamat Menteri versus Menteri Pengamat

Oleh : Sampe L. Purba

Pengamat adalah sejenis mahluk yang diberkahi dengan berbagai kemewahan atas nama mimbar bebas berpendapat di Negara ini. Atas nama terjemahan demokrasi pula, sumbat, sunat dan perangkat sensor sejenisnya diretas habis nyaris tanpa rintangan. Fakta, opini dan ilusi berkelindan menyesak di ruang publik untuk meyakinkan atau menyesatkan khalayak. Sekali merdeka – merdeka sekali.

Pengamat Menteri adalah sematan status kepada mereka – oknum, perorangan atau kelompok yang hobby mengupas status, sikap, tindakan,peri laku dan kebijakan seorang Menteri. Mengamati Menteri memiliki nilai plus yang berbobot pemberitaan. Hal ini mengingat status Menteri yang di mata konstitusi bermarwah tinggi, sekalipun statusnya adalah pembantu Presiden. Tetapi ini bukan sembarang pembantu dalam tataran kacung, jongos atau slave. Mereka adalah pengemban sebagian dari tugas, fungsi, wewenang dan tanggung jawab eksekutif yang dikepalai Presiden.

Pengamat memiliki latar belakang dan motif yang beragam. Ada yang (mendaku) sebagai intelektual, paranormal, para abnormal, pimpinan gangster eLeSeM, kelompok berjubah, penghuni Senayan, Preman atau mantan Menteri. Ada yang keras mengkritisi kebijakan satu kementerian, tetapi diam-diam diikuti dengan proposal minta bantuan atau jadi calo Proyek setengah memeras. Ada yang berusaha mendiskreditkan dan apriori, untuk menarik perhatian kelompok oposisi sehingga dia akan selalu dijadikan nara sumber penyesat di ruang publik. Atau syukur-syukur dilirik Presiden menggantikan Menteri dalam hal terjadi reshuffle. Tetapi ada juga pengamat yang kritis dengan fakta, data, analisis mendalam serta tawaran solusi komprehensif konstruktif dalam memahami dan mengatasi suatu persoalan, atau dalam hal diskursus kebijakan publik yang baru.

Pengamat Menteri – di negara dengan sistem demokrasi Parlementer murni – adalah jabatan bergengsi. Mereka adalah anggota front bench DPR dari Partai Oposisi dengan jabatan resmi Shadow Minister – yang merupakan counterpart untuk setiap Menteri yang duduk di kabinet. Di Australia misalnya, dalam sesi Parliament Question Time (PQT), shadow minister mengkritisi, menguliti dengan pisau analisis data dan fakta – tentu dengan aksentuasi dari sudut pandang oposisi – kebijakan Kementerian dari the sitting government. Mereka tidak asal bunyi.

Apabila setelah Pemilu misalnya dimenangkan Oposisi, pada umumnya shadow minister inilah yang jadi Menteri pemegang portofolio kabinet di bawah Perdana Menteri yang baru.

Akan halnya Menteri Pengamat – ini adalah sejenis spesies mahluk aneh yang hanya ada di Negeri antah berantah. Mahluk ini adalah anggota kabinet yang rajin menyeruduk bak kerbau sinting yang tersengat lebah, mengkritik kinerja sembari merendahkan harkat, martabat dan kompetensi anggota kabinet lainnya. Tanpa ada angin atau asap, mahluk ini sering memberi pernyataan kontroversial. Kalau perlu atasannyapun diajak duel debat di depan publik. Mirip orang yang menderita disorientasi dan disfungsi nalar. Penuh ilusi dan halusinasi

Bukan saja rekan sejawat kabinetnya yang dicerca secara lebay di ruang publik, bahkan terhadap kolega yang satu koordinasi atau dibawah koordinasinyapun diumbar tumpahkan libido kebenciannya. Menteri kelas pengamat ini, pada umumnya adalah ex pengamat yang celakanya lupa atau tidak fokus dengan tugas pokok fungsinya. Atau malah tidak tahu apa yang harus dikerjakannya. Dia mencari panggung. Tidak jelas apakah sedang positioning untuk jabatan yang lebih tinggi pada putaran pemilu mendatang, atau memang senang menikmati dan mengagumi diri sendiri seperti dalam legenda Yunani Narcissus yang lahir dari pasangan dewa Cephissus dan dewi Liriope.

Pada umumnya orang yang garang dan ganas di luar, kepada bawahan atau sub ordinatnya – dalam disiplin psikologi terapan dikenal dengan syndrom inferiority complex compensation.

Serudukan, kepretan, umpatan dan bualannya lebih merupakan kompensasi menutupi kekurangannya dalam ketidak mampuan mengkoordinasi ke dalam, karena bawahannya lebih meaningful, bernas serta bermutu. Tetapi bisa juga karena secara show off / lebay mencari panggung untuk menunjukkan kepada pasangan yang digandrunginya bahwa dia macho dan hebat di luar. Biasanya gejala ini sering terjadi apabila pasangannya di rumah lebih dominan dalam segala hal (ketenaran, popularitas, kecantikan dan daya tahan urusan keintiman luar-dalam). Atau bisa juga kebetulan tim inti dan lingkar dalam Kementeriannya memiliki sindrom yang sama., atau sekelas penjilat dan jongos – asal bapak senang.

Orang ini adalah alumni dan berasal dari jenis mahluk Pengamat Menteri yang memiliki jejaring pers dan lingkungan yang sama-sama memiliki orgasme politik mana kala mengkritik apapun yang dilakukan oleh Pemerintah. Maka selalu tersedia panggung hingar bingar untuk tipe Menteri Pengamat ini.

Satu reservasi pertanyaan penasaran tersisa. Kenapa atasannya membiarkan mahluk ini bersuara bising dan sumbang serta mengganggu harmoni dan ritme kerja tim di Kabinet. Atau jangan-jangan … atasan sang Maestro itu sedang memainkan gendangnya sendiri – semacam nabok nilih tangan – untuk high politics yang diluar jangkauan cakrawala pandang kami. Wallahu alam.

Jakarta, 19 Januari 2016

Pengamat Menteri versus Menteri Pengamat

Oleh : Sampe L. Purba

Pengamat adalah sejenis mahluk yang diberkahi dengan berbagai kemewahan atas nama mimbar bebas berpendapat di Negara ini. Atas nama terjemahan demokrasi pula, sumbat, sunat dan perangkat sensor sejenisnya diretas habis nyaris tanpa rintangan. Fakta, opini dan ilusi berkelindan menyesak di ruang publik untuk meyakinkan atau menyesatkan khalayak. Sekali merdeka – merdeka sekali.

Pengamat Menteri adalah sematan status kepada mereka – oknum, perorangan atau kelompok yang hobby mengupas status, sikap, tindakan,peri laku dan kebijakan seorang Menteri. Mengamati Menteri memiliki nilai plus yang berbobot pemberitaan. Hal ini mengingat status Menteri yang di mata konstitusi bermarwah tinggi, sekalipun statusnya adalah pembantu Presiden. Tetapi ini bukan sembarang pembantu dalam tataran kacung, jongos atau slave. Mereka adalah pengemban sebagian dari tugas, fungsi, wewenang dan tanggung jawab eksekutif yang dikepalai Presiden.

Pengamat memiliki latar belakang dan motif yang beragam. Ada yang (mendaku) sebagai intelektual, paranormal, para abnormal, pimpinan gangster eLeSeM, kelompok berjubah, penghuni Senayan, Preman atau mantan Menteri. Ada yang keras mengkritisi kebijakan satu kementerian, tetapi diam-diam diikuti dengan proposal minta bantuan atau jadi calo Proyek setengah memeras. Ada yang berusaha mendiskreditkan dan apriori, untuk menarik perhatian kelompok oposisi sehingga dia akan selalu dijadikan nara sumber penyesat di ruang publik. Atau syukur-syukur dilirik Presiden menggantikan Menteri dalam hal terjadi reshuffle. Tetapi ada juga pengamat yang kritis dengan fakta, data, analisis mendalam serta tawaran solusi komprehensif konstruktif dalam memahami dan mengatasi suatu persoalan, atau dalam hal diskursus kebijakan publik yang baru.

Pengamat Menteri – di negara dengan sistem demokrasi Parlementer murni – adalah jabatan bergengsi. Mereka adalah anggota front bench DPR dari Partai Oposisi dengan jabatan resmi Shadow Minister – yang merupakan counterpart untuk setiap Menteri yang duduk di kabinet. Di Australia misalnya, dalam sesi Parliament Question Time (PQT), shadow minister mengkritisi, menguliti dengan pisau analisis data dan fakta – tentu dengan aksentuasi dari sudut pandang oposisi – kebijakan Kementerian dari the sitting government. Mereka tidak asal bunyi.

Apabila setelah Pemilu misalnya dimenangkan Oposisi, pada umumnya shadow minister inilah yang jadi Menteri pemegang portofolio kabinet di bawah Perdana Menteri yang baru.

Akan halnya Menteri Pengamat – ini adalah sejenis spesies mahluk aneh yang hanya ada di Negeri antah berantah. Mahluk ini adalah anggota kabinet yang rajin menyeruduk bak kerbau sinting yang tersengat lebah, mengkritik kinerja sembari merendahkan harkat, martabat dan kompetensi anggota kabinet lainnya. Tanpa ada angin atau asap, mahluk ini sering memberi pernyataan kontroversial. Kalau perlu atasannyapun diajak duel debat di depan publik. Mirip orang yang menderita disorientasi dan disfungsi nalar. Penuh ilusi dan halusinasi

Bukan saja rekan sejawat kabinetnya yang dicerca secara lebay di ruang publik, bahkan terhadap kolega yang satu koordinasi atau dibawah koordinasinyapun diumbar tumpahkan libido kebenciannya. Menteri kelas pengamat ini, pada umumnya adalah ex pengamat yang celakanya lupa atau tidak fokus dengan tugas pokok fungsinya. Atau malah tidak tahu apa yang harus dikerjakannya. Dia mencari panggung. Tidak jelas apakah sedang positioning untuk jabatan yang lebih tinggi pada putaran pemilu mendatang, atau memang senang menikmati dan mengagumi diri sendiri seperti dalam legenda Yunani Narcissus yang lahir dari pasangan dewa Cephissus dan dewi Liriope.

Pada umumnya orang yang garang dan ganas di luar, kepada bawahan atau sub ordinatnya – dalam disiplin psikologi terapan dikenal dengan syndrom inferiority complex compensation.

Serudukan, kepretan, umpatan dan bualannya lebih merupakan kompensasi menutupi kekurangannya dalam ketidak mampuan mengkoordinasi ke dalam, karena bawahannya lebih meaningful, bernas serta bermutu. Tetapi bisa juga karena secara show off / lebay mencari panggung untuk menunjukkan kepada pasangan yang digandrunginya bahwa dia macho dan hebat di luar. Biasanya gejala ini sering terjadi apabila pasangannya di rumah lebih dominan dalam segala hal (ketenaran, popularitas, kecantikan dan daya tahan urusan keintiman luar-dalam). Atau bisa juga kebetulan tim inti dan lingkar dalam Kementeriannya memiliki sindrom yang sama., atau sekelas penjilat dan jongos – asal bapak senang.

Orang ini adalah alumni dan berasal dari jenis mahluk Pengamat Menteri yang memiliki jejaring pers dan lingkungan yang sama-sama memiliki orgasme politik mana kala mengkritik apapun yang dilakukan oleh Pemerintah. Maka selalu tersedia panggung hingar bingar untuk tipe Menteri Pengamat ini.

Satu reservasi pertanyaan penasaran tersisa. Kenapa atasannya membiarkan mahluk ini bersuara bising dan sumbang serta mengganggu harmoni dan ritme kerja tim di Kabinet. Atau jangan-jangan … atasan sang Maestro itu sedang memainkan gendangnya sendiri – semacam nabok nilih tangan – untuk high politics yang diluar jangkauan cakrawala pandang kami. Wallahu alam.

Jakarta, 19 Januari 2016

Pengamat Menteri versus Menteri Pengamat

Oleh : Sampe L. Purba

Pengamat adalah sejenis mahluk yang diberkahi dengan berbagai kemewahan atas nama mimbar bebas berpendapat di Negara ini. Atas nama terjemahan demokrasi pula, sumbat, sunat dan perangkat sensor sejenisnya diretas habis nyaris tanpa rintangan. Fakta, opini dan ilusi berkelindan menyesak di ruang publik untuk meyakinkan atau menyesatkan khalayak. Sekali merdeka – merdeka sekali.

Pengamat Menteri adalah sematan status kepada mereka – oknum, perorangan atau kelompok yang hobby mengupas status, sikap, tindakan,peri laku dan kebijakan seorang Menteri. Mengamati Menteri memiliki nilai plus yang berbobot pemberitaan. Hal ini mengingat status Menteri yang di mata konstitusi bermarwah tinggi, sekalipun statusnya adalah pembantu Presiden. Tetapi ini bukan sembarang pembantu dalam tataran kacung, jongos atau slave. Mereka adalah pengemban sebagian dari tugas, fungsi, wewenang dan tanggung jawab eksekutif yang dikepalai Presiden.

Pengamat memiliki latar belakang dan motif yang beragam. Ada yang (mendaku) sebagai intelektual, paranormal, para abnormal, pimpinan gangster eLeSeM, kelompok berjubah, penghuni Senayan, Preman atau mantan Menteri. Ada yang keras mengkritisi kebijakan satu kementerian, tetapi diam-diam diikuti dengan proposal minta bantuan atau jadi calo Proyek setengah memeras. Ada yang berusaha mendiskreditkan dan apriori, untuk menarik perhatian kelompok oposisi sehingga dia akan selalu dijadikan nara sumber penyesat di ruang publik. Atau syukur-syukur dilirik Presiden menggantikan Menteri dalam hal terjadi reshuffle. Tetapi ada juga pengamat yang kritis dengan fakta, data, analisis mendalam serta tawaran solusi komprehensif konstruktif dalam memahami dan mengatasi suatu persoalan, atau dalam hal diskursus kebijakan publik yang baru.

Pengamat Menteri – di negara dengan sistem demokrasi Parlementer murni – adalah jabatan bergengsi. Mereka adalah anggota front bench DPR dari Partai Oposisi dengan jabatan resmi Shadow Minister – yang merupakan counterpart untuk setiap Menteri yang duduk di kabinet. Di Australia misalnya, dalam sesi Parliament Question Time (PQT), shadow minister mengkritisi, menguliti dengan pisau analisis data dan fakta – tentu dengan aksentuasi dari sudut pandang oposisi – kebijakan Kementerian dari the sitting government. Mereka tidak asal bunyi.

Apabila setelah Pemilu misalnya dimenangkan Oposisi, pada umumnya shadow minister inilah yang jadi Menteri pemegang portofolio kabinet di bawah Perdana Menteri yang baru.

Akan halnya Menteri Pengamat – ini adalah sejenis spesies mahluk aneh yang hanya ada di Negeri antah berantah. Mahluk ini adalah anggota kabinet yang rajin menyeruduk bak kerbau sinting yang tersengat lebah, mengkritik kinerja sembari merendahkan harkat, martabat dan kompetensi anggota kabinet lainnya. Tanpa ada angin atau asap, mahluk ini sering memberi pernyataan kontroversial. Kalau perlu atasannyapun diajak duel debat di depan publik. Mirip orang yang menderita disorientasi dan disfungsi nalar. Penuh ilusi dan halusinasi

Bukan saja rekan sejawat kabinetnya yang dicerca secara lebay di ruang publik, bahkan terhadap kolega yang satu koordinasi atau dibawah koordinasinyapun diumbar tumpahkan libido kebenciannya. Menteri kelas pengamat ini, pada umumnya adalah ex pengamat yang celakanya lupa atau tidak fokus dengan tugas pokok fungsinya. Atau malah tidak tahu apa yang harus dikerjakannya. Dia mencari panggung. Tidak jelas apakah sedang positioning untuk jabatan yang lebih tinggi pada putaran pemilu mendatang, atau memang senang menikmati dan mengagumi diri sendiri seperti dalam legenda Yunani Narcissus yang lahir dari pasangan dewa Cephissus dan dewi Liriope.

Pada umumnya orang yang garang dan ganas di luar, kepada bawahan atau sub ordinatnya – dalam disiplin psikologi terapan dikenal dengan syndrom inferiority complex compensation.

Serudukan, kepretan, umpatan dan bualannya lebih merupakan kompensasi menutupi kekurangannya dalam ketidak mampuan mengkoordinasi ke dalam, karena bawahannya lebih meaningful, bernas serta bermutu. Tetapi bisa juga karena secara show off / lebay mencari panggung untuk menunjukkan kepada pasangan yang digandrunginya bahwa dia macho dan hebat di luar. Biasanya gejala ini sering terjadi apabila pasangannya di rumah lebih dominan dalam segala hal (ketenaran, popularitas, kecantikan dan daya tahan urusan keintiman luar-dalam). Atau bisa juga kebetulan tim inti dan lingkar dalam Kementeriannya memiliki sindrom yang sama., atau sekelas penjilat dan jongos – asal bapak senang.

Orang ini adalah alumni dan berasal dari jenis mahluk Pengamat Menteri yang memiliki jejaring pers dan lingkungan yang sama-sama memiliki orgasme politik mana kala mengkritik apapun yang dilakukan oleh Pemerintah. Maka selalu tersedia panggung hingar bingar untuk tipe Menteri Pengamat ini.

Satu reservasi pertanyaan penasaran tersisa. Kenapa atasannya membiarkan mahluk ini bersuara bising dan sumbang serta mengganggu harmoni dan ritme kerja tim di Kabinet. Atau jangan-jangan … atasan sang Maestro itu sedang memainkan gendangnya sendiri – semacam nabok nilih tangan – untuk high politics yang diluar jangkauan cakrawala pandang kami. Wallahu alam.

Jakarta, 19 Januari 2016Pengamat Menteri versus Menteri Pengamat
Oleh : Sampe L. Purba
Pengamat adalah sejenis mahluk yang diberkahi dengan berbagai kemewahan atas nama mimbar bebas berpendapat di Negara ini. Atas nama terjemahan demokrasi pula, sumbat, sunat dan perangkat sensor sejenisnya diretas habis nyaris tanpa rintangan. Fakta, opini dan ilusi berkelindan menyesak di ruang publik untuk meyakinkan atau menyesatkan khalayak. Sekali merdeka – merdeka sekali.
Pengamat Menteri adalah sematan status kepada mereka – oknum, perorangan atau kelompok yang hobby mengupas status, sikap, tindakan,peri laku dan kebijakan seorang Menteri. Mengamati Menteri memiliki nilai plus yang berbobot pemberitaan. Hal ini mengingat status Menteri yang di mata konstitusi bermarwah tinggi, sekalipun statusnya adalah pembantu Presiden. Tetapi ini bukan sembarang pembantu dalam tataran kacung, jongos atau slave. Mereka adalah pengemban sebagian dari tugas, fungsi, wewenang dan tanggung jawab eksekutif yang dikepalai Presiden.
Pengamat memiliki latar belakang dan motif yang beragam. Ada yang (mendaku) sebagai intelektual, paranormal, para abnormal, pimpinan gangster eLeSeM, kelompok berjubah, penghuni Senayan, Preman atau mantan Menteri. Ada yang keras mengkritisi kebijakan satu kementerian, tetapi diam-diam diikuti dengan proposal minta bantuan atau jadi calo Proyek setengah memeras. Ada yang berusaha mendiskreditkan dan apriori, untuk menarik perhatian kelompok oposisi sehingga dia akan selalu dijadikan nara sumber penyesat di ruang publik. Atau syukur-syukur dilirik Presiden menggantikan Menteri dalam hal terjadi reshuffle. Tetapi ada juga pengamat yang kritis dengan fakta, data, analisis mendalam serta tawaran solusi komprehensif konstruktif dalam memahami dan mengatasi suatu persoalan, atau dalam hal diskursus kebijakan publik yang baru.
Pengamat Menteri – di negara dengan sistem demokrasi Parlementer murni – adalah jabatan bergengsi. Mereka adalah anggota front bench DPR dari Partai Oposisi dengan jabatan resmi Shadow Minister – yang merupakan counterpart untuk setiap Menteri yang duduk di kabinet. Di Australia misalnya, dalam sesi Parliament Question Time (PQT), shadow minister mengkritisi, menguliti dengan pisau analisis data dan fakta – tentu dengan aksentuasi dari sudut pandang oposisi – kebijakan Kementerian dari the sitting government. Mereka tidak asal bunyi.
Apabila setelah Pemilu misalnya dimenangkan Oposisi, pada umumnya shadow minister inilah yang jadi Menteri pemegang portofolio kabinet di bawah Perdana Menteri yang baru.
Akan halnya Menteri Pengamat – ini adalah sejenis spesies mahluk aneh yang hanya ada di Negeri antah berantah. Mahluk ini adalah anggota kabinet yang rajin menyeruduk bak kerbau sinting yang tersengat lebah, mengkritik kinerja sembari merendahkan harkat, martabat dan kompetensi anggota kabinet lainnya. Tanpa ada angin atau asap, mahluk ini sering memberi pernyataan kontroversial. Kalau perlu atasannyapun diajak duel debat di depan publik. Mirip orang yang menderita disorientasi dan disfungsi nalar. Penuh ilusi dan halusinasi
Bukan saja rekan sejawat kabinetnya yang dicerca secara lebay di ruang publik, bahkan terhadap kolega yang satu koordinasi atau dibawah koordinasinyapun diumbar tumpahkan libido kebenciannya. Menteri kelas pengamat ini, pada umumnya adalah ex pengamat yang celakanya lupa atau tidak fokus dengan tugas pokok fungsinya. Atau malah tidak tahu apa yang harus dikerjakannya. Dia mencari panggung. Tidak jelas apakah sedang positioning untuk jabatan yang lebih tinggi pada putaran pemilu mendatang, atau memang senang menikmati dan mengagumi diri sendiri seperti dalam legenda Yunani Narcissus yang lahir dari pasangan dewa Cephissus dan dewi Liriope.
Pada umumnya orang yang garang dan ganas di luar, kepada bawahan atau sub ordinatnya – dalam disiplin psikologi terapan dikenal dengan syndrom inferiority complex compensation.
Serudukan, kepretan, umpatan dan bualannya lebih merupakan kompensasi menutupi kekurangannya dalam ketidak mampuan mengkoordinasi ke dalam, karena bawahannya lebih meaningful, bernas serta bermutu. Tetapi bisa juga karena secara show off / lebay mencari panggung untuk menunjukkan kepada pasangan yang digandrunginya bahwa dia macho dan hebat di luar. Biasanya gejala ini sering terjadi apabila pasangannya di rumah lebih dominan dalam segala hal (ketenaran, popularitas, kecantikan dan daya tahan urusan keintiman luar-dalam). Atau bisa juga kebetulan tim inti dan lingkar dalam Kementeriannya memiliki sindrom yang sama., atau sekelas penjilat dan jongos – asal bapak senang.
Orang ini adalah alumni dan berasal dari jenis mahluk Pengamat Menteri yang memiliki jejaring pers dan lingkungan yang sama-sama memiliki orgasme politik mana kala mengkritik apapun yang dilakukan oleh Pemerintah. Maka selalu tersedia panggung hingar bingar untuk tipe Menteri Pengamat ini.
Satu reservasi pertanyaan penasaran tersisa. Kenapa atasannya membiarkan mahluk ini bersuara bising dan sumbang serta mengganggu harmoni dan ritme kerja tim di Kabinet. Atau jangan-jangan … atasan sang Maestro itu sedang memainkan gendangnya sendiri – semacam nabok nilih tangan – untuk high politics yang diluar jangkauan cakrawala pandang kami. Wallahu alam.
Jakarta, 19 Januari 2016