Tiga Menyongsong Takdir Perburuan sejati Appangaltup

Tiga Menyongsong Takdir – Perburuan sejati Appangaltup
Oleh : Sampe L. Purba
Appangaltup, demikian namanya. Masih muda tetapi sudah punya reputasi kaliber penggerak massa. Jabatan resminya Ketua Forum Paguyuban Majelis Parsahutaon DeKai, afiliasi longgar cair yang disatukan secara temporer oleh common denominator kesamaan isu. Dia mendapat amanah mencari pengemudi pesawat khusus yang tepat, karena anggotanya akan menempuh perjalanan jauh. Ada angin puting beliung, hujan lebat dan kelebat kelam. Belum lagi sambaran halilintar dan bayangan naga. Seram. Mereka tidak terlalu mempersoalkan biayanya. Yang penting aman, nyaman dan menggairahkan.
Inilah dialog Appangaltup (Ap) dengan Biro Pelayanan Travel (Br):
Ap: Kami mencari pilot dan kopilot yg tangkas, cerdas, tampan dan asyik. Dan paling penting, sepaguyuban. Untuk membawa jamaah rombongan ini dengan nyaman ke seberang.
Br: Yang komplit sempurna mah tidak ada. Manusia itu serba ada kekurangan. Bapak nyari pilot atau artis sih ?
Ap: Tapi kami mau pengemudi pesawat yang tangkas, muda, tampan, cantik, sopan, pintar merangkai kata bak puisi narasi dongeng kisah seribu satu malam dari Persia. Juga latar belakang trah garis keturunan sekelas priyayi. Kaya, sepaguyuban, satortoran dan segolongan dengan kami.
Br: Begini saja, Pak Appangaltup. Kami kebetulan punya tiga kandidat tim yang handal. Tim Satu. Kombinasi anak muda yang tampan, cerdas, memikat. Kopilotnya cantik, ramah, sepaguyuban dengan Bapak. Mereka telah teruji mumpuni di bidang masing-masing. Anak muda ini selalu juara dalam kelas olah kanuragan dan berburu. Berasal dari keluarga terhormat dan mewarisi darah tradisi Kesatria. Jawara dalam olah kebatinan, cerdas pula ilmu pengetahuan umum.
Ap: Bisa kagak bawa Pesawat menembus badai?
Br: Itu sih belum teruji. Tapi mereka menjanjikan penerbangan yang nyaman. Tangguh dalam segala cuaca. Siap menampung aspirasi. Sebagai anak muda, menjanjikan terobosan inovatif dengan stamina prima. Layak dicoba.
Ap: Kok coba-coba. Ini nyawa dan masa depan pertaruhannya, Bro. Kalau Tim dua?
Br: Ini kombinasi hebat juga. Kakek sang pilot termasuk peletak dasar organisasi Paguyuban Nusantara yang nasionalis. Anak muda paruh baya. Matang secara emosional dan spritual. Sopan, tampan, dan piawai merangkai kata bak pujangga prosa ajaib. Kopilotnya pun oke punya. Saudagar kaya-raya, walau masih muda. Mewarisi takhta dan bakat dagang tradisi keluarga.

Ap: Boleh juga nih. Kalau bawa pesawat bagaimana?
Br: Itu sih belum teruji. Kemarin itu sang pilot menerbangkan pesawat. Tapi mungkin karena sangat hati-hati, konservatif atau takut menerobos badai dan jebakan halilintar, dia di-grounded dan digantikan orang lain. Wallahu alam. Matang dan berempati dengan kemiskinan. Cerdas menyampaikan gagasan. Ini tim hebat. Beri mereka kesempatan
Ap: Janganlah pertaruhkan masa depan paguyuban berhenti pada gagasan. Kalau tim tiga bagaimana?
Br: Ini mah rada unik. Kombinasi pilot yang handal, reliable dan tangkas bermanuver menembus badai, menerabas tak terduga kesana-kemari. Out of the box pokoknya. Tegas tegak lurus dalam implementasi. Kopilotnya tak kalah hebat pula. Seorang manajer internal yang pas. Sepaguyuban juga dengan Bapak. Dia memberi panggung kepada sang pilot. Meninggikan seranting, mendahulukan selangkah. Menghindari matahari kembar. Sepi ing pamrih rame ing gawe. Pasangan ini telah teruji berhasil melalui jebakan ganasnya maut dan rayuan halilintar. Sayang kekurangannya banyak pula.
Ap: Tak ada gading yang tak retak, Bro. Tapi handal kan? Emang kurangnya dimana?
Br: Sang pilot ini mulutnya terlalu tajam. Meledak-ledak. Terkesan arogan. Ora njawani. Tapi hatinya lembut. Masyarakat bawah diperhatikan betul. Mottonya sederhana, manusiakan rakyat. Kenyangkan perutnya, isi dompetnya, bekali akhlaknya.
Ap: Caranya?
Br: Dia mengoptimalkan resources yang ada. Para juragan pengusaha kaya difasilitasi berbisnis. Tetapi sebagian program orang kaya tersebut harus berkontribusi langsung dengan proyek-proyek rakyat, seperti perbaikan jalan, gorong-gorong, pasar rakyat, sekolahan, balai pengobatan, rumah susun sederhana dan lain-lain.
Ap: Lha.. kalau begitu, bukannya orang kaya semakin kaya dan orang miskin semakin tergantung pada belas kasihan?
Br: Itulah makanya, programnya termasuk membina akhlak, budi pekerti dan nalar generasi muda. Didorongnya mereka belajar agama, dibantu biaya pendidikannya, ada balai latihan kerja, diperhatikan kesejahteraan guru. Anak-anak yang sudah lulus dimagangkan. Satu kata dengan perbuatan. Harapannya ada mobilitas vertikal mengikis lingkaran setan kemiskinan.
Kita harus merajut persaudaraan dengan mengupayakan secara cerdas dan tulus pemerataan kesejahteraan. Bukan dengan pertentangan kelas, atau utak-atik asal usul. Kita memang ditakdirkan dari sononya berbeda. Bukankah motto kita Bhinneka Tunggal Ika.

Ap: Wow, saya pilih tim mana dong?. Tiga-tiganya bagus. Keren
Br: Ingat! Rombongan sampeyan mencari pilot tokh. Have a safe flight

* Sampe L. Purba adalah pemerhati dinamika sosial politik. – Senayan Post 9 Oktober 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s