Partonggo Nautusan

Partonggo Nautusan
Oleh : Sampe L. Purba
Oppu Mangalondut – demikian kakek itu biasa dipanggil – adalah seorang tokoh lintas zaman dari Bius Hariara Jambu Bona – di sekitaran Danau Toba. Pensiunan Asisten Demang, yang melampaui berbagai sejarah bangsa sejak zaman Belanda, Revolusi Kemerdekaan, Orde Lama – Orde Baru hingga era Reformasi. Pada zaman Belanda beliau adalah pemangku adat, pemerintahan dan agama sekaligus dalam kedudukannya sebagai Kapala Nagari – yang merupakan kesatuan otonomi berdasarkan wilayah geneokologis, historis dan geografis pada zaman kolonial.
Pada masa mudanya telah mengembara ke daerah Barus, Gayo, Minang, Deli dan Johor, memperdalam ilmu dan pengalaman – termasuk mengasah olah kanuragan – manandanghon hadatuon dohot undang-undangan. Beliau termasuk Kelompok Parbaringin, suatu tataran eksekutif penasehat Raja dalam Luat Otonomi Kerajaan Batak. Fleksibilitas, hajogion/ kedigdayaan serta interaksi yang luas, membawa beliau sempat menjadi Daidancho (setingkat komandan batalyon) pada zaman Jepang, Perwakilan KNIP di Kresidenan Tapanuli pada masa awal masa Kemerdekaan, hingga Ketua Pembangunan Huria Sabungan pada tahun 60 an. Maka tidak heran – kalau Oppui Ephorus – dalam kunjungan konsolidasi muhibahnya di akhir dekade 80 an, singgah bermalam dan mengadakan evangelisasi dari halaman – antaran na bidang – bekas Onan– leluhur Ompu Mangalondut. Suatu penghormatan historis yang sarat makna.
Saat ini tidak ada lagi jabatan formalnya, maklum sudah sepuh serta anak cucunya telah menyelenggarakan adat raja manggalang mangolu – adat sulang sulang so hariapan (semacam undur diri – madheg mandhito) dari urusan adat. Disiplin hidup yang tinggi – maklum pemegang veteran bintang gerilya – membuat beliau tetap bugar, mengikuti perkembangan kontemporer, serta tetap ditokohkan. Cucunya Mangaraja Mangalondut, cucu panggoaran Sijujung baringinna – Sarjana Nano Fisika Nuklir dan tercatat sebagai associate global academic science – baru baru ini menghadiahinya compact smartphone. Oppu Mangalondut pada usia sesepuh ini masih akrab dengan W.A, twitter, skype atau WeChat, Bahasa sekarang – aptudet – up to date. Pada musim Pilkada misalnya – tidak sedikit TimSes yang berusaha mendaulatnya menjadi Penasehat Paket CaBup si Anu dan Si Polan. Tetapi seperti biasa – beliau menolak dengan halus. Beliau lebih senang menjadi pengayom semua golongan – siharhari na bulut, sihorus na malobihu, parhatian pamonaran, pargantang so ra monggal – yang berdiri di atas semua golongan – ada di mana-mana tetapi tidak kemana-mana.
Sekalipun demikian, apabila Ompu Mangalondut hadir di suatu perhelatan, misalnya mengawali rapat musyawarah kecamatan di balai desa, pesta parheheon naposo bulung, hingga acara tardidi, beliau selalu didaulat untuk memimpin doa. Guru Huria, Voorhanger, Cik Oji atau tuan rumah shohibul bait sekalipun akan membujuk – mangigil – agar beliau yang pimpin doa.Doanya panjang. Mirip perpaduan sastra, tabas, dakwah, jamita, ujar-ujar dan tonggo-tonggo.
Oppung ini lancar dalam maminta gondang, meniup sordam tulila maupun didgeridoo serunai khas kaum aborigin, menabuh gamelan maupun menggesek biola. Komposisi pembuka Als Sprach Zarathustra dari novelis Nietzche adalah salah satu favoritnya. Pernah saya tanya – apakah beliau seorang Sinkretis, Parbaringin atau Guru Zending. Beliau dengan bijak menjelaskan bahwa theologia kita adalah sesuatu yang transeden. Lintas zaman. Narasi dan arti substantif hakekat makrifat suatu doa, adalah kulminasi interpretasi kita yang terbatas, untuk menghadirkan Tuhan yang Tak Terbatas itu. Kita hanya sebatas menduga. Dan kemudian percaya serta mengklaim, bahwa pendekatan dan approach kitalah yang pas dalam mendeskripsi, mengagungkan bahkan “memasung”, Tuhan dalam bingkai iman kita masing masing. Nah lho. Sulit dipahami bukan ?
Banyak di antara kami memandang Oppung ini seorang sakti. Spritualist. Betapa tidak. Beliau dapat dimintai tolong untuk menunda dan mengalihkan hujan, memanggil kawanan kerbau yang hilang, atau menyadarkan anak yang kesurupan – asa mulak tondi tu ruma. Tetapi coba ajak dia diskusi di WA soal aliran musik, lukisan post modernism, atau sastra klasik zaman Renaisance hingga Alexander Pushkin dari Rusia. Dia dapat menguasai alur dan genrenya tetapi juga akrab dengan karya ilmuwan modern seperti Albert Camus, Al Ghazali, Amartya Sen hingga Magnis Suseno, termasuk musik Sam Smith yang bertengger di play list lagu mingguan di Eropa. Diapun dapat memberi angle hal isu LGBT atau setting around reklamasi. Komplit pokoknya.
Sesuai judul di atas, yang mau saya ceritakan adalah hal kepiawiannya berdoa – martonggo – sembahyang – you name it. Kalau beliau berdoa, seolah Tuhan sang pengabul doa itu dekat dengan raihannya. Lamat-lamat, teratur dan seperti sastra andung. Belum lama ini, beliau didaulat berdoa – mengawali syukuran dilantiknya pasangan Bupati di kota Kabupaten. Sang bupati masih terbilang cucu ponakannya, adapun WaBupnya adalah seorang Pujakesuma, anak dari mitra bisnisnya berdagang bahan bangunan – annemer di zaman Malaisse
On ma (lebih kurang) preambule/ pembukaan ni tangiang/ tonggona :
Ompung Mula Jadi Na bolon, Martua Debata, Debata Sitolu Sada, sitolu harajaon sisada ulaon sisada tahi. Debata ni si Adam, Si Abarham, Si Musa, si Raja Batak,, ompu paisada, paidua,Simarimbulu Bosi sahat tu sundut naumposo. Debata Sori, Debata Partuptupan, Sisihathon uli basa tu nasa tinompana. Ho do sigomgom langit dohot tano songon i nang pangisina, silehon aek natio soburan mual mata, sipasindak panaili, sipaulak hosa loja, Debata di balian, Debata di harangan, Debata di huta di siulu balang ari. Asa mardame sonang soharibo riboan na di pangarantoan songon i nang di bona ni ture.
Hutonggo, hupio jala hupangalui hami ma Ho di habangsa habadiaonmi. Hupele hami ma ho sian solom solomanmon marhite situan na hushus, si tuan na uli patumonaan ni pandaraman. Tarlumobi ma sian serep dohot unduk ni roha nami. Asa tuat ma hamu sian habangsa langit sipitu tikka, ombun si pitu lampis, sian bintang na marjombut, sian balik ni galaxy bima sakti, sian mual situdu langit, tu gala gala napulpulan, baringin tumbur jadi, panjampalan nami, di luat Indonesia, koordinat ni bius namion. Na hot di uhum, na jagar di toguan, asa manggomgom manghorasi Ho, tu dolok tu toruan di na marmeang muli, na sintak sumunde na girgir alapan na giot suruon hami naposoM.
Ho do Debata parmahan so mantat batahi, parorot so mantat ulos, pamuro so mantat sior, na so marmula na so marujung, na hot marpatuan di habangsa sian na robi tu na naeng so robi di situmudu ni silaon na bolon.
Mula ni dungdang mula ni sahala, nasintak sumunde, nauja manotari, siboto unung-unung, nauja manangi-nangi. Na takkas do di tanganMu siamun ganjang ni umur, di tanganMu hambirang hadumaon dohot hamuliaon.
Parsaulihon ma tua maima-ima tua mamasu masu, na gabe tohap nami di portibi si sangunjuron, sahat tu pomparannami andorang so bolas hami tu Banua ginjang sambulo ni tondinamii.
Dison tedek do sian ias ni rohanami, mamboan tu joloM amanami, uluan nami ima amanta Bupati, songon i nang Pandua na manjujung sangap nang tohonan marhite Pamarentanami. Asa sada nasida songon daion aek, unang mardua songon daion pola. Asa manimbuk rap tu ginjang, mangangkat rap tu toru. Alai sitongka ma na pasuruthon sian naung parjolo sinahaphonmi.
Ompung Debata, Sahaphon ma tu nasida Sahala raja, Sahala Panguhum na bonar dst…..
Angin sepoi sepoi membuat saya terlelap. Doa dan tonggonya tidak sempat saya ikuti sampai tuntas. Saya beruntung mengenal Oppung ini dari dekat. Ompung ini memang Partonggo Nautusan.

Jakarta, April 2016

Tantangan Masa Depan LNG Indonesia

Tantangan Masa Depan LNG Indonesia

Oleh : Sampe L. Purba

Dalam satu setengah tahun terakhir harga minyak mentah dunia telah turun hampir 400%, dari sebelumnya pada kisaran $ 110/ barrel ke level di bawah $ 30 an. Kontrak kontrak LNG jangka panjang Indonesia saat ini – yang formulanya mengikuti harga minyak mentah ke pasar tradisional Jepang akan berakhir di tahun 2020. Kontrak tersebut ditandatangani tahun 1973 dan 1981 yang lalu, ketika Indonesia memiliki posisi dominan di pasar LNG. Pemain utama saat ini di pasar tradisional regional (Jepang, Korea, Taiwan, China) adalah Australia, Qatar, Malaysia, Nigeria, Rusia bagian Timur dan Trinidad – Tobago. LNG Indonesia dari Tangguh, Masela, kawasan Kalimantan (ENI, Chevron dan Mahakam), akan mencoba masuk bersaing mengisi kekosongan tersebut.

Deregulasi kelistrikan di Jepang mengharuskan persaingan dan efisiensi. Termasuk di dalamnya memisahkan (unbundling) Pembangkit dari Transmisi. Ada juga komitmen bauran energi mengurangi LNG yang saat ini sekitar 46 % menjadi 27% di tahun 2030, untuk digantikan energi terbarukan. Perlambatan pertumbuhan ekonomi di Tiongkok, dan kecenderungan Negara tersebut menggunakan batu bara, serta membawa LNG equitynya dari perusahaannya di luar negeri, membuat pasarnya tidak prospektif. Beberapa kontrak LNG jangka panjangpun diindikasikan untuk dikurangi volumenya. Sedangkan di pasar Korea dan Taiwan, Indonesia belum banyak berpengalaman.

Perkembangan teknologi, ketersediaan kapal, storage serta terminal regasifikasi LNG yang meningkat, dan masuknya Amerika Serikat ke pasar ekspor mengakibatkan liquidnya pasar LNG dunia. Pasar LNG saat ini cenderung bersifat spot. Banyak pembeli LNG bukan pembeli akhir (end user), melainkan pedagang (trader) yang memanfaatkan mekanisme perbedaan harga, waktu delivery dan destinasi untuk mendapatkan keuntungan arbitrage. Pada hal untuk pengembangan lapangan gas agar investor mau FID (Financial Investment Decision), kepastian penyerapan pembelian jangka panjang merupakan keniscayaan.

LNG Indonesia yang baru berasal dari laut dalam, dengan biaya produksi yang lebih mahal, serta ada persaingan antara produser LNG. Ketatnya persaingan akan terefleksi dalam penawaran commercial terms. Utamanya adalah formula harga dengan slope/ koefisien yang lebih rendah, komitmen volume pengambilan, metode pengangkutan dan destinasi yang lebih fleksibel, serta price review clause yang lebih longgar. Kurangnya fleksibilitas komersial dapat membuat tidak kompetitifnya LNG Indonesia di pasar ekspor.

Bagaimana dengan peluang agar LNG Indonesia lebih banyak dioptimalkan di dalam negeri ?

Dalam tahun 2015 misalnya, pasar domestik hanya mampu menyerap sekitar 39 kargo atau 61% dari yang dialokasikan oleh Pemerintah, sehingga sisanya terpaksa diekspor di pasar spot. Selain karena perlambatan ekonomi nasional, mahalnya infrastruktur turut berkontribusi. Sebagai contoh, LNG Tangguh yang landed pricenya sekitar $ 6 – $ 7 di Arun Aceh masih terbebani sekitar $7 lagi untuk biaya terminal, biaya tol pipa transmisi, niaga, dan distribusi hingga tiba di kawasan industri Medan. Hal ini adalah karena infrastruktur terminal dan pipa transmisi yang dibangun afiliasi Pertamina, maupun biaya distribusi yang dibebankan oleh PT. PGN lebih didasarkan pada perhitungan pengembalian investasi dari pengguna eksisting. Bukan berdasarkan kemampuan teknis utilisasi dan kapasitas infrastruktur yang bersifat jangka panjang. Hal yang relatif sama terjadi untuk pemanfaatan di pulau Jawa, terutama yang melalui terminal regasifikasi FSRU Lampung. Adapun FSRU Muara Karang relatif lebih tinggi utilisasinya.

PT PLN yang memegang status monopoli kelistrikan, seyogianya mengemban konsekuensi dan tanggung jawab lebih dari sekedar mencari laba korporasi dengan memprioritaskan harga energi termurah yang bersifat jangka pendek. Sustainabilitas, pengembangan lapangan migas yang bersifat jangka panjang, dan keterpaduan dengan upaya menggeliatkan ekonomi nasional harus juga masuk dalam perhatian utama.

Untuk menciptakan monetisasi demand domestik lainnya diperlukan setidaknya dua hal, yaitu pertama keterpaduan pada lintas Kementerian untuk membangun infrastruktur dan mendorong industri hilir seperti pupuk, petrokimia dan turunannya seperti bahan aromatik, olefin dan plastik. Kedua, untuk kawasan Indonesia bagian Tengah dan Timur, agar diusahakan ada LNG hub yang dapat didarati kapal kecil atau dalam bentuk CNG (compacted Natural Gas). Sementara itu, untuk menyiasati pasar yang ketat, perlu kewenangan pemasaran LNG bersifat tunggal di bawah Pertamina agar produksi domestik tidak saling bersaing tetapi menjadi satu portofolio LNG Indonesia.

 

Jakarta, Januari 2016

Pengamat Menteri versus Menteri Pengamat

Pengamat Menteri versus Menteri Pengamat

Oleh : Sampe L. Purba

Pengamat adalah sejenis mahluk yang diberkahi dengan berbagai kemewahan atas nama mimbar bebas berpendapat di Negara ini. Atas nama terjemahan demokrasi pula, sumbat, sunat dan perangkat sensor sejenisnya diretas habis nyaris tanpa rintangan. Fakta, opini dan ilusi berkelindan menyesak di ruang publik untuk meyakinkan atau menyesatkan khalayak. Sekali merdeka – merdeka sekali.

Pengamat Menteri adalah sematan status kepada mereka – oknum, perorangan atau kelompok yang hobby mengupas status, sikap, tindakan,peri laku dan kebijakan seorang Menteri. Mengamati Menteri memiliki nilai plus yang berbobot pemberitaan. Hal ini mengingat status Menteri yang di mata konstitusi bermarwah tinggi, sekalipun statusnya adalah pembantu Presiden. Tetapi ini bukan sembarang pembantu dalam tataran kacung, jongos atau slave. Mereka adalah pengemban sebagian dari tugas, fungsi, wewenang dan tanggung jawab eksekutif yang dikepalai Presiden.

Pengamat memiliki latar belakang dan motif yang beragam. Ada yang (mendaku) sebagai intelektual, paranormal, para abnormal, pimpinan gangster eLeSeM, kelompok berjubah, penghuni Senayan, Preman atau mantan Menteri. Ada yang keras mengkritisi kebijakan satu kementerian, tetapi diam-diam diikuti dengan proposal minta bantuan atau jadi calo Proyek setengah memeras. Ada yang berusaha mendiskreditkan dan apriori, untuk menarik perhatian kelompok oposisi sehingga dia akan selalu dijadikan nara sumber penyesat di ruang publik. Atau syukur-syukur dilirik Presiden menggantikan Menteri dalam hal terjadi reshuffle. Tetapi ada juga pengamat yang kritis dengan fakta, data, analisis mendalam serta tawaran solusi komprehensif konstruktif dalam memahami dan mengatasi suatu persoalan, atau dalam hal diskursus kebijakan publik yang baru.

Pengamat Menteri – di negara dengan sistem demokrasi Parlementer murni – adalah jabatan bergengsi. Mereka adalah anggota front bench DPR dari Partai Oposisi dengan jabatan resmi Shadow Minister – yang merupakan counterpart untuk setiap Menteri yang duduk di kabinet. Di Australia misalnya, dalam sesi Parliament Question Time (PQT), shadow minister mengkritisi, menguliti dengan pisau analisis data dan fakta – tentu dengan aksentuasi dari sudut pandang oposisi – kebijakan Kementerian dari the sitting government. Mereka tidak asal bunyi.

Apabila setelah Pemilu misalnya dimenangkan Oposisi, pada umumnya shadow minister inilah yang jadi Menteri pemegang portofolio kabinet di bawah Perdana Menteri yang baru.

Akan halnya Menteri Pengamat – ini adalah sejenis spesies mahluk aneh yang hanya ada di Negeri antah berantah. Mahluk ini adalah anggota kabinet yang rajin menyeruduk bak kerbau sinting yang tersengat lebah, mengkritik kinerja sembari merendahkan harkat, martabat dan kompetensi anggota kabinet lainnya. Tanpa ada angin atau asap, mahluk ini sering memberi pernyataan kontroversial. Kalau perlu atasannyapun diajak duel debat di depan publik. Mirip orang yang menderita disorientasi dan disfungsi nalar. Penuh ilusi dan halusinasi

Bukan saja rekan sejawat kabinetnya yang dicerca secara lebay di ruang publik, bahkan terhadap kolega yang satu koordinasi atau dibawah koordinasinyapun diumbar tumpahkan libido kebenciannya. Menteri kelas pengamat ini, pada umumnya adalah ex pengamat yang celakanya lupa atau tidak fokus dengan tugas pokok fungsinya. Atau malah tidak tahu apa yang harus dikerjakannya. Dia mencari panggung. Tidak jelas apakah sedang positioning untuk jabatan yang lebih tinggi pada putaran pemilu mendatang, atau memang senang menikmati dan mengagumi diri sendiri seperti dalam legenda Yunani Narcissus yang lahir dari pasangan dewa Cephissus dan dewi Liriope.

Pada umumnya orang yang garang dan ganas di luar, kepada bawahan atau sub ordinatnya – dalam disiplin psikologi terapan dikenal dengan syndrom inferiority complex compensation.

Serudukan, kepretan, umpatan dan bualannya lebih merupakan kompensasi menutupi kekurangannya dalam ketidak mampuan mengkoordinasi ke dalam, karena bawahannya lebih meaningful, bernas serta bermutu. Tetapi bisa juga karena secara show off / lebay mencari panggung untuk menunjukkan kepada pasangan yang digandrunginya bahwa dia macho dan hebat di luar. Biasanya gejala ini sering terjadi apabila pasangannya di rumah lebih dominan dalam segala hal (ketenaran, popularitas, kecantikan dan daya tahan urusan keintiman luar-dalam). Atau bisa juga kebetulan tim inti dan lingkar dalam Kementeriannya memiliki sindrom yang sama., atau sekelas penjilat dan jongos – asal bapak senang.

Orang ini adalah alumni dan berasal dari jenis mahluk Pengamat Menteri yang memiliki jejaring pers dan lingkungan yang sama-sama memiliki orgasme politik mana kala mengkritik apapun yang dilakukan oleh Pemerintah. Maka selalu tersedia panggung hingar bingar untuk tipe Menteri Pengamat ini.

Satu reservasi pertanyaan penasaran tersisa. Kenapa atasannya membiarkan mahluk ini bersuara bising dan sumbang serta mengganggu harmoni dan ritme kerja tim di Kabinet. Atau jangan-jangan … atasan sang Maestro itu sedang memainkan gendangnya sendiri – semacam nabok nilih tangan – untuk high politics yang diluar jangkauan cakrawala pandang kami. Wallahu alam.

Jakarta, 19 Januari 2016

Pengamat Menteri versus Menteri Pengamat

Oleh : Sampe L. Purba

Pengamat adalah sejenis mahluk yang diberkahi dengan berbagai kemewahan atas nama mimbar bebas berpendapat di Negara ini. Atas nama terjemahan demokrasi pula, sumbat, sunat dan perangkat sensor sejenisnya diretas habis nyaris tanpa rintangan. Fakta, opini dan ilusi berkelindan menyesak di ruang publik untuk meyakinkan atau menyesatkan khalayak. Sekali merdeka – merdeka sekali.

Pengamat Menteri adalah sematan status kepada mereka – oknum, perorangan atau kelompok yang hobby mengupas status, sikap, tindakan,peri laku dan kebijakan seorang Menteri. Mengamati Menteri memiliki nilai plus yang berbobot pemberitaan. Hal ini mengingat status Menteri yang di mata konstitusi bermarwah tinggi, sekalipun statusnya adalah pembantu Presiden. Tetapi ini bukan sembarang pembantu dalam tataran kacung, jongos atau slave. Mereka adalah pengemban sebagian dari tugas, fungsi, wewenang dan tanggung jawab eksekutif yang dikepalai Presiden.

Pengamat memiliki latar belakang dan motif yang beragam. Ada yang (mendaku) sebagai intelektual, paranormal, para abnormal, pimpinan gangster eLeSeM, kelompok berjubah, penghuni Senayan, Preman atau mantan Menteri. Ada yang keras mengkritisi kebijakan satu kementerian, tetapi diam-diam diikuti dengan proposal minta bantuan atau jadi calo Proyek setengah memeras. Ada yang berusaha mendiskreditkan dan apriori, untuk menarik perhatian kelompok oposisi sehingga dia akan selalu dijadikan nara sumber penyesat di ruang publik. Atau syukur-syukur dilirik Presiden menggantikan Menteri dalam hal terjadi reshuffle. Tetapi ada juga pengamat yang kritis dengan fakta, data, analisis mendalam serta tawaran solusi komprehensif konstruktif dalam memahami dan mengatasi suatu persoalan, atau dalam hal diskursus kebijakan publik yang baru.

Pengamat Menteri – di negara dengan sistem demokrasi Parlementer murni – adalah jabatan bergengsi. Mereka adalah anggota front bench DPR dari Partai Oposisi dengan jabatan resmi Shadow Minister – yang merupakan counterpart untuk setiap Menteri yang duduk di kabinet. Di Australia misalnya, dalam sesi Parliament Question Time (PQT), shadow minister mengkritisi, menguliti dengan pisau analisis data dan fakta – tentu dengan aksentuasi dari sudut pandang oposisi – kebijakan Kementerian dari the sitting government. Mereka tidak asal bunyi.

Apabila setelah Pemilu misalnya dimenangkan Oposisi, pada umumnya shadow minister inilah yang jadi Menteri pemegang portofolio kabinet di bawah Perdana Menteri yang baru.

Akan halnya Menteri Pengamat – ini adalah sejenis spesies mahluk aneh yang hanya ada di Negeri antah berantah. Mahluk ini adalah anggota kabinet yang rajin menyeruduk bak kerbau sinting yang tersengat lebah, mengkritik kinerja sembari merendahkan harkat, martabat dan kompetensi anggota kabinet lainnya. Tanpa ada angin atau asap, mahluk ini sering memberi pernyataan kontroversial. Kalau perlu atasannyapun diajak duel debat di depan publik. Mirip orang yang menderita disorientasi dan disfungsi nalar. Penuh ilusi dan halusinasi

Bukan saja rekan sejawat kabinetnya yang dicerca secara lebay di ruang publik, bahkan terhadap kolega yang satu koordinasi atau dibawah koordinasinyapun diumbar tumpahkan libido kebenciannya. Menteri kelas pengamat ini, pada umumnya adalah ex pengamat yang celakanya lupa atau tidak fokus dengan tugas pokok fungsinya. Atau malah tidak tahu apa yang harus dikerjakannya. Dia mencari panggung. Tidak jelas apakah sedang positioning untuk jabatan yang lebih tinggi pada putaran pemilu mendatang, atau memang senang menikmati dan mengagumi diri sendiri seperti dalam legenda Yunani Narcissus yang lahir dari pasangan dewa Cephissus dan dewi Liriope.

Pada umumnya orang yang garang dan ganas di luar, kepada bawahan atau sub ordinatnya – dalam disiplin psikologi terapan dikenal dengan syndrom inferiority complex compensation.

Serudukan, kepretan, umpatan dan bualannya lebih merupakan kompensasi menutupi kekurangannya dalam ketidak mampuan mengkoordinasi ke dalam, karena bawahannya lebih meaningful, bernas serta bermutu. Tetapi bisa juga karena secara show off / lebay mencari panggung untuk menunjukkan kepada pasangan yang digandrunginya bahwa dia macho dan hebat di luar. Biasanya gejala ini sering terjadi apabila pasangannya di rumah lebih dominan dalam segala hal (ketenaran, popularitas, kecantikan dan daya tahan urusan keintiman luar-dalam). Atau bisa juga kebetulan tim inti dan lingkar dalam Kementeriannya memiliki sindrom yang sama., atau sekelas penjilat dan jongos – asal bapak senang.

Orang ini adalah alumni dan berasal dari jenis mahluk Pengamat Menteri yang memiliki jejaring pers dan lingkungan yang sama-sama memiliki orgasme politik mana kala mengkritik apapun yang dilakukan oleh Pemerintah. Maka selalu tersedia panggung hingar bingar untuk tipe Menteri Pengamat ini.

Satu reservasi pertanyaan penasaran tersisa. Kenapa atasannya membiarkan mahluk ini bersuara bising dan sumbang serta mengganggu harmoni dan ritme kerja tim di Kabinet. Atau jangan-jangan … atasan sang Maestro itu sedang memainkan gendangnya sendiri – semacam nabok nilih tangan – untuk high politics yang diluar jangkauan cakrawala pandang kami. Wallahu alam.

Jakarta, 19 Januari 2016

Pengamat Menteri versus Menteri Pengamat

Oleh : Sampe L. Purba

Pengamat adalah sejenis mahluk yang diberkahi dengan berbagai kemewahan atas nama mimbar bebas berpendapat di Negara ini. Atas nama terjemahan demokrasi pula, sumbat, sunat dan perangkat sensor sejenisnya diretas habis nyaris tanpa rintangan. Fakta, opini dan ilusi berkelindan menyesak di ruang publik untuk meyakinkan atau menyesatkan khalayak. Sekali merdeka – merdeka sekali.

Pengamat Menteri adalah sematan status kepada mereka – oknum, perorangan atau kelompok yang hobby mengupas status, sikap, tindakan,peri laku dan kebijakan seorang Menteri. Mengamati Menteri memiliki nilai plus yang berbobot pemberitaan. Hal ini mengingat status Menteri yang di mata konstitusi bermarwah tinggi, sekalipun statusnya adalah pembantu Presiden. Tetapi ini bukan sembarang pembantu dalam tataran kacung, jongos atau slave. Mereka adalah pengemban sebagian dari tugas, fungsi, wewenang dan tanggung jawab eksekutif yang dikepalai Presiden.

Pengamat memiliki latar belakang dan motif yang beragam. Ada yang (mendaku) sebagai intelektual, paranormal, para abnormal, pimpinan gangster eLeSeM, kelompok berjubah, penghuni Senayan, Preman atau mantan Menteri. Ada yang keras mengkritisi kebijakan satu kementerian, tetapi diam-diam diikuti dengan proposal minta bantuan atau jadi calo Proyek setengah memeras. Ada yang berusaha mendiskreditkan dan apriori, untuk menarik perhatian kelompok oposisi sehingga dia akan selalu dijadikan nara sumber penyesat di ruang publik. Atau syukur-syukur dilirik Presiden menggantikan Menteri dalam hal terjadi reshuffle. Tetapi ada juga pengamat yang kritis dengan fakta, data, analisis mendalam serta tawaran solusi komprehensif konstruktif dalam memahami dan mengatasi suatu persoalan, atau dalam hal diskursus kebijakan publik yang baru.

Pengamat Menteri – di negara dengan sistem demokrasi Parlementer murni – adalah jabatan bergengsi. Mereka adalah anggota front bench DPR dari Partai Oposisi dengan jabatan resmi Shadow Minister – yang merupakan counterpart untuk setiap Menteri yang duduk di kabinet. Di Australia misalnya, dalam sesi Parliament Question Time (PQT), shadow minister mengkritisi, menguliti dengan pisau analisis data dan fakta – tentu dengan aksentuasi dari sudut pandang oposisi – kebijakan Kementerian dari the sitting government. Mereka tidak asal bunyi.

Apabila setelah Pemilu misalnya dimenangkan Oposisi, pada umumnya shadow minister inilah yang jadi Menteri pemegang portofolio kabinet di bawah Perdana Menteri yang baru.

Akan halnya Menteri Pengamat – ini adalah sejenis spesies mahluk aneh yang hanya ada di Negeri antah berantah. Mahluk ini adalah anggota kabinet yang rajin menyeruduk bak kerbau sinting yang tersengat lebah, mengkritik kinerja sembari merendahkan harkat, martabat dan kompetensi anggota kabinet lainnya. Tanpa ada angin atau asap, mahluk ini sering memberi pernyataan kontroversial. Kalau perlu atasannyapun diajak duel debat di depan publik. Mirip orang yang menderita disorientasi dan disfungsi nalar. Penuh ilusi dan halusinasi

Bukan saja rekan sejawat kabinetnya yang dicerca secara lebay di ruang publik, bahkan terhadap kolega yang satu koordinasi atau dibawah koordinasinyapun diumbar tumpahkan libido kebenciannya. Menteri kelas pengamat ini, pada umumnya adalah ex pengamat yang celakanya lupa atau tidak fokus dengan tugas pokok fungsinya. Atau malah tidak tahu apa yang harus dikerjakannya. Dia mencari panggung. Tidak jelas apakah sedang positioning untuk jabatan yang lebih tinggi pada putaran pemilu mendatang, atau memang senang menikmati dan mengagumi diri sendiri seperti dalam legenda Yunani Narcissus yang lahir dari pasangan dewa Cephissus dan dewi Liriope.

Pada umumnya orang yang garang dan ganas di luar, kepada bawahan atau sub ordinatnya – dalam disiplin psikologi terapan dikenal dengan syndrom inferiority complex compensation.

Serudukan, kepretan, umpatan dan bualannya lebih merupakan kompensasi menutupi kekurangannya dalam ketidak mampuan mengkoordinasi ke dalam, karena bawahannya lebih meaningful, bernas serta bermutu. Tetapi bisa juga karena secara show off / lebay mencari panggung untuk menunjukkan kepada pasangan yang digandrunginya bahwa dia macho dan hebat di luar. Biasanya gejala ini sering terjadi apabila pasangannya di rumah lebih dominan dalam segala hal (ketenaran, popularitas, kecantikan dan daya tahan urusan keintiman luar-dalam). Atau bisa juga kebetulan tim inti dan lingkar dalam Kementeriannya memiliki sindrom yang sama., atau sekelas penjilat dan jongos – asal bapak senang.

Orang ini adalah alumni dan berasal dari jenis mahluk Pengamat Menteri yang memiliki jejaring pers dan lingkungan yang sama-sama memiliki orgasme politik mana kala mengkritik apapun yang dilakukan oleh Pemerintah. Maka selalu tersedia panggung hingar bingar untuk tipe Menteri Pengamat ini.

Satu reservasi pertanyaan penasaran tersisa. Kenapa atasannya membiarkan mahluk ini bersuara bising dan sumbang serta mengganggu harmoni dan ritme kerja tim di Kabinet. Atau jangan-jangan … atasan sang Maestro itu sedang memainkan gendangnya sendiri – semacam nabok nilih tangan – untuk high politics yang diluar jangkauan cakrawala pandang kami. Wallahu alam.

Jakarta, 19 Januari 2016Pengamat Menteri versus Menteri Pengamat
Oleh : Sampe L. Purba
Pengamat adalah sejenis mahluk yang diberkahi dengan berbagai kemewahan atas nama mimbar bebas berpendapat di Negara ini. Atas nama terjemahan demokrasi pula, sumbat, sunat dan perangkat sensor sejenisnya diretas habis nyaris tanpa rintangan. Fakta, opini dan ilusi berkelindan menyesak di ruang publik untuk meyakinkan atau menyesatkan khalayak. Sekali merdeka – merdeka sekali.
Pengamat Menteri adalah sematan status kepada mereka – oknum, perorangan atau kelompok yang hobby mengupas status, sikap, tindakan,peri laku dan kebijakan seorang Menteri. Mengamati Menteri memiliki nilai plus yang berbobot pemberitaan. Hal ini mengingat status Menteri yang di mata konstitusi bermarwah tinggi, sekalipun statusnya adalah pembantu Presiden. Tetapi ini bukan sembarang pembantu dalam tataran kacung, jongos atau slave. Mereka adalah pengemban sebagian dari tugas, fungsi, wewenang dan tanggung jawab eksekutif yang dikepalai Presiden.
Pengamat memiliki latar belakang dan motif yang beragam. Ada yang (mendaku) sebagai intelektual, paranormal, para abnormal, pimpinan gangster eLeSeM, kelompok berjubah, penghuni Senayan, Preman atau mantan Menteri. Ada yang keras mengkritisi kebijakan satu kementerian, tetapi diam-diam diikuti dengan proposal minta bantuan atau jadi calo Proyek setengah memeras. Ada yang berusaha mendiskreditkan dan apriori, untuk menarik perhatian kelompok oposisi sehingga dia akan selalu dijadikan nara sumber penyesat di ruang publik. Atau syukur-syukur dilirik Presiden menggantikan Menteri dalam hal terjadi reshuffle. Tetapi ada juga pengamat yang kritis dengan fakta, data, analisis mendalam serta tawaran solusi komprehensif konstruktif dalam memahami dan mengatasi suatu persoalan, atau dalam hal diskursus kebijakan publik yang baru.
Pengamat Menteri – di negara dengan sistem demokrasi Parlementer murni – adalah jabatan bergengsi. Mereka adalah anggota front bench DPR dari Partai Oposisi dengan jabatan resmi Shadow Minister – yang merupakan counterpart untuk setiap Menteri yang duduk di kabinet. Di Australia misalnya, dalam sesi Parliament Question Time (PQT), shadow minister mengkritisi, menguliti dengan pisau analisis data dan fakta – tentu dengan aksentuasi dari sudut pandang oposisi – kebijakan Kementerian dari the sitting government. Mereka tidak asal bunyi.
Apabila setelah Pemilu misalnya dimenangkan Oposisi, pada umumnya shadow minister inilah yang jadi Menteri pemegang portofolio kabinet di bawah Perdana Menteri yang baru.
Akan halnya Menteri Pengamat – ini adalah sejenis spesies mahluk aneh yang hanya ada di Negeri antah berantah. Mahluk ini adalah anggota kabinet yang rajin menyeruduk bak kerbau sinting yang tersengat lebah, mengkritik kinerja sembari merendahkan harkat, martabat dan kompetensi anggota kabinet lainnya. Tanpa ada angin atau asap, mahluk ini sering memberi pernyataan kontroversial. Kalau perlu atasannyapun diajak duel debat di depan publik. Mirip orang yang menderita disorientasi dan disfungsi nalar. Penuh ilusi dan halusinasi
Bukan saja rekan sejawat kabinetnya yang dicerca secara lebay di ruang publik, bahkan terhadap kolega yang satu koordinasi atau dibawah koordinasinyapun diumbar tumpahkan libido kebenciannya. Menteri kelas pengamat ini, pada umumnya adalah ex pengamat yang celakanya lupa atau tidak fokus dengan tugas pokok fungsinya. Atau malah tidak tahu apa yang harus dikerjakannya. Dia mencari panggung. Tidak jelas apakah sedang positioning untuk jabatan yang lebih tinggi pada putaran pemilu mendatang, atau memang senang menikmati dan mengagumi diri sendiri seperti dalam legenda Yunani Narcissus yang lahir dari pasangan dewa Cephissus dan dewi Liriope.
Pada umumnya orang yang garang dan ganas di luar, kepada bawahan atau sub ordinatnya – dalam disiplin psikologi terapan dikenal dengan syndrom inferiority complex compensation.
Serudukan, kepretan, umpatan dan bualannya lebih merupakan kompensasi menutupi kekurangannya dalam ketidak mampuan mengkoordinasi ke dalam, karena bawahannya lebih meaningful, bernas serta bermutu. Tetapi bisa juga karena secara show off / lebay mencari panggung untuk menunjukkan kepada pasangan yang digandrunginya bahwa dia macho dan hebat di luar. Biasanya gejala ini sering terjadi apabila pasangannya di rumah lebih dominan dalam segala hal (ketenaran, popularitas, kecantikan dan daya tahan urusan keintiman luar-dalam). Atau bisa juga kebetulan tim inti dan lingkar dalam Kementeriannya memiliki sindrom yang sama., atau sekelas penjilat dan jongos – asal bapak senang.
Orang ini adalah alumni dan berasal dari jenis mahluk Pengamat Menteri yang memiliki jejaring pers dan lingkungan yang sama-sama memiliki orgasme politik mana kala mengkritik apapun yang dilakukan oleh Pemerintah. Maka selalu tersedia panggung hingar bingar untuk tipe Menteri Pengamat ini.
Satu reservasi pertanyaan penasaran tersisa. Kenapa atasannya membiarkan mahluk ini bersuara bising dan sumbang serta mengganggu harmoni dan ritme kerja tim di Kabinet. Atau jangan-jangan … atasan sang Maestro itu sedang memainkan gendangnya sendiri – semacam nabok nilih tangan – untuk high politics yang diluar jangkauan cakrawala pandang kami. Wallahu alam.
Jakarta, 19 Januari 2016

Masalah Gas – Persoalan Infrastruktur dan Komponen Harga

Persoalan Gas – masalah infrastruktur dan komponen harga
Oleh : Sampe L. Purba
Persoalan gas meliputi lima aspek yaitu penyediaan (supply), permintaan (demand), sarana transmisi dan distribusi (infrastruktur), harga dan regulasi. Dari sisi penyediaan, tidak ada jaminan bahwa jumlah cadangan gas yang diperkirakan, akan benar-benar dapat direalisir. Sementara untuk mendapatkan sumber gas baru memerlukan jeda waktu lama, keteknikan serta keekonomian yang rumit. Sumatera Utara misalnya. Sumber gas relatif adalah dari lapangan tua, aset unit I Pertamina EP di daerah Pangkalan Susu dan lapangan Benggala yang mulai menurun produktivitasnya, sementara supply tambahan dari lapangan seperti Gebang, Blok A Peureulak, atau Krueng Mane belum akan terealisir dalam waktu dekat. Karena itu, opsi yang tersedia adalah dengan memasukkan LNG (gas alam cair) ke terminal penerima dan regasifikasi (receiving terminal), yang dikelola Pertamina Arun Gas (PT. PAG), untuk selanjutnya disalurkan ke pembeli (demand) melalui pipa transmisi Arun – Belawan untuk memenuhi kebutuhan industri dan kelistrikan di Provinsi Aceh dan Sumatera Utara. Jaringan pipa dioperasikan oleh anak Perusahaan Pertamina yaitu, PT. Pertagas, sementara gas dibeli dan dialirkan oleh PT. PGN (Perusahaan Gas Negara) dan trader lainnya untuk industri, dan PT. PLN untuk kelistrikan.
Harga LNG spot dunia saat ini rata-rata adalah antara $7 – $8/ mmbtu. Terminal LNG di Arun dapat menerima pasokan LNG dari Tangguh Papua, Donggi Sulawesi, atau dibeli dari berbagai belahan dunia lainnya, seperti Qatar, Afrika atau pedagang LNG pemilik portofolio. Namun demikian, biaya pembelian gas di tingkat konsumen di Sumatera Utara, telah mencapai lebih kurang $14 – $15/ mmbtu. Atau meningkat sekitar 100%. Tidak kurang dari Gubernur Sumatera Utara, dan Aliansi Pengguna Gas di Sumatera Utara menyurati dan mengeluhkan hal tersebut kepada Presiden RI, dengan tembusan para Menteri terkait dan Dewan Perwakilan Rakyat serta Dewan Perwakilan Daerah.
Akar masalah sesungguhnya bukan karena tidak tersedia gas. Tetapi lebih ke masalah mata rantai struktur harga infrastruktur. Terminal regasifikasi PAG memiliki kapasitas 405 mmcfd (juta kaki kubik)/ hari, pipa transmisi Arun – Belawan kapasitas 300 MMSCFD. Kebutuhan gas di Sumatera Utara untuk Industri hanya sekitar 75 mmcfd. Sementara sampai saat ini hanya beberapa cargo LNG yang dibeli oleh PLN. Artinya desain kapasitas infrastruktur tidak semata-mata untuk melayani pengguna dan pembeli gas saat ini (eksisting), tetapi juga adalah untuk antisipasi ekspansi ke depan. Sebagai informasi, untuk mengeksplorasi hingga memproduksi dan menghasilkan gas, diperlukan waktu lebih kurang 10 – 15 tahun, dan mampu menjaga rata-rata gas di hulu $7-$8. Biaya angkut LNG dari Papua – ke Arun tidak sampai $1/ mmbtu, untuk jarak lebih dari 7.000 km. Sementara toll fee penggunaan pipa dari Arun ke Belawan, yang hanya berjarak 310 km, di atas $2.5/ mmbtu. Komponen biaya lainnya adalah biaya akses masuk terminal Arun, biaya regasifikasi LNG, iuran niaga, biaya distribusi, over head dan margin, serta pajak-pajak. Pengguna gas berada pada posisi tawar yang lebih lemah. Hal ini terutama adalah karena pabrik yang didesain adalah untuk menggunakan gas sebagai sumber tenaga listrik, atau bahan baku dari supplier tertentu. Tidak seperti di Negara maju misalnya Amerika Serikat, yang infrastruktur transmisi dan distribusi, serta pedagang gas cukup merata, sehingga tercipta pasar yang efisien. Tidak ada posisi dominan yang dapat mendikte pasar.
Infrastruktur gas di Indonesia adalah monopoli alamiah. Itu memerlukan investasi besar, yang harus memiliki jaminan pengembalian investasi dan margin yang memadai. Dengan tidak adanya kepastian sisi supply, maupun demand akan membuat Proyek tidak ekonomis. Masing-masing korporasi memiliki tuntutan dan target KPI (Key Performance Indicator), kepada Share holders yaitu Menteri dan Komisaris serta pemegang saham dalam konteks Perusahaan Terbuka. Apakah biaya pemanfaatan, penggunaan dan margin dibebankan sepenuhnya kepada eksisting pembeli dan pengguna gas ?. Apakah margin juga merupakan pemupukan modal untuk membangun infrastruktur di daerah lain ?
Pemerintah belum lama ini, mengeluarkan paket insentif kebijakan gas untuk stimulan ekonomi. Keluhan pengguna gas untuk mendapatkan harga gas yang terjangkau, tidak hanya dibebankan secara langsung dengan mengurangi porsi bagian Pemerintah. Tetapi dengan mengefisienkan jalur distribusi. Itulah bunyi eksplisit beleid Pemerintah tersebut.
Gas adalah energi sumber daya penggerak ekonomi secara fundamental dan berkelanjutan. Pemerintah perlu hadir, termasuk mengatur laba yang wajar bagi Perusahaan, dan tidak dibebankan secara serta merta dan seketika hanya kepada pengguna saat ini. Infrastruktur terminal, regasifikasi dan jaringan distribusi adalah modal jangka panjang bagi Perusahaan yang secara teknis ekonomis dapat digunakan puluhan tahun. Sementara bagi Industri maupun PLN, gas adalah seperti makanan yang merupakan kebutuhan hidup harian. Dalam konteks ini, wacana kehadiran Badan Penyangga atau agregator , yang bertanggung jawab untuk membeli gas pada harga keekonomian lapangan, menyalurkannya sesuai daya beli segmentasi pengguna, serta menyediakan infrastruktur dan akses mungkin sudah saatnya dipertimbangkan. Dengan demikian – visi Nawacita Pemerintah di bidang infrastruktur dapat terealisir.
Jakarta, November 2015

Laut Cina Selatan – Pertarungan Hegemoni Geopolitik dan Energi

Laut Cina Selatan : Pertarungan hegemoni Geopolitik dan Energi

Oleh : Sampe L. Purba

Pemerintah Tiongkok sejak masa Kuo Min Tang telah mengklaim perairan teritorial atas Laut Cina Selatan (LCS) yang terkenal dengan istilah nine dash line. Dari 8 Negara yang tumpang tindih, beberapa berusaha menyelesaikan perselisihan melalui pengembangan kawasan bersama, perundingan bilateral, multi lateral, atau mengajukan ke Mahkamah Internasional di bawah PBB. Indonesia memilih tidak menjadi claimant state, karena lebih percaya dengan komitmen dan dialog dengan pemerintah Tiongkok. Namun, sebagaimana dikutip di berbagai media, Pemerintahan Presiden Jokowi baru-baru ini menunjukkan sikap yang lebih tegas, termasuk dengan mengirim beberapa pesawat militer ke kawasan tumpang tindih Natuna, sebagai sinyal keseriusan menjaga integritas wilayah.
Belum lama ini India – Amerika dan Jepang mengeluarkan pernyataan bersama untuk mendapatkan jaminan kebebasan akses navigasi dan jalur perdagangan maritim di seluruh dunia, termasuk LCS. Amerika yang tidak termasuk penandatangan Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) mengatakan bahwa setiap negara berhak melakukan kegiatan militer secara damai tanpa perlu persetujuan Negara di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Hal ini mendapatkan penentangan kuat dari Pemerintah Tiongkok
Amerika Serikat memandang bahwa akses bebas ke Laut Cina Selatan adalah kepentingan ekonomi dan geo politik utama di kawasan Pasifik Barat. LCS adalah jalur energi dan distribusi komoditas Industri dari Afrika dan Timur Tengah ke negara Industri Jepang, Korea, Taiwan dan Cina. 25% komoditas global, sepertiga LNG dunia, 80% minyak mentah ke Jepang, dan 40% impor minyak Cina melalui kawasan ini.
Pada bulan Mei 2015, China Institute of International Studies memperkirakan cadangan minyak 827 juta ton, dan 4 milyar kubik meter gas di kawasan dot line saja. Berdasarkan Bab 1 pasal 2 Peraturan Eksplorasi Migas dengan Perusahaan Asing, Pemerintah Tiongkok menegaskan bahwa seluruh sumber daya migas dalam perairan dalam, laut teritorial dan landas kontinen serta sumber daya maritim nasional berada di bawah jurisdiksi Pemerintah Tiongkok.
Pada titik ini Indonesia memiliki kepentingan. Lebih dari 10 wilayah kerja eksplorasi migas saat ini berada di garis perbatasan Natuna. Lebih dari empat wilayah kerja migas tersebut, berada pada area tumpang tindih ZEE dengan Vietnam, yang sekaligus juga tumpang tindih dengan klaim Pemerintah Tiongkok. Belum satupun dari wilayah kerja yang digarap serius yang ditandai dengan aktivitas permanen seperti anjungan lepas pantai pengeboran dan produksi misalnya. Rata-rata Kontraktor pemegang konsesi meminta perpanjangan jangka waktu eksplorasi, yang patut diduga sambil menunggu kepastian atas klaim kewilayahan. Beberapa dari pemegang konsesi adalah juga afiliasi yang sama pada perbatasan di sisi Vietnam.
Beberapa perusahaan kontraktor migas Indonesia telah beroperasi dan berproduksi di kawasan yang tidak terkena tumpang tindih. Bahkan pipa jalur transmisi gas bawah laut sepanjang 654 km pun telah tersambung dari Kepulauan Natuna hingga ke Singapura (jaringan pipa WNTS) sejak tahun 2001. Diharapkan jalur pipa strategis ini harus juga menyatu dan tersambung ke sistem jaringan domestik, melalui pulau Batam. Hal ini penting, selain untuk membuka akses gas dari perbatasan, adalah untuk menunjukkan keterpaduan infrastruktur dari perbatasan hingga ke domestik.
Kawasan LCS adalah medan pertempuran perebutan hegemoni perdagangan antara poros Amerika Serikat dengan bendera TPP (Trans Pacific Partnership), serta Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang dikomandani Tiongkok. Indonesia yang sebelumnya hanya tergabung di RCEP telah menunjukkan minatnya untuk juga bergabung di TPP. Dapat dimengerti, salah satu aspek strategis yang dibidik Pemerintah Presiden Jokowi dalam hal ini adalah untuk mengurangi dominasi Tiongkok dan mencoba membawa Amerika Serikat ke dalam pusaran ini.
Kawasan perbatasan harus segera digarap. Kontraktor Kontrak kerja sama harus diberi insentif fiskal dan kemudahan, kalau perlu dengan bagi hasil 100%, di luar pajak. Namun, sejak awal perusahaan Negara harus ikut menjadi mitra aktif – yang berfungsi sebagai mata dan telinga Pemerintah Indonesia di perbatasan. Mitra asing itu harus menyerahkan sejumlah dana dalam rekening bersama dengan Perusahaan Negara yang khusus dibentuk untuk mengelola wilayah kerja perbatasan, sebagai tanda dan wujud keseriusan.
Tugas utama perusahaan yang bekerja di wilayah perbatasan adalah untuk menjaga integritas wilayah, bukan mencari migas. Ini analog dengan petugas sekuriti yang kalau perlu dibayar untuk menjaga keamanan. Anjungan lepas pantai, sistem transportasi, logistik dan komunikasi harus didesain sedemikian, untuk dapat menunjang tugas-tugas pengamanan wilayah. Dalam penyelesaian sengketa perbatasan di Mahkamah Internasional, salah satu doktrin yang dianut adalah doktrin pendudukan efektif (effective occupation doctrine). Ini jugalah salah satu faktor yang membuat Indonesia kalah dari Malaysia di kasus Sipadan – Ligitan. Pihak Indonesia hanya berkutat memperpanjang jangka waktu eksplorasi karena tidak kunjung ada aktivitas, sementara Pemerintah Malaysia telah membangun resor dan sebagainya. Itu tidak boleh terulang.
Harus ada perubahan paradigma. Migas sebagai bagian dari Energi – harus difungsikan sebagai salah satu gatra strategis modal pembangunan nasional, dalam menjaga keutuhan dan integritas NKRI.
Jakarta, November 2015

Menyoal Sesat Pikir Fit and Proper Test

Oleh : Sampe L. Purba
Berdasarkan pasal 20A Undang-undang Dasar (UUD) 1945 fungsi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) hanya tiga, yaitu fungsi legislasi, fungsi anggaran dan fungsi pengawasan. Menyangkut endorsement/ persetujuan atas kelembagaan dan perorangan, UUD secara tegas dan limitatif hanya memberi peran kepada DPR untuk jabatan tertentu. Jabatan dimaksud adalah pertimbangan penempatan dan penerimaan duta besar, pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan, persetujuan anggota Komisi Yudisial, dan pengajuan sepertiga anggota hakim Mahkamah Konstitusi.
Untuk dapat disyahkannya suatu Undang-undang harus memerlukan kerja sama Eksekutif (Presiden) dan DPR. Atas justifikasi refleksi representasi kedaulatan rakyat, kompromi realistis pragmatis dapat menjadi keniscayaan. Kewenangan DPR pun diperluas. Kita saksikan hampir seluruh jabatan publik tertinggi di Republik ini harus melalui fit and proper test di DPR. Dan itu dicantumkan di Undang-undang terkait. Sebutlah Mahkamah Agung, Dewan Gubernur Bank Indonesia, Panglima TNI atau Kepala Polisi Republik Indonesia, yaitu Lembaga yang disebut dalam UUD. Undang Undang Dasar saja tidak memberikan kewenangan pemilihan atau pengesahannya kepada DPR.,
Kalau tujuannya adalah untuk mendapatkan dukungan akseptabilitas publik melalui lembaga DPR, menurut kami ini adalah sebuah sesat pikir. Kita harus konsisten dengan Undang-undang Dasar. Sesuatu yang sudah limitatif jelas tidak perlu diperluas. Sampai tingkat tertentu itu dapat merupakan abuse of power yang dilegitimasi melalui kooptasi pintu undang-undang.
Perluasan kewenangan ini merambat ke hampir semua pengisian jabatan publik dan eksekutif strategis. Sebutlah misalnya Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi, Komisi Penyiaran Indonesia, Anggota Komnas HAM, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban, anggota Komisi Pemilihan Umum, Otoritas Jasa Keuangan, hingga Kepala BPMIGAS.
Lembaga DPR adalah lembaga politik. Apakah DPR perlu terlibat untuk pengangkatan pejabat publik atau pejabat eksekutif sebagai bagian dari fungsi pengawasannya. Ada beberapa ahli tata negara berpendapat bahwa beberapa jabatan publik yang berdimensi politis memerlukan konfirmasi sebagai bagian dari akseptabilitas dukungan rakyat (control of political appointment of public official). Di Amerika Serikat misalnya, sekalipun dalam sistem presidensial, beberapa jabatan seperti Jaksa Agung dan Menteri Luar Negeri memang memerlukan konfirmasi Senat. Namun sifatnya adalah sebagai sinyal kepada Presiden sebelum memilih para pembantu utamanya.

Praktek yang terjadi di sini adalah dalam bentuk fit and proper test. Untuk mengisi jabatan tertentu, yang telah melalui serangkaian seleksi internal yang ketat, ataupun panitia seleksi yang bersifat eksternal, masih harus diuji kompetensi teknisnya di Komisi DPR yang membidanginya. Tidak cukup hanya uji integritas menyeluruh atas visi misinya. Menjadi pertanyaan, seberapa kompeten dan kapabel anggota komisi di Dewan yang menguji dibandingkan dengan kandidat yang diuji. Apakah pengetahuan hukum seorang Hakim Tinggi yang telah berkarier puluhan tahun dan menangani ratusan perkara, atau profesionalisme seorang eksekutif perbankan, atau seorang Jenderal pantas ditanyai dan diuji dalam sidang terbuka yang hanya berlangsung beberapa jam. Bagaimana kredibilitas model fit and proper test yang demikian
Suatu organisasi yang telah establish, memiliki pola pembinaan penjenjangan karier melalui penugasan, pendidikan, pelatihan, dan pematangan eksposure selama puluhan tahun. Harusnya dalam Organisasi yang demikian, polanya adalah seleksi tertutup. Untuk militer atau kepolisian misalnya. Untuk menduduki jabatan tertentu, track record dalam penugasan di kewilayahan, kesatuan tempur, staf dan lembaga pendidikan merupakan determinan utama yang dipertimbangkan dewan kepangkatan dan jabatan tinggi untuk promosi. Pada akhirnya pengguna dan penanggungjawab terakhir satuan dan institusi tersebut adalah Presiden dalam sistem Presidensial. Presiden memegang kekuasaan pemerintahan menurut Undang-undang Dasar. Itulah hak prerogatifnya.
Mempersyaratkan persetujuan atau rekomendasi dari lembaga politik seperti DPR atau Komisi Kepolisian Nasional kepada kandidat yang akan dipromosikan di jabatan eksekutif, akan dapat menimbulkan kesetiaan ganda. Atau merangsang timbulnya jalur instan yang berkelindan dengan kepentingan politik. Apalagi kalau rekomendasi tersebut diperoleh dengan margin tipis melalui voting/ pemungutan suara.
Pengisian jabatan publik harus dipetakan dan dibedakan. Ada yang elected, selected atau appointed. Kalau disama ratakan akan dapat mengganggu fondasi sistem pembinaan karier, kultur organisasi dan menutup kesempatan yang berpotensi melanggar hak dari pegawai atau karyawan yang telah membina karier di suatu institusi yang telah matang.
Rekrutmen jabatan publik yang bersifat ad hoc, terbuka dan tidak melalui jenjang karier, serta tidak heavy ke eksekutif, wajar diajukan melalui pola election di Dewan Perwakilan Rakyat. Agar akuntabilitasnya terjaga, perlu ada panitia seleksi yang menjaring, menyaring, uji integritas publik dan menetapkan kriteria dan parameter kandidat. Pengisian anggota KomNas HAM, Komisi-komisi Negara lainnya dapat melalui jalur ini.
Untuk jabatan yang heavy eksekutif, cukup dengan pola selection melalui mekanisme yang ada di Pemerintahan, misalnya Dewan Jabatan dan Kepangkatan Tinggi di Militer, atau Badan Pertimbangan Jabatan serta Tim Seleksi Penentu Akhir untuk Jabatan Kepala Badan dan Eselon I di Birokrasi.
Adapun untuk rekrutmen yang sifatnya appointed merupakan diskresi dari pengguna Pejabat dari sejumlah kandidat yang memenuhi persyaratan. Pintu appointed pun tidak boleh sekali-kali digunakan sebagai short cut yang memotong jalur pejabat karier di suatu organisasi.

Penulis, Praktisi Birokrasi
Jakarta, 8 Pebruari 2015

Menyambut 2015 : Mantra Sakti – Size, Endurance, Velocity

Menyambut 2015 : Mantra Sakti – Size, Endurance, Velocity
Oleh Sampe L. Purba
The survival of the fittest adalah hukum besi kehidupan. Ini adalah deklarasi pertandingan persaingan di tengah persandingan bagi seluruh organisme mulai dari protozoa bersel satu tidak sempurna, raksasa lewiatan, binatang liar hingga manusia. Tidak terkecuali Negara, yang dalam teori Lebensreum dianggap suatu organisme yang memerlukan ruang hidup kalau perlu merebut teritori zona aman tetangga dengan kesopanan diplomasi yang menusuk elegan.
Size (ukuran), Endurance (daya tahan), Velocity (kecepatan) merupakan instrumen yang penggunaannya harus tepat agar menghasilkan resultan vektor yang optimal serta disesuaikan dan menyesuaikan dengan medan tempur, asesmen kemampuan internal, dan ancaman eksternal. Dalam proses pembuahan misalnya. Jutaan benih sperm yang tersemprot bersaing dengan kecepatan (velocity) 40 km/ jam untuk merebut satu sel telur. Namun begitu saingan telah terlewat, sang benih yang unggul memperlambat lajunya hingga 0,3 cm/ jam. Dalam 3 – 5 hari sang benih pedekate yang menuntut kesabaran (endurance) untuk menarik perhatian sang indung telur agar menempel dan menghasilkan pembuahan sempurna. Sementara bagi dua mahluk/ insan yang melakoninya jangan coba-coba gunakan ritual cepat. Size dan endurance organ pelaku utama do matters !
Harimau dengan rahang yang kuat dan tangguh, pastilah bukan saingan seimbang bagi kuda atau antelope kijang liar. Tapi keunggulan kompetitif kuda yang menggiring pemangsa sprint di padang liar atau manuver belokan tajam antelope mampu menyelamatkannya. Harimau harus pulang sarang menunduk menjadi PeHaPe bagi anak-anak manjanya yang keroncongan. Harimau tidak memiliki endurance bersaing dengan kuda atau kijang.
Dalam head-to-head fight, di mana dua pihak terjebak di palagan sempit, maka size ditambah strategi menjadi penting. Harimau atau singa, tidak akan mudah memangsa anak-anak banteng, selama anak anak itu solid dalam lingkaran, dan induk banteng dengan gagah mengoptimalkan intimidasi dengan tanduknya yang kokoh. Kita miris membaca berita bulan April yang lalu. Dua orang Pelaut – Petugas Resmi Penegak Kedaulatan Negara RI di laut, malah dimangsa dan dibunuh oleh nelayan asing yang maling di teritori kita yang sah ketika mengusir kapal asing tersebut di laut Natuna (http://www.thejakartapost.com/news/2014/04/05/indonesia-and-problem-illegal-fishing.html). Kita tidak berbuat banyak. Malah cenderung mendiamkan atau mencari solusi damai. Apakah ini karena doktrin zero enemy, atau karena menyadari kemampuan persenjataan kita yang jauh tertinggal di belakang maling garong kapal nelayan asing tersebut, Wallahu alam. Sakitnya tuh di sini Pak. Dimana dignity Dan harga diri kita sebagai bangsa ?.
Maka bersyukurlah kita, ketika Pak Jokowi memerintahkan Menteri Susi dengan dukungan angkatan laut untuk menenggelamkan para intruder itu. Selain shock therapy, itu adalah deklarasi yang memulihkan dan mensquare harga diri kita sebagai bangsa bahari. Ini dadaku !. Don’t mess with Indonesia. Ini juga adalah modal yang kuat untuk menyatakan kepada bangsa-bangsa tetangga yang akan menjadi saingan sempurna kita dalam konteks Masyarakat Ekonomi Asean (2015) maupun AFTA (2020). Tone tag messagenya jelas : Kami siap bersaing, bertanding dan bersanding dengan Saudara-saudara. Tapi mari kita lakukan dengan fair !.
Kalau dipikir-pikir, MEA maupun AFTA adalah kebijakan sangat pede yang mengundang persaingan yang ketat dari Negara tetangga sebagai efek campaign globalisasi. ASEAN meliputi wilayah 4.46 juta kilometer persegi, dimana wilayah lautnya tiga kali lebih luas dari daratan dengan populasi sekitar 600 juta, serta kombinasi Gross Domestic Product lebih dari 2,3 triliun US dolar. Sebagai satu kesatuan, ASEAN merupakan kekuatan ekonomi ketujuh terbesar di dunia, setelah Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, Jerman, Perancis dan Inggeris raya. Di ASEAN dari segi apapun, dalam ukuran (size) kita unggul. Tetapi apakah keunggulan ini dapat kita manfaatkan untuk keunggulan geopolitics dan geoeconomy berpulang kepada kita. Apakah kita akan mampu penetrasi ke pasar ASEAN, atau malah mereka yang menjadi saudara pemangsa yang ramah berevolusi sebagai penjajah ekonomi terbaru di halaman rumah, kitalah yang menjawabnya. Janganlah terulang pengalaman Tiongkok di penghujung abad 19 yang besar meraksasa tetapi hanya menjadi the sick man of Asia, makanan empuk negara negara Barat yang jauh lebih kecil. Ingatlah kata-kata Chairil Anwar – “ kaulah kandil kemerlap, menjadi pelita di dalam gelap. Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi “. Kita lah yang harus mempersiapkan software (regulasi, sumber daya manusia yang unggul, perilaku kedisiplinan dan mentalitas entrepreneurship) maupun hardware (infrastruktur, produk unggulan, sarana dan prasarana) yang tepat.
Kita harus optimis. Kita memiliki kemampuan untuk itu, dan itu telah teruji. Sebagai sebuah contoh, dalam majalah SWA baru-baru ini (http://swa.co.id/youngsterinc/tiga-sang-pemanah-logo) dilaporkan bagaimana satu keluarga pemegang merek fashion Logo berhasil eksis berekspansi di pasar pakaian jadi/ garmen pada segmen pasar yang pas. Sang ayah berhasil dalam proses mendidik dan mentransformasi anak-anak generasi penerusnya yang relatif masih muda pada usia 30 an dengan pendidikan, ketrampilan dan attitude yang terukur menjadi entrepreneur yang diperhitungkan peer pesaingnya di gerai gerai besar di seluruh Indonesia. Menghadapi persaingan dan tantangan terbuka yang akan datang mutlak diperlukan inovasi kreatif dan tim building yang kuat, untuk memetakan, merumuskan dan mengeksekusinya dalam surfing over the waves. Sektor garmen adalah front liner padang Kurusetra terbuka di belantara persaingan MEA dan AFTA yang akan datang. Kita berharap para entrepreneur muda ini dapat mengikuti tradisi raksasa-raksasa sebelumnya seperti Lippo, BCA atau Kalla grup yang tidak saja berhasil mewariskan tradisi ketangguhan pebisnisnya ke generasi berikut, tetapi mampu menembus dan penetrasi pasar luar negeri.
Untuk itu diiperlukan konsepsi kebijakan, strategi dan upaya yang komprehensif, integral dan holistik dari pemerintah yang harus mendapat dukungan seluruh pemangku kepentingan. Sudah tidak saatnya ber solo dancing. Mari bergandengan tangan – hand in hand across the meadows. Tidak boleh lagi ada sekat dan ego sektoral ibarat burung merak yang penuh fata morgana atau burung unta yang permisif. Bharatayuda di depan mata. Dalam perang bharatayuda salah satu key kemenangan memenangkan war (peperangan) yang menguras tenaga dan stamina, di tengah nyinyir darah kalah menang dalam babak-babak pertempuran (battleship) adalah penyesuaian jajar, gelar pasukan, senjata dan kesatrya yang diturunkan. Seluruh perlengkapan priyayi berupa wisma, wadhoya, turangga, kukila dan curigo digelar sebagai satu kesatuan komando keris tangguh.
Citius, Altius, Fortius. Lebih cepat, lebih tinggi, lebih kuat. Ibarat motto olimpiade. Kombinasi vektor yang optimal dari kebijakan yang diambil Pemerintah dan dukungan luas seluruh masyarakat adalah harapan kita menyambut pertandingan tahun 2015. Marilah kita songsong tahun yang baru dengan positif, penuh kegairahan dan kegembiraan. Ibarat di sepak bola, gol-gol cantik itu sering tercipta kalau tim bermain dengan gembira. Selamat Tahun Baru

Jakarta, Desember 2014