Penggusuran versus Penggeseran

Penggusuran versus Penggeseran
Oleh : Sampe L. Purba
Si Tou Timou Tumou Tou – Humanity: a life to bless

Penggusuran dan Penggeseran memiliki beberapa kesamaan, tetapi mengandung nuansa perbedaan yang berjarak. Penggusuran berarti pemindahan paksa. Peristiwa ini dapat terjadi karena oknum yang menduduki/menempati bukan orang yang berhak. Tetapi bisa juga karena ada orang yg tanpa hak modal out-of-law ala cowboy Texas – pajolo gogo, papudi uhum – mengusir paksa secara tidak manusiawi orang orang yang berhak dari tanah, tempat tinggal atau wilayahnya. Ini mirip penyerobotan atau aneksasi.
Penggeseran sejatinya juga adalah sebuah pemindahan. Tetapi itu lebih bermakna penataan, relokasi atau reposisi demi pengefektifan tata ruang atau organisasi dalam mencapai tujuan. Penggeseran Pasukan (Serpas) misalnya. Ini kerap dilakukan Komandan dalam suatu front termasuk pengosongan zona aman untuk merespon konstelasi di lapangan atau mencapai tujuan yang lebih makro.
Hijrah Pasukan Siliwangi dari kantong strategis gerilya tahun 1948 ke Jawa Tengah dalam rangka memenuhi isi perjanjian Renville adalah contohnya. Demikian juga transmigrasi.
Pemda DKI Jakarta di bawah komando Gubernur Ahok juga melakukan relokasi penduduk.
Mereka yang tanpa hak menempati zona hijau, bantaran kali atau emplasemen lahan Pemerintah diminta mengosongkannya. Ada sosialisasi, ada disiapkan pemukiman baru skema sewa bersubsidi terjangkau , lengkap akses fasilitas pendukungnya seperti sarana transportasi, kesehatan, pasar dan sekolahan.
Pemerintah Kota demi pengendalian banjir, kriminalitas, polusi, pengentasan kekumuhan, sekaligus untuk mengangkat harkat martabat masyarakat tertinggal termarginalisasi mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk itu. Ada tenggat waktu.. ada ketegasan. Yang membangkang tak jelas, diultimatum. Buldoser bicara – jika dianggap perlu. Ada law and order. Jer basuki mawa bea.
Pertanyaannya, kenapa ada yang tidak mau dimanusiakan ? Kemungkinan mereka yang sudah dua, tiga, atau empat generasi menempati lokasi kumuh mungkin secara mental telah merasa nyaman sekalipun terancam dan harus melakoni ritual pengungsian saban tahun dari ancaman musim banjir Ciliwung misalnya.
Mereka adalah orang orang yang tidak memiliki modal ekonomi untuk transformasi vertikal ke tingkatan sosial yg lebih baik. Penghasilannya hanya cukup untuk bertahan hidup, sambil mewariskan kegetiran itu ke anak cucu cicit buyutnya. Nrimo. Mereka jadi terbiasa dan menganggap normal, jalan hidup atau nasib yg telah tergariskan. Ini yg perlu dibangunkan. Revolusi mental.
Diperlukan kekuatan eksternal yang tulus untuk menarik mereka dari lingkaran setan kemiskinan (the vicious circle of poverty) itu. Untuk memanusiakan mereka, seperti kutipan semboyan Sam Ratulangi di atas. Itulah yang dicoba lakukan Pemerintah Kota di bawah arahan Pak Gubernur Ahok dan supervisi pak Wagub Jarot. Memberi modal, pancing sekaligus mendidik warga untuk taat hukum.
Kita miris, manakala sekelompok kalangan menentang kebijakan itu. Ada yang santun, ada yang satire, ada yang rasis. Tetapi kebanyakan tanpa solusi. Berhenti di retorika. Dan kepalan tinju ke angkasa. Sangar.
Kita perlu berempati dengan orang miskin. Tetapi jangan bersimpati dengan kemiskinan. What we need is poverty eradication program. Pengentasan kemiskinan. Bukan memelihara kemiskinan, membajak memanen popularitas di atas penderitaannya, atau mem-blow up melankolisme mereka demi posisi tawar atau untuk meraih jabatan publik yang lebih baik.
DKI sudah masuk musim kontestasi dan kontastasi PilKada. Kita berharap para Petarung dan Timses masing masing akan cerdas bijaksana menawarkan konsep, program dan terobosan inovatif terukur yang membumi, terarah dan realistis. Memberi solusi terhadap banjir, kemacetan, kekumuhan dan penyakit masyarakat lainnya.
Jakarta layak mendapatkan yang terbaik. Membangun Jakarta dengan segala nuansa keberagaman dan keunikannya memerlukan Komandan tegas beradrenalin yang piawai menembus kebuntuan di lapangan serta mampu mengurai keruwetan labirin birokrasi. Termasuk yang memiliki konsep dan keberanian melakukan penggeseran dan relokasi yang humanis.
A Leader. A man of action. Tidak cukup hanya modal senyum tebar pesona, retorika dangkal simbolis atau untaian kata kata puitis bijak terkesan religius. Warga butuh yang substantif. Pemimpin yang dapat menata kota. Bukan sekadar piawai menata kata.

SenayanPost, 2 Oktober 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s